Surga itu kecil

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 November 2016
Surga itu kecil

Suatu ketika, sepulang dari kantor dan ngopi dulu di warung samping kantor, saya memacu motor kesayangan saya menuju rumah. Mungkin sekitar jam 7 atau selepas isya. Di separuh jalan, ada motor lain yang mendekat ke arah motor yang saya kendarai, waktu itu saya sempat berpikir bahwa motor dibelakang itu adalah kawan yang mencoba mencandai saya, atau gangs motor yang coba mengganggu. Ternyata, pengendara motor tadi mendekati dan sedikit berteriak, memberitahu bahwa resleting tas saya terbuka. Saya menepi, memperbaiki resleting tas saya yang terbuka, lalu laju meneruskan perjalanan.

Lain waktu, pada bulan Ramadhan tahun lalu, usai berpesta pora di kantination, satu tempat ngopi lain di kota Bandung, saya pulang menuju rumah sekitar jam 11 malam. Hampir tengah malam. Sebelumnya, motor saya parkir di pelataran, kehujanan dan kedinginan. Begitu jam pulang nongkrong, saya nyalakan motor, dan menembus malam yang dingin dan gelap, menikung di jalan Banda menuju samping kiri Gedung Sate, menunggu lampu merah berganti lampu hijau di pertigaan jalan Diponegoro. Motor saya mati mesinnya, tak mau lagi menyala, tak bisa lagi saya tunggangi. Malam-malam, tak mungkin saya call a friend, saya dorong.

Tepat setelah melewati Gasibu yang berseberangan dengan halaman Gedung Sate, kembali satu motor mendekati saya yang sedang mendorong motor. Satu motor mereka ditumpangi dua orang. Saya mencoba mengingat kembali jurus Cimande, jaga-jaga barangkali mereka begal yang bukan hanya meminta harta. Ternyata saya salah duga, mereka justru menawarkan bantuan.

Habis bensin, A?

Mogok.

Di step ya?

Oia. Nuhun.

Di step artinya didorong pakai kaki dari motor lain sementara saya bisa naik motor saya dalam keadaan mesinnya mati. Yang mendorong kaki si pengendara di motor lain, ke step belakang motor saya.  Hanya beberapa meter, karena pemotor tadi dan saya berbeda arah di pertigaan selanjutnya. Saya mendorong lagi motor, gerimis mulai turun. Saya seperti kerdil di semesta dunia.

Tak lama berselang saya mendorong motor, ada lagi yang mendekati. Memberi bantuan step lagi. Dua kali malam itu saya diberi bantuan oleh orang yang tidak saya kenal, malam hari, gerimis turun. Saya lelah.

Pemotor yang satu ini membantu saya, beberapa meter hingga perempatan. Lumayan. Saya dorong lagi hingga menemukan bengkel. Lewat dini hari. Saya pulang sampai rumah dengan menggunakan jasa ojek, motor saya percayakan di bengkel yang sudah tutup tapi teknisinya masih bangun dan mau menampung motor saya.

***

Kawan-kawan saya yang baik hatinya, dari dua kejadian tadi, saya jadi –katakanlah- berpikir, jangan-jangan yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti adalah amalan-amalan seperti ini. Hal-hal kecil yang tanpa modal. Bukan rupiah yang kita masukan ke kencleng masjid yang sedang renovasi, bukan iuran qurban sapi, bukan tabungan umroh yang bisa jadi terselip entah di bagian hati yang mana rasa ria dan sombong bersembunyi.

Dan mudah-mudahan, kita percaya bahwa tuhan tidak akan menukar surganya dengan nyawa anak kecil yang bahkan belum menstruasi bernama Intan Olivia Marbun.


  • otong 
    otong 
    1 tahun yang lalu.
    ngga ada gambarnya

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    1 tahun yang lalu.
    Kak, ini sengaja thumbnail warna putih??

    • Lihat 17 Respon

  • Fitriane Lestari
    Fitriane Lestari
    1 tahun yang lalu.
    iya bisa jadi..

  • Mochamad Syahrizal
    Mochamad Syahrizal
    1 tahun yang lalu.
    - Superhero tak berjubah -

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    #RIPIntan