Rangga, Dilan dan sesuatu bernama mimpi

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 November 2016
Rangga, Dilan dan sesuatu bernama mimpi

Sekitar tahun 2002 muncul dua film yang menjadi perbincangan di kalangan komunitas, yang pertama adalah Ada Apa Dengan Cinta dan yang kedua adalah Beth. Keduanya sama dibintangi oleh artis muda cantik berbakat, yang satu menjual Dian Sastro, yang lain menjual Ine Febrianti. Saya, menonton yang kedua.

Pada kisaran film itu bergulir tayang di bioskop, mudah sekali menemukan lelaki pendiam dan menenteng buku, kebanyakan tentu adalah buku sastra. Lalu, Rangga –tokoh lelaki dalam film Ada Apa Dengan Cinta- menjelma menjadi semua lelaki pada waktu itu. Anak-anak perempuan SMA berlomba mencari yang seperti Rangga yang cool, yang paham puisi, yang tatap matanya tajam, yang rambutnya kriwil-kriwil di depan.

Jauh berselang dari Rangga dan Ada Apa Dengan Cintanya yang pada tahun 2016 dibuatkan sekuelnya lahirlah Dilan. Anak Gang motor yang masih SMA, melakukan banyak hal dengan caranya, dan mencintai Milea. Dilan hadir dengan media buku novel yang meski ditenggarai sebagai cerita nyata penulis, Pidi Baiq, penulis buku Dilan selalu mengenyampingkan soal siapa itu Dilan sebenarnya.

Sejak diunggah berkala di halaman blog, Dilan menjadi sosok yang dicari dan dinanti kaum hawa, terlebih setelah bukunya diterbitkan, penjualan Dilan ; Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 (Seri pertama Dilan) melejit serupa harapan hawa akan sosok lelaki yang sangar tetapi sekaligus baik.

Para pengagum Rangga dan Dilan memiliki kesamaan yang bisa jadi ini merupakan karakter kita sebagai masyarakat Indonesia. Yang dikesampingkan oleh mereka pengagum Rangga dan Dilan adalah kesiapan mental menjadi Cinta yang harus dongkol berulang kali karena sifat dingin Rangga juga kesiapan mental menjadi Milea yang harus begitu paham kapan Dilan serius dan kapan Dilan bercanda. Hal ini yang selalu tidak dimiliki oleh kita. pengetahuan akan resiko yang terkandung dalam satu keinginan. Sama persis seperti gema novel dan film Laskar Pelangi meledak dan seolah menjadi perwakilan setiap pendidik di seantero Indonesia, tapi minus semangat Bu Mus dan Pak Harfan.

Selalu ada risiko, wadal, tumbal dari setiap perubahan yang kita harap akan memperbaiki diri kita. Hijrah akan selalu meminta pengorbanan, memimpikan sesuatu tanpa menimbang kemampuan diri sama saja dengan bunuh diri.

  • view 226