Dendam Nyi Gelarwangi

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 November 2016
Dendam Nyi Gelarwangi

Dendam Nyi Gelarwangi kepada Pangeran Telagajati sepertinya tidak akan tunai sebelum lelaki pembunuh suaminya itu ikut mati juga. Bertahun-tahun Nyi Gelarwangi mengasah ilmu silatnya di Air Terjun Empat Naga, berguru kepada Sainunjing, seorang guru silat tak tertandingi yang datang dari negeri jauh nun di seberang selatan sana. Nyi Gelarwangi sudah bersumpah, akan menuntaskan dendamnya sendiri, oleh tangan dan pedang yang terhunus olehnya. Sejak mengetahui bahwa Pangeran Telagajati adalah orang yang menyebabkan nyawa suaminya hilang, Nyi Gelarwangi telah bersumpah.

Dari kejauhan air terjun setinggi pohon asam tertua itu terlihat jatuh menumbuki tubuhnya yang telanjang di bawah, Sainunjing berdiri memerhatikan dari atas batu di pinggir sungai. Matanya sipit, rambutnya panjang terurai hitam dan putih. Terlihat seperti kilatan perak. Nafasnya begitu tenang, telinganya awas dan kakinya seperti tertanam bersama batu. Sekelebat ia menoleh ke kanan, lalu mengarah ke depan ke arah muridnya. Sebongkah kerikil dengan cepat menuju Nyi Gelarwangi, menyerangnya tanpa suara.

Siuutt....

Secepat kilat, Nyi Gelarwangi mengelak, menggerakan pundaknya yang basah. Kerikil menabrak air terjun.

“Nyai...” Sainunjing memanggil muridnya pelan, lalu berlalu menuju gubuk mungil di balik rimbun pepohonan. Nyi Gelaswangi bangkit, merauh pakaiannya, secepat kilat sudah melekat di tubuhnya.

“Nyai, sepertinya kau sudah lama berada di Air Terjun Empat Naga. Pulanglah dan tunaikan hajatmu, tinggalkan aku dan biarkan aku sendiri.” Kata gurunya itu sambil duduk bersila, menikmati makan malam berupa sagu dan air ramuan dedaunan penghangat tubuh.

“Apa semua sudah cukup? Apa ilmuku sudah bisa menandingi dia?” Tanyanya, masih meragukan kemampuannya sendiri.

“Siapapun yang akan unggul dalam pertempuran, sesungguhnya juga berada dalam pihak yang kalah. Aku sudah kalah beribu kali dalam hidupku, sebabnyalah aku berada di sini.”

“Apa lagi bakti yang bisa kuberikan, guru?”

“Mengertilah akan dirimu sendiri, pergilah sebab itu adalah bakti seorang murid pada gurunya.” Sainunjing memasuki pondoknya, berjalan dan menimbulkan suara berderit pada lantai bambu. Nyi Gelarwangi melantunkan lamunnya sendiri.

Memang, sainunjing adalah pesilat yang sudah makan asam garam kehidupan dunia persilatan. Sebagian mengatakan bahwa Sainunjing adalah panglima perang di negeri jauh, membunuh banyak prajurit musuh sendirian dalam kepungan ketika tersudut, mempin ribuan prajurit perang kerajaan untuk menaklukan kerajaan tetangga yang membangkang dan mewarisi pedang paling mematikan yang pernah dikenal dalam dunia persilatan. Konon, Sainunjing dituduh berkhianat pada kekaisaran, berselingkuh dengan istri raja dan ditenggarai akan melakukan makar. Sainunjing lalu lari, meninggalkan kekaisaran bersama pedangnya, meninggalkan ribuan prajurit yang biasa dia pimpin. Dalam pelarian, Sainunjing menemukan banyak sekali pesilat yang menginginkan nyawanya, pesilat-pesilat dari berbagai arah mata angin, kebanyakan adalah mereka yang pernah ditaklukan, sisanya adalah yang berharap imbalan dari kekaisaran.

“Kau! Sainunjing! Di tanah lapang inilah nyawamu akan meninggalkan ragamu sendirian.” Seorang berkepala plontos menunjuknya dengan pedang berbilah lebar, dengan ujung pedang bercabang dua menyerupai lidah ular.

“Aku tak ingin mengetahui namamu atau dari mana kau berasal, kau bukan orang pertama meski aku harap selalu yag terakhir. Lebih baik kau menyingkir sebelum semuanya terlambat.” Ujar Sainunjing tak mengihiraukan lawan bicaranya.

“Sombong!” Si plontos berlari, menjulurkan pedangnya ke arah jantung Sainunjing, tepat pada apa yang diinginkannya.

Sainunjing mengelak, melompat menuju batang ranting pohon yang agak kokoh, menjadikannya tumpuan dan berbalik ke arah penyerangnya. Sekelabat, tangannya menghunus pedang, lalu menutupnya kembali. Dan berlalu, si plontos tinggal namanya saja.

Ketika pertama kali datang dan mendiami Air Terjun Empat Naga, Sainunjing dalam keadaan terluka parah, tubuhnya penuh sayatan, anak panah masih menancap di lengan kanannya, jalannya pincang. Dia berendam di bawahnya selaman dua hari tanpa jeda, membiarkan darahnya mengalir bersama air hingga sembuh. Tak sampai pohon umbi berbuah, semua luka sudah mengering, sainunjing memutuskan untuk tinggal di sana selamanya.

Nyi Gelarwangi, dengan tekadnya yang sudah bulat dan utuh berjalan menyusuri lembah dan gunung, desa dan pasar. Pangeran Telagajati anak tertua Raja Mandalasari, sejak bertahun-tahun lalu dititah untuk memimpin pasukan, menumpas pemberontakan dan melakukan penaklukan. Dada bidang dengan bulu dan perut yang tak berlemak lebih terbuka tanpa penutup, tangan kekar dan kuda-kudanya selalu terjaga, kumisnya tebal dan hitam. Bermahkota anak raja, tak ada yang tak silau terhadapnya. Ilmu silatnya merupakan yang terbaik, pemberontakan demi pemberontakan sudah ia tumpas, sekian kerajaan kecil sudah ia taklukan.

Pertemuan Pangeran Telagajati dengan Suami Nyi Gelarwangi sudah begitu lama, sudah tak diingatnya lagi. Saat itu adalah tahun-tahun pertama ia dititahkan untuk menumpas pemberontakan dan melakukan penaklukan. Raden Muarajingga adalah raja di Ladanglapang, kerajaan kecil dekat hulu sungai yang mengalir sepanjang tahun. Pagi ketika bayangan matahari separuh bentuknya, Pangeran Telagawangi bertamu, membawa lima pengawalnya bersenjata lengkap.

“Raden, kerajaan ini terlalu kecil, dan kehidupan terlalu besar untuk terus bersembunyu di tempat seperti ini.”

“Pangeran Telagawangi yang bijak, kami memang mengharapkan kehidupan yang tenteram dan sunyi di sini. Tak banyak yang kami ingini, kami hanya ingin hidup berdampingan satu sama lain.” Tukas Raden Muarajingga.

“Lebih baik mari bergabung bersama kami, menjadi besar dan saling mengindahkan satu sama lain. Kerajaanmu hanya perlu melakukan pengakuan. Tak ada upeti perlu kalian berikan.”

“Pengakuan?” Tanyanya.

“Pengakuan, bahwa kerajaanmu berada di bawah kerajaan kami, termasuk ada dalam wilayah lindungan kami.”

“Perlindungan dari apa, Pangeran Telagajati? Kami tak merasa terancam.” Katanya tegas.

“Dunia ini begitu luas, entah esok atau lusa, serangan bisa saja datang dan meluluhkan kerajaan.”

“Pangeran mengancam?” Dia memegangi dada kirinya. Beberapa pengawal kerajaan menghampirinya, menyodorkan kendi berisi air dan memintanya tenang.

Suasana menjadi riuh, Raden Muarajingga menahan sakit sendirian. Pangeran Telagajati merasa canggung, ditatapnya Nyi Gelarwangi yang sedang menopang kepala Raden Muarajingga dengan tangan kanannya yang berkilau.

“Kami pamit, kami canggung dengan keadaan. Kami tak melakukan apa-apa selain berbicara.” Mereka lantas berlalu. Meninggalkan keriuhan dan kenangan pahit bagi Nyi Gelarwangi, hingga sekarang.

Dan hari itupun datang, hari yang sudah diharapkan begitu lama oleh Nyi Gelarwangi, hari pembalasan yang menyakitkan. Nyi Gelarwangi berjalan tak kenal lelah menuju kerajaan yang ia tinggalkan dulu, merebut kembali tahta dari budak Pangeran Telagajati dan menimbulka kekacauan hingga terdengar kabar oleh Pangeran Telagajati adanya pemberontakan. Tak lama, dengan sedikit pasukan, Pangern Telagajati menyambangi kerajaan kecil di hulu sungai.

“Nyai?” Begitu mengetahui bahwa Nyi Gelarwangi adalah pemberontak yang sedang menjadi buah bibir.

“Kau harus mengganti nyawa suamiku.” Tangannya menuding.

“Suamimu mati bukan karena aku, Nyai.”

“Seandainya kau tak datang dan tak meminta yang bukan milikmu, kau tak akan mengadapiku hari ini.” Tangannya masih menuding.

“Nyai...” Belum usai Pangeran Telagajati berbicara, Nyi Gelarwangi telah menghunus pedangnya, menyerang dengan gesit.

Pangeran Telagajati mengelak, beberapa pengawalnya yang ikut terdepan ikut melindungi. Tangan Pangeran Telagajati mengisyaratkan agar yang lain menyingkir, memberi kesempatan kepada mereka berdua.

Mau atau tidak, mereka harus bertarung, apapun latar belakangnya.

Dengan segenap keyakinan dan ilmu yang sudah dimilikinya, Nyi Gelarwangi menghujani Pangeran Telagajati dengan serangan yang begitu cepat. Tangannya menebaskan pedang, kedua kakinya lincah mencari sasaran. Selalu gagal, sang lawan selalu jauh lebih cepat.

Sepeminuman teh mereka bertarung, Pangeran Telagajati masih terlihat begitu tenang meski tenaganya sedikit terkuras menghindari serangan dan meladeni pertempuran.

“Nyai, sudahlah. Seperti yang aku katakan dulu, kau pimpin kerajaan ini, bergabung denganku.”

“Bukan itu yang aku ingin, yang aku ingin adalah nyawamu!” Sergahnya. Nafasnya mulai terengah-engah karena serangan cepat yang menguras tenaga.

“Dalam sekali tindakan, aku bisa saja membunuhmu.”

“Lalu kenapa belum kau lakukan.”

“Aku hanya...” belum selesai Pangeran Telagajati berbicara, Nyi Gelarwangi melihat celah kosong pada kuda-kuda lelaki itu, secapat kilat ia lemparkan lempeng besi tipis beracun serupa mata tombak tepat pada jantung lelaki yang lalai. Tak terhindar dan tepat menancap dengan tegas. Lelaki itu ambruk, beberapa saat mengerjapkan matanya, mencoba berbicara, mencari pengawalnya, tangannya menggapai-gapai. Racun mematikan yang sudah dipersiapkan sejak lama akhirnya harus dipergunakan, jalan terakhir untuk membunuh Pangeran Telagawangi. Licik.

Beberapa pengawal yang mengetahui keadaan tuannya berhamburan masuk menuju arena pertarungan yang berupa sisa kerajaan. Mereka menyapu pandangan, mencari lawan bertarung tuannya, tak mereka dapati. Tak juga bekasnya. Pangeran Telagawangi melepas nyawa.

  • view 215