(Bukan) Perihal Ahok dan 411

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 November 2016
(Bukan) Perihal Ahok dan 411

Katakan saja, tulisan ini sekedar usaha saya melemaskan kembali jemari sehabis menjadi begitu tegang selepas pekerjaan yang begitu menguras energi dan waktu di Surabaya selama tiga kali rabu sebelumnya. Tak begitu banyak kesempatan untuk menulis, apalagi berpikir. Sehingga, kawan-kawan tak perlu ambil pusing dengan isi tulisan saya kali ini, tak perlu anggap apa yang saya tulis sebagai sesuatu yang begitu penting.

Iya sih, linimasa facebook saya padat dengan agenda 4 Nopember yang gegap gempita itu. Sebagian kawan yang saya kenal begitu merah dan membara mewartakan kegiatan dan perkembangan kegiatan tersebut. Ada yang berangkat ke Jakarta, ada yang berangkat hanya dengan kuota internet di telepon seluler. Ada yang mencoba tetap teguh pada pendiriannya bahwa aksi 4 Nopember tersebut adalah sebuah hal yang –jika tak disebut salah- keliru.

Lalu, saya sebagai penulis pemula dan buta akan keadaan politik, sosial dan budaya nusantara perlu angkat pendapat melalui tulisan? Seperti sudah saya tuliskan di awal, tulisan ini sekedar upaya saya mengembalikan jemari yang terlampau tegang sebab lama tak menulis.

Belakangan, dari sepasang mata saya yang pandir ini saya melihat berlahiran dengan prematur mufasir-mufasir dadakan yang entah dengan semangat apa begitu mendalam mencari tafsir dari “ayat tahun ini”. Belakangan, “kalimat tahun ini” juga begitu kerap muncul memenuhi ruang baca dan dengar kita. Penista/penistaan agama. Tentu, jika mau adil dan melihat pada spektrum umum, kelakuan institusi negara lewat aparatnya yang menghilangkan paksa, membunuh dan perampasan tanah adalah juga adalah suatu tindakan menista agama, sebab pemerintahan dalam bentuk apapun haruslah berdasar pada keadilan. Keadilan yang memiliki persepsi persamaan hak dan perlakuan yang proporsional terhadap semua rakyatnya. Jika tidak, maka tentara Allah yang akan meluruskannya. Seperti gores pedang Umar bin Khattab pada belulang yang merupakan pesan bagi Amr bin Ash. Tetapi, demi Allah, gores pedang tersebut tidak berlandas pada kebencian, melainkan berlandas pada kecintaan.

Tapi tentulah, saya tak punya kepentingan dengan setan pemenggal leher ladang rejeki para nelayan Muara Angke bernama Ahok. Saya tak memiliki keterkaitan apapun dengan bangkai demokrasi yang juga menjadi jalan para pemimpi khilafah untuk menyampaikan pendapat. Meski pada akhirnya, pertanyaan yang sama ketika Si Ganteng Ariel masuk bui menggantung di kerongkongan. Pertanyaan yang sama tak perlu saya sampaikan tapi pada akhirnya tersampaikan juga dengan atau tanpa maksud apapun.

Pertama, bukankah sudah terkonfirmasi bahwa video yang beredar adalah video hasil editan bernama Buni Yani yang tak pernah dengan sengaja saya cari tahu siapa orang ini. Pada video atau dialog aslinya, Ahok jelas menyampaikan pernyataan politis, bukan SARA/Agama. Sebab yang bersangkutan adalah politisi dan politisi manapun akan juga melakukan hal yang sama dengan Ahok, yaitu membuka senjata lawan kompetisinya. Saya cek lagi video tersebut di youtube untuk memastikan bahwa pernyataannya adalah politis.

Kedua, bukankah juga proses hukum sedang dijalankan? Dibuktikan dengan pemanggilan Habib Riziek Shihab sebagai saksi ahli sehari sebelum aksi. Artinya, benar atau tidaknya ada tindakan hukum terhadap Ahok, prosesnya sedang berjalan. Mengenai rinci pelapor, tanggal laporan dan lain hal sebagainya silahkah cari sendiri.

Ketiga, katakanlah saya buta mengenai proses tata hukum kenegaraan, tapi, kenapa aksi 4 Nopember menuntut pada presiden agar Ahok dipenjarakan? Poin ketiga bagian pertama, kenapa presiden yang diminta memenjarakan Gubernur? Ini saya benar-benar buta. Apa hukuman terhadap seorang Gubernur harus dengan ijin Presiden? Saya memang benar-benar tidak paham Tata Negara sejak hal tersebut menjadi mata pelajaran khusus ketika masih sekolah. Poin ketiga bagian kedua, mengutip pernyataan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.. seorang pakar hukum tata negara pada suatu ketika bahwa pengadilan adalah tempat untuk mencari keadilan. Artinya, bukan tempat untuk mengadili dan menghukum sesuai selera.

Sehingga, barisan status di linimasa facebook saya yang begitu merah itu membuat saya harus beralih ke twitter yang penuh dengan berita Persib dan Manchester United yang sedang butut-bututnya.

  • view 203