Riwayat Ming dan Cok - Edisi 5

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 01 November 2016
Riwayat Ming dan Cok

Riwayat Ming dan Cok


Ming dan Cok bertemu setiap senin di teras warung kopi di kota London. Berkawan dan berbincang tentang apa saja. Copyleft.

Kategori Fiksi Umum

1.4 K Tidak Diketahui
Riwayat Ming dan Cok - Edisi 5

Tengah malam sudah berlalu, separuh orang sudah meninggalkan tempat Jhonny Bangkok bertarung, Ming dan Cok berada di pelataran, menghabiskan botol terakhir bir mereka. Satu dua orang melewati mereka, suara sepatu bergesek dengan aspal yang kasar. Lampu redup bar mulai dimatikan satu persatu. Sisa pesta hanya terlihat dari mereka yang menyeruak keluar dari pintunya saja. Dan suara bising dari mulut berbau alkohol.

“Aku pikir Jhonny bukan hanya petarung, dia orang gila.” Kata Cok.

“Jadi?”

“Dia tidak hanya mencari lawan, dia mencari darah korban. Bahkan setelah lawannya terjatuh, dia masih menghabisinya.”

“Jhonny memang begitu. Katanya semacam menuntaskan dendam.”

“Dia terlihat tidak seperti manusia. Dia monster.”

“Dia dibawa dari bangkok masih berupa bayi merah, lalu dilelang. Menjadi barang dagangan, berpindah dari mafia satu ke mafia yang lain. Disiksa habis-habisan, disodomi banyak lelaki, dan dipersiapkan menjadi petarung oleh tuan terakhirnya.”

“Disodomi?”

“Konon, dia tidak suka perempuan.”

“Homoseksual?”

“Dia juga tidak suka pemerkosa. Beberapa orang mengatakan, dia pernah merebut terdakwa pemerkosaan dari tangan polisi, lalu menghajarnya hingga mati.”

“Gila!”

“Tulang mukanya patah semua, wajahnya tak berbentuk.”

“Monster. Dia monster, Ming.” Cok hampir muntah.

“Hey, kau tahu di mana kita menyimpan mobil? Aku lupa.” Ming menoleh keberbagai arah.

“Mobil?”

“Kita kesini meminjam mobil saudaraku, Cok. Kau ingat? Mobil butut yang berisik dan ringkih.

“Aku tak ingat. Aku rasa kita menumpang bus.”

“Bilang apa kau, Cok? Kita pakai mobil.”

Mereka berdua bangkit, mencari mobil tua yang sudah mengantarkan mereka. Tak mereka temukan, bahkan setelah mengitari lapangan parkir beberapa kali.

“Ming, apa kita harus mencari tumpangan untuk pulang?”

“Mobil kita kemana?”

“Sudahlah, jangan risaukan. Mobil tua. Saudaramu tak akan marah.”

“Ah, Sial!”

“Yang penting kita bisa pulang, dengan atau tanpa mobil itu.”

Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan sepi dan basah, menyeret kaki masing-masing dalam keadaan yang lelah.

“Kita harus pulang, Ming.”

“Berisik, Cok!”

  • view 173