Riwayat Ming dan Cok - Edisi 4

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Riwayat Ming dan Cok

Riwayat Ming dan Cok


Ming dan Cok bertemu setiap senin di teras warung kopi di kota London. Berkawan dan berbincang tentang apa saja. Copyleft.

Kategori Fiksi Umum

1.4 K Tidak Diketahui
Riwayat Ming dan Cok - Edisi 4

Tempat yang dituju Ming dan Cok adalah ruang bawah tanah satu Bar yang tak begitu ramai oleh pengunjung disiang hari dan selalu ramai dimalam hari. pemiliknya adalah seorang lelaki berjanggut tak rapi dan rambut yang sudah mulai rontok. Gudang bawah tanah itu, selain dipergunakan untuk menyimpan berbagai macam minuman, juga dipergukanak untuk menyimpan barang dagangan para mafia kecil. Juga untuk pertunjukan Jhonny Bangkok.

Ming dan Cok kini berada di antara orang lain yang juga datang dari jauh untuk menyaksikan Jhonny Bangkok, bersama pengapnya ruang dan bau amis darah yang begitu kental tercium. Mereka semua berbicara dengan dialek yang berbeda satu sama lain, pertunjukan Jhonny Bangkok memang tidak khusus hanya untuk orang tertentu saja.

Ditengah ruang bawah tanah itu, telah dibuat melingkar semacam kandang dengan kawat sebagai pembatasnya, kawat itu dialiri listrik dan berduri. Tak ada seorang pun yang pernah bernyawa keluar dari lingkaran berkawat tersebut kecuali Jhonny Bangkok. Semua mati, jika tak karena kawat pembatas, berarti mati karena bertarung. Semua diseret keluar dan dibuang ke laut dari atas dermaga di kota lain yang sangat jauh.

Ketika pertama kali Cok melihat Jhonny Bangkok, darahnya langsung berdesir, dalam benaknya berkata, inilah pembunuh berdarah dingin itu.

“Kau mau bir, Cok? Aku ambilkan? Aku yang traktir.”

“Jika ada yang lebih keras boleh. Aku lebih suka alkohol dengan dosis yang lebih tinggi.”

“Pemabuk.”

“Tak selalu mabuk.”

“Peminum.”

“Hanya sesekali.”

Jhonny meminta penonton tak berisik, menempelkan jari telunjuknya di depan mulutnya. Semua penonton diam, lalu datanglah dari pintu atas seorang lelaki berperawakan tinggi dan besar berotot. Separuh giginya sudah rontok. Adam Slaves, calon lawan Jhonny Bangkok hari ini.

Ming kembali dengan dua botol bir dingin di tangannya, memberikannya satu ke Cok.

“Hanya bir?” Kata Cok.

“Yang ada saja, itu sudah baik. Minuman di sini tidak terlalu bagus.”

“Kau lihat lelaki itu? Apa menurutmu dia akan mati. Giginya sudah habis, mungkin dihabisi.”

“Dia akan mati, dia tidak akan bisa mengungguli gerak cepat Jhonny.”

“Dunia apa ini?”

“Apa?”

“Works.”

“same shit. Sama saja, kerja apapun sama saja.”

Adam Slaves memasukin kandang beraliran listrik itu, siap terbunuh. Atau membunuh.

  • view 172