Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 20 Oktober 2016   08:33 WIB
Big Bad Wolf Book Sale Surabaya

Entah tiba-tiba atau tidak, tapi belakangan jadi sangat banyak event perbukuan yang begitu mengentak, sangat mewah dan menyedot begitu besar perhatian. Kegiatan jual beli buku yang sebelumnya sangat jarang terjadi di Indonesia. Buku-buku yang tadinya hanya sembunyi di gudang-gudang menunggu giliran tampil kini bahkan tampil telanjang di hadapan konsumen.

Saya sedang berada di Surabaya, mengikuti hampir semua rangkaian acara Big Bad Wolf. Prepare pra-event, preview sale, main event hingga closing nanti. Berinteraksi dengan beberapa orang pelaksana Big Bad Wolf yang didatangkan langsung dari Malaysia dan juga termasuk orang-orang Indonesia yang terlibat di kegiatan Big Bad Wolf Book Sale Surabaya.

Ada sejarah yang bisa ditemukan dihalaman lain mengenai Big Bad Wolf, mengenai sepasang suami istri yang menjadi pengusaha buku, mengenai kenapa mereka tidak menggelar kegiatan di Singapura dan mengenai berapa banyak buku yang mereka bawa ke Indonesia. Saya hanya akan membahas bagaimana mereka bekerja, bagaimana konsumen tak hanya berbelanja di Jatim Expo –tempat diselenggarakannya Big Bad Wolf Book Sale Surabaya dan beberapa hal lainnya. Hanya akan membahas buku dari sudut jual dan beli, produksi dan distribusi.

Rangkaian acara Big Bad Wolf Book Sale Surabaya diawali paling tidak sejak awal Oktober, setelah ijin penyelenggaraan kegiatan keluar dan Jatim Expo dipastikan sebagai tempat penyelenggaraan, kegiatan Pra-Event diawali dengan proses Sorting buku-buku sisa pameran Big Bad Wolf di ICE BSD sekitar dua minggu. Di Basement Jatim Expo yang sama keadaannya dengan Basement manapun, dengan buku yang sangat banyak. Kegiatan sorting melibatkan sekitar seratusan orang lebih pekerja paruh waktu dari Surabaya.

Bahkan sebelum kegiatan Pra-Event selesai, Settup lokasi sudah harus dilakukan, meja-meja dipasang, buku diangkut untuk dipasang, sponsor gelar tikar dan para pejabat kembali dikonfirmasi jadwal kehadirannya. Settup lokasi berlangsung sejak tanggal 17 Oktober selama empat puluh dua jam tanpa henti.

Pra-Event yang dijadwalkan digelar pada hari rabu tanggal 19 Oktober dibuka oleh Gubernur Jawa Timur dan turut dihadii oleh beberapa orang penting dari empat perusahaan yang terlibat dalam acara ini. Big Bad Wolf Malaysia, Metro TV sebagai media partner, PT Jaya Retail Abadi sebagai rekanan lokal, Diandra sebagai penyedia tenaga pekerja dengan jumlah lebih dari lima ratus orang, dan Mizan Publika Group sebagai satu-satunya penerbit lokal yang dipercaya terlibat. Awalnya, tanggal 19 Oktober hanya akan dibuka untuk undangan VIP saja, namun dalam kenyataannya, melihat animo masyarakat untuk memasuki arena bazzar begitu besar dengan antrean diluar lokasi, panitia akhirnya mengijinkan pengunjung umum masuk dan berbelanja. Tak tanggung-tanggung, Preview sale sudah membuat lokasi pameran tak pernah sepi. Benar-benar tak pernah sepi dari pengunjung dan pekerja. Konsumen mondar mandir dengan troley yang sudah penuh, pekerja melakukan menambah terus amunisi dan keadaan di sekitar Jatim Expo begitu macet oleh kendaraan para pengunjung. Saya belum pernah melihat kegiatan pameran buku sepadar ini kecuali di Islamic Book Fair Jakarta. Jam 23:30 bahkan ada tak kurang dari 50 pengunjung yang masih berbelanja, padahal Preview Sale ditutup jam 23:00.

Hari ini, Big Bad Wolf Book Sale Surabaya mulai dibuka untuk umum, mulai jam 09:00 hingga tanggal 31 Oktober jam 23:00 tanpa henti. Tak ada tutup sampai jam terakhir itu, jadi akan ada kemungkinan orang akan berbelanja dengan menggunakan daster dan baju tidur dengan mata yang masih berbelek.

Ada beberapa respon yang diperlihatkan oleh pelaku industri perbukuan nasional menanggapi acara ini. Respon yang tak kalah besar. Gramedia Group misalkan, di beberapa kota, Gramedia melakukan kegiatan buka gudang dengan penjualan yang luar biasa. Jogja, Surabaya dan Bandung gudang Gramedia di buka untuk umum, konsumen dipersilakan masuk gudang untuk membeli buku langsung dengan harga yang begitu murah dan dengan jumlah yang begitu banyak. Karena mekanismenya yang mengijinkan konsumen hanya berada di gudang selama satu jam, antrean di sekitar gudang Gramedia yang dibuka begitu panjang. Orang-orang datang setelah shalat shubuh, menunggu gudang dibuka.

Perkembangan industri dalam bidang jual beli apapun sangat dipengaruhi oleh kreatifitas pelakunya. Inovasi dan akselerasi yang cepat dibutuhkan demi perkembangan dan pertumbuhan bisnis. Hal tersebut, semakin lengkap jika juga didukung oleh fasilitas yang memadai. Big Bad Wolf memilih kota-kota pelabuhan untuk menggelar kegiatannya selama ini, tentu hal tersebut tidak lepas dari keperluan untuk memasukan barang ke kota tempat diselenggarakannya kegiatan, sebab produk yang akan mereka jual tidak hanya sepuluh atau dua puluh truk dengan bak terbuka, tapi lebih dari lima puluh truk kontainer. Selain itu, Big Bad Wolf juga menangkap pasar lain yang selama ini luput dari pengawasan pelaku indutri buku nasional. Mereka menangkap pasar yang tak hanya besar, tapi juga pemegang uang yang gila membaca. Tak sedikit dari konsumen yang berbelanja buku dengan nilai yang fantastis dan membuat iri, tidak satu atau dua juta. Satu orang bisa membawa pulang buku dengan nilai transaksi puluhan juta dan mereka berbelanja buku disaat orang lain sedang tertidur pulas.

Kawan-kawan yang ada, sedang ada dan akan ada di Surabaya ketika gelaran ini berlangsung, saya sarankan untuk datang. Akan sangat banyak buku yang selama ini kita tak pernah tahu bahwa buku tersebut ada.

Info tambahan, kota berikutnya bisa jadi Medan atau Makasar!!

 

Agenda selanjutnya di Surabaya, saya ingin menemui satu orang Bonek yang terlibat dalam bentrok dengan suporter PSMS Medan pada Juni 2009, di Bandung. Bentrok yang berakhir dengan jatuhnya korban meninggal usai laga Play-off antara Persebaya melawan PSMS Medan. Nanti saya tulis juga disini.

Karya : agus geisha