Riwayat Ming dan Cok - Edisi 3

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 17 Oktober 2016
Riwayat Ming dan Cok

Riwayat Ming dan Cok


Ming dan Cok bertemu setiap senin di teras warung kopi di kota London. Berkawan dan berbincang tentang apa saja. Copyleft.

Kategori Fiksi Umum

1.1 K Tidak Diketahui
Riwayat Ming dan Cok - Edisi 3

Setelah masing-masing mengosongkan isi cangkir, Ming dan Cok mengenadarai mobil menuju Manchester. Menunaikan janji pekan kemarin yang tertunda, pertemuan pertama Cok dengan Jhonny Bangkok. Petarung kelas atas di Britani Raya.

Konon, Jhonny Bangkok sengaja dibawa ke Inggris sejak bayi, masih belum genap setahun umurnya waktu itu. Ibunya seorang pelacur dijalanan Bangkok yang ramai oleh pelancong, sempat menikah dengan seorang anak buah kapal berdarah Jawa, tak lama lalu kembali ke jalan.

Jhonny Bangkok dibawa ke Inggris setelah ibunya mati dalam satu pesta dengan para turis yang tak kenal etika, Jhonny muda lalu dijual pada mafia pengedar narkoba.

“Apa kau yakin kau ingin melihat Jhonny bertarung?” Tanya Ming pada Cok yang duduk di sampingnya sambil menghisap rokok.

“Aku yakin. Kau ragu?” Cok mengepulkan asap rokok, Ming mengendarai mobil pinjaman. Mobil tua yang sudah sering batuk ketika menyala.

Muka Jhonny Bangkok dirajah tinta hitam, hampir menutupi semuanya.

“Kenapa orang suka membunuh. Ming?”

“Siapa yang suka membunuh?”

“Orang-orang.”

“Hanya Jhonny yang membunuh lawannya, tak semua orang ikut bertarung.”

“Tapi semua memiliki andil yang sama dalam pertarungan Jhonny.”

“Tak benar juga.”

Setengah perjalanan mereka tempuh, kaleng-kaleng bir berserkan di kursi belakang mobil.

“Orang-orang hanya mencari hiburan, Cok.”

“Hiburan?”

“Ya.” Muka Ming datar menatap ke jalan.

“Hanya hiburan? Gila!”

“Apa yang gila? Hiburan sama saja. Sama ketika kau berjudi atau meminum secangkir kopi.”

Cok membuka kaleng bir baru.

“Hiburan hanya untuk memenuhi waktu yang sering terbuang, orng-orang hanya berbeda dalam caranya saja, Cok.”

Cok biarkan kawannya terus bicara.

“Bentuknya saja mungkin yang berbeda. Orang perlu sesuatu untuk dipikirkan, untuk didukung, untuk sekedar mengisi hati dan pikiran. Lain tidak. Di tempat lain barangkali hanya bermain dengan anak kecil, Cok.”

“Apa hiburan bagi Jhonny menurutmu?”

“Tak ada yang tahu, Cok. Tak ada yang pernah tahu.”

Setengah perjalanan, mereka berpapasan dengan ratusan pendukung tim sepakbola kota. Mengeluarkan kata-kata kotor dan memaki.

Mobil melaju pelan.

  • view 146