Gila Bersama

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Oktober 2016
Gila Bersama

‘Anjing … anjing … anjing.’ Screen saver monitor komputer tak hentinya dari semalam menjadi pemandangan di kamar kecil ini, sementara sepuluh lagu bergantian terdengar tanpa jeda. Roni, Caca, Mahya, dan Apud lelap tertidur tak beraturan berebut posisi nyaman. Dari mulut mereka tercium aroma alkohol sangat pekat, oleh-oleh mabuk semalam. Tiga botol minuman beralkohol ukuran sedang tercecer bersama lima bungkus rokok yang isinya telah tak lengkap, sementara tiga sachet bekas serbuk minuman penambah tenaga berasa kecut ikut menggenapkan kamar ini menjadi Tempat Kejadian Perkara seandainnya polisi menciduk mereka saat ini.

‘Di atas tanah … kita melangkah …’ track nomor tujuh pada playlist winamp komputer mengalun enggan membuat mereka bangun. Matahari yang telah meninggi pun mulai bosan membuat mereka gerah akan keadaan dan sudi membuka mata. ‘Biarlah ku tertidur … biarlah ku tertidur…’ Pure Saturday mengalun menjadi pengiring setiap apa yang mereka impikan. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar oleh seseorang. “Ca … Caca, bangun lo!”

***

Ruas-ruas jalanan Bandung masih terlihat basah oleh hujan yang tadi sore turun dengan deras beberapa saat. Di salah satu ruas jalan di seputaran Dago, di salah satu kios rokok mereka duduk di atas kursi plastik, mengelilingi segelas kopi yang juga diletakkan di atas kursi plastik lainnya.

“Si Caca ke mana sih, kamarnya kok dikunci?”

“Ngapel kali …” Apud yang ada di hadapannya menjawab sambil terus memainkan rokok yang terselip di jari tangan kirinya.

“Ngapelin kambing! Si Yuli kan balik Kamis kemarin?” Melihat temannya memainkan rokok, ia pun mengambil sebatang lainnya lalu menyulut rokok tersebut.

“Kali aja gebetan baru, Ron.” Mahya yang sedari tadi mendengarkan Roni dan Apud sambil tak henti sibuk dengan ponselnya mulai menebak-nebak.

“Ah … tuh dia si monyet!” Apud membuang puntung rokok yang ada di tangannya ke tengah jalan.

Lelaki berperawakan tinggi itu berjalan mendekati mereka dengan tenang. Dari caranya berpakaian dapat dipastikan bahwa dia adalah anak orang kaya. Tangan kirinya menggenggam ponsel seri terbaru.

“Dari mana lo, Kampret?”

“Kosan si Ramdan.”

“Ngapain lo?”

“Butuh CD software gua.”

Pukul sembilan malam setiap malam minggu biasanya mereka berempat telah berkumpul di kios rokok ini. Seperti malam ini.

“Sok software lo, mabok aja yuk …” Roni yang memang dari tadi menunggu Caca memulai pembicaraan tanpa basa-basi.

Yeah, elo … mabok mulu lo ah …” Mahya kini telah selesai dengan ponselnya.

Hayu.”

“Ada berapa lo, Ron ?” Caca ternyata mengamini niat Roni dan mulai menantangnya.

“Lumayanlah, selawe rebu nih.”

“Lo ada, Pud?”

“Ada noban gua, ceban lagi simpenan gua buat besok.”

“Ya udah, gua sama si Mahya belanja dulu, lo berdua tunggu aja di sini. Ke bawahnya ntar aja bareng.”

“Jangan lama-lama lo!”

Caca dan Mahya hilang menjauh dari kios ini, motor Mahya yang mereka naiki dengan cepat mengantarkan mereka menuju daerah pusat Dago. Jalan yang basah karena hujan sore tadi sudah mulai mengering. Malam pun mulai merapat menuju tengahnya. Sekembalinya Caca dan Mahya, mereka berempat langsung menuju kamar kosan Caca yang tidak terlalu jauh dari kios itu.

“Dapet apa aja, Ca?”

“Tiga botol jumbo, dua bungkus rokok, terus campurannya tiga biji.”

“Banyak banget, nambahin berapa lo?”

“Udahlah, yang penting kan mabok, masalah duit bukan problem.”

Tiga botol sekaligus dibuka, lantas dituang ke dalam wadah berukuran sedang. Campuran yang berupa serbuk minuman penambah tenaga berasa kecut pun ditambahkan ke dalamnya. Gelas demi gelas mengantarkan mereka menuju satu dimensi yang samar- samar.

***

“Siapa ...?” Telinga Caca yang memang peka meski dalam keadaan tidur mendengar namanya disebut seseorang dari luar.

“Gua ...”

“Gua siapa?” Keadaannya yang masih setengah sadar membuatnya enggan untuk bangkit.

“Ramdan! Dasar monyet lo!”

“Buka aja, ga dikonci kok!” Begitu pintu terbuka, Ramdan tahu apa yang terjadi semalam sampai subuh.

“Mabok lo?”

“Ngga, si Roni doang yang mabok.” Matanya sembab, mulutnya berbau alkohol, jalannya limbung