Riwayat Ming dan Cok - Edisi 2

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 10 Oktober 2016
Riwayat Ming dan Cok

Riwayat Ming dan Cok


Ming dan Cok bertemu setiap senin di teras warung kopi di kota London. Berkawan dan berbincang tentang apa saja. Copyleft.

Kategori Fiksi Umum

1.2 K Tidak Diketahui
Riwayat Ming dan Cok - Edisi 2

“Hey, sudah lama sepertinya kau disini?” Suara Ming mengejutkan lamunan Cok yang sedari tadi ditemani secangkir kopi murahan London.

“Duduklah. Sudah setengah jam aku duduk di sini dan tak bicara apapun. Asam mulutku.” Timpal Cok meminta Ming duduk.

“Aku pesan kopi dulu.” Katanya.

Seminggu berlalu, dan soren tetaplah sore, waktu yang tepat untuk diam dan menikmati kopi dan menyemburkan asap rokok.

“Jadi, apa yang sedang kau lamunkan, hah?” Ming duduk disamping Cok, menggeser kursi berkaki besi, suaranya berderit sakit.

Cok masih diam, menikmati kepul asap rokoknya.

“Hah?” Ming kembali mencoba mengorek apa yang sedang dipikirkan teman barunya.

“Aku sedang berpikir, bagaimana caranya berhenti berpikir.”

“Ahahahah...” Ming tertawa terbahak. “Aku punya cerita.” Lanjutnya.

“Cerita apa?” Cok seolah tak peduli.

“Akhir pekan ini, aku ingin mengajakmu ke Manchester. Aku ingin kau melihat Jhonny Bangkok.”

“Jhonny Bangkok? Siapa?” Cok tak kenal dengan nama itu.

“Jhonny Bangkok, kau belum pernah dengar nama itu?” Ming merasa heran, nama Jhonny Bangkok yang terkenal dikalangan anak muda Inggris tak dikenal oleh Cok.

“Belum. Siapa dia?”

“Dia petarung. Boxer. Konon dia dibawa ke Inggris ketika masih berumur sepuluh hari dari Thailand. Sengaja dibawa untuk menjadi petarung jalanan dan menghasilkan banyak uang untuk mafia.” Ming bersungut-sungut. “ Jhonny Bangkok itu, jika sudah bertarung, bahkan gerak tangannya tak pernah akan bisa kau tangkap dengan matamu. Geraknya cepat dan mematikan.” Lanjutnya.

“Kau melihat sabung manusia?”

“Iya. Mereka keren! Kau bisa melihat mereka mempertahankan nyawa hingga darah penghabisan. Kau bisa melihat orang sekarat dengan darah meleleh dari pinggiran mulutnya. Kau bisa melihat manusia meregang nyawa.” Ming meludah. “Itu keren!” Ming meludah lagi.

“Psyicho you fuckin’fuck!” Cok meludah kini. “Kau tahu? Aku tak pernah melihat darah dengan cara seperti itu, tak akan pernah. Brengsek! Kau membuatku mual!” Cok meminum sisa kopi dalam cangkirnya. “Kau ini manusia macam apa, Ming? Hah?” Cok mengutuk.

“Apa bedanya dengan pemilu, hah? Sama saja. A fuckin politic madness, ye!”

“Apa kau bawa-bawa pemilu?” Cok tak mengerti.

“Ya. Sama saja, apapun dalam hidup sekarang sudah ada dalam kegilaan. Apapun yang kita lihat dan lakukan sama gilanya. Kita hanya tinggal menunggu air bah datang menenggelamkan kita seperti yang terjadi pada kaum Moses.

Cok mengernyit, meludah. Memasrahkan tubuh cekingnya pada senderan kursi yang ringkih.

“ayolah. Akhir pekan kita lihat Jhonny Bangkok. Sesekali aku ingin melihat hal yang tak biasa. Dan ini London yang membosankan.”

Cok dan Ming meludah, memesan cangkir kedua kopi mereka.

 

*ilustrasi oleh Japar Sidik

  • view 179