Gamang

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Oktober 2016
Gamang

Besoknya, usai memenuhi bak, menjerang air dan mempersiapkan beberapa hal untuk kebutuhan di rumah, diam-diam terdengar olehnya percakapan dari luar dapur berdinding bilik.

“Sebagian ladang dan sawah milik yang lainnya sudah juga sepakat akan dijual.” Kata suara yang belakangan dia kenal sebagai suara kepala Rukun Warga.

“Siapa saja yang tanahnya akan dijual? Saya masih bingung.” Dia tahu betul itu suara bapaknya. Masih dengan batuk yang belum benar-benar pulih.

“Tanah Pak Karjo, Den Mas Tulak yang juga luas, Mas Tamin sudah juga sepakat akan dijual, jika punyamu tidak ikut dijual, buat apa? Hanya sedikit dan akan berada di tengah pembangunan.”

“Saya bingung.”

“Bingung apa?”

“Nanti saya kerja apa? Ladang kecil itu pekerjaan saya. Pekerjaan Bapak saya dulu, dan akan jadi pekerjaan Mislam nanti.”

“Mislam janganlah meladang, dia punya bakat sepakbola. Jadikan dia sesuatu yang lebih dari sekedar peladang.”

Bapaknya tak terdengar menjawab.

“Uang hasil dari jual ladangmu, bisa kau pergunakan sebagai modal usaha. Bisa beli motor, kau bisa mengojek. Pembangunan nanti butuh banyak pekerja, pekerja-pekerja itu butuh kendaraan kan.”

Masih tak ia terdengar suara bapaknya.

“Mislam juga butuh masa depan yang lebih baik, pikirkanlah dulu. Aku pamit ya.”

Terdengar suara pintu berderti terbuka, langkah kaki berat menjejak lantai tanah rumahnya.

Bapaknya terlihat menyingkap kain penutup sekaligus pemisah antar ruang di rumah kecilnya, menemukan dirinya menghadapi perapian dengan kayu bakar yang membara.

“Ada ubi yang sedang kumasak dalam bara, Bapak sarapan dulu. Aku sudah buatkan teh tawar di atas meja.” Kata Mislam pada Bapaknya.

“Hari ini ke ladang, ambil beberapa batang ketela, secukupnya saja. Sebagian untuk dijual, sebagian lagi untuk kita makan.” Gelas yang penuh dengan teh hangat itu diraih bapaknya, dia memerhatikan dari tempatnya duduk.

“Ladang mau dijual, Pak?”

Bapaknya masih lekat menikmati teh tawar hangat.

“Kalau dijual, apa yang aku lakukan? Aku tak sekolah. Sepakbola bukan apa-apa. Tak beri kita makan.”

“Bapak belum tahu. Segeralah ke ladang, bawa bekalmu, dan juga pacul.”

Mislam bergegas, mempersiapkan apa yang dia butuhkan untuk keperluannya di ladang.

“Ibu ada di halaman belakang, Pak.” Setelah meminta izin kepada kedua orang tuanya, Mislam meninggalkan rumah bilik itu.

Sepanjang perjalanan, dia menimbang apa yang didengarnya tadi. Seandainya ladang Bapak jual, apa yang akan dia kerjakan. Tak ada. Sepakbola hanya permainan. Baginya, ladang sudah menjadi hidup, sudah menjadi masa depan yang paling mudah. Sama seperti bekerja adalah masa depan bagi mereka yang bersekolah. Sepanjang jalan, setelah melewati jalanan desa menuju ladang dia perhatikan orang-orang dengan wajah baru berada di ladang-ladang warga. Mengukur dan menunjuk batas.

Orang-orang berkemaja, rapi dan membawa alat tulis. Dia perhatikan dirinya yang kumal dengan kaus yang terlalu besar untuk dirinya. Sudah kumal pula, sudah sobek dibagian pundaknya. Apa dengan menjual ladang akan menjadi masa depan? Apa dengan motor masa depan datang lebih cepat?

Aku anak ladang, gumamnya.

Sore menjelang, bekalnya sudah tandas. Dibawanya ketela dalam dua karung besar, digandarnya diatas bahu yang terbuka sebab kausnya yang telah koyak. Dia seret langkahnya melewati jalan setapak menuju jalan desa, masih dia temui orang-orang berkemeja itu. Sudah berhenti mengukur dan menunjuk, mereka hanya berbincang. Terlihat juga beberapa wajah yang sudah dikenalnya. Para orang tua di desa, para pemilik tanah seperti bapaknya. Dia temukan juga wajah yang suaranya tadi pagi dia tangkap di rumah.

Dua karung hasil ladangnya ia geletakan di halaman yang tak begitu luas, pacul dan peralatan lainnya dia simpan ditempat semua. Lelah? Tidak. Mislam anak ladang, sudah biasa berladang.

“Mandilah dulu, nanti kita makan bersama. Baru ada beras, tadi Ibu tukar di warung ujung sana.” Kata ibu Mislam, membuka pintu dan masuk lagi ke dalam rumah.

“Iya, Bu. Aku rapikan dulu bawaanku.”

Usai mandi, mereka makan bersama. Ada nasi mengepul dan daun singkong rebus, ada sambal tanpa terasi. Hanya cabai merah dan tomat dari pekarangan belakang rumah.

“Jadi, apa lebih baik dijual saja?” Dengan kunyahan perlahan, Ibu Mislam memulai perbincangan.

“Aku tak suka bicara saat makan. Ada Mislam juga.”

“Dia sudah besar, sudah boleh tahu beberapa hal.” Ibunya melirik pelan.

Mislam menduga, ini perihal ladang.

“Aku tak begitu suka jika ladang itu dijual. Bapak mertuamu berladang di sana memberiku makan, aku berladang di sana memberimu dan juga anak kita makan. Jika ladang dijual, apa yang akan memberi kita makan?”

“Kau bilang, Pak Dirno beri saran dibelikan motor. Kau bisa mengojek.”

“Aku tak bisa pakai motor, tak pernah aku bisa mengendarai motor.”

“Kau bisa belajar. Mislam juga.” Ada senyum tersungging dari bibir ibu Mislam. Dia diam saja, kusyuk dengan daun singkong rebus.

“Aku belum tahu apa yang akan kuputuskan, selain menikmati daun singkong rebus.”

Mislam melihat air muka bapaknya, begitu dalam, lelah dan bingung. Mislam juga menimbang, bagaimana masa depannya, sedang dia adalah peladang.

Usai makan, pintu rumah diketuk dari luar, Mislam membukakannya. Pak Dirno dan beberapa orang yang dia lihat tadi. Berkemaja dan memiliki alat tulis. Dia persilahkan mereka masuk dan menempati bangku kayu. Memanggil Bapaknya dan menghidangkan air minum dalm gelas.

Mencoba untuk menduri dengar, Mislam dibuyarkan oleh panggilan beberapa anak seumurnya dari pelataran.

“Besok sore, kita main bola, ada tim dari desa jauh yang ingin bermain dengan kita. Di lapangan bukit. Kata Kang Sahwi, nanti kita diberi nasi.” Mislam mengangguk, mereka berlalu.

Sepakbola. Untuk apa? Ladang. Untuk apa?

Pak Dirno dan kawan-kawan barunya berhamburan keluar rumah, berpapasan di pelataran.

 

Patah, cerita sebelumnya.