Belum Ada Judul

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Oktober 2016
Belum Ada Judul

Hari jumat adalah hari jalan-jalan, pakaian casual dan pergerakan jadi semakin leluasa. Maka, jam dua siang itu, meluncurlah kuda besi yang saya kendalikan ke ITENAS atau Institut Teknologi Nasional. Ada apa? Ada Dwitasari, salah satu Associate Writers di inspirasi.co. Saya bukan penggemar Dwita, bahkan, satu-satunya novel berjenis sama dengan yang sering ditulis oleh Dwita adalah Cintapucino. Sudah sangat lama sekali. Dan mungkin satu lagi buku Raditya Dika yang apa itu judulnya ya? Yang filmnya setting ITB dan UNPAD Jatinangor yang diplesetkan.

Awalnya saya berpikir untuk mewawancarainya, semacam ingin tahu pandangannya mengenai dunia penulisan dan industri buku. Tapi, saya urungkan niat itu, dan meninggalkan lokasi tempat Dwita memberi materi bedah buku Spy in Love. Kenapa? Karena niat saya tidak tulus, saya lebih ingin mencecearnya dengan pertanyaan kenapa dia selalu menulis dengan tema yang sama dan cenderung berpotensi membuat orang diabetes, saya lebih ingin mencecarnya dengan pertanyaan apa yang dia harapkan dari pembacanya setelah mereka membaca tulisannya. Saya urungkan, saya tinggalkan majelis itu.

Saya tak tulis penilaian saya mengenai setting temat bedah buku yang membuat saya istighfar berulang-ulang.

Penilaian saya terhadap Dwita tentu akan tetap saya simpan sendiri, terlebih karena saya gagal melakukan wawancara dan tak bisa mendapatkan gesturnya ketika bicara berdua saja. Tidak sedang dalam panggung. Saya tidak mau melakukan publikasi penilaian terhadap sesuatu terlebih jika itu tanpa konfirmasi. Konfirmasi dari pihak yang bersangkutan atau dari informasi yang bisa saya percaya.

***

Membaca, selalu saya definisikan lebih dari sekedar teks, tetapi juga merupakan keseluruhan konteks dan kontemplasi. Juga menulis, saya memiliki definisi sendiri mengenainya. Dan itu termasuk meyakini bahwa negara merupakan kejahatan.

Saya tidak peduli dengan tai kucing pilkada-pilkadaan atau cagub-caguban yang belakangan ramai menjadi perbincangan dan perjudian, menyerap konsentrasi negara kepulauan yang begitu luas ke hanya Jakarta. Seperti biasa!

Merutuki Ahok selalu dengan sentimen SARA tentu perbuatan bodoh, apalagi mengabadikannya dalam berbagai bentuk. Dan terlebih lagi, jika hal tersebut dijadikan sebagai senjata beracun dalam kontestasi perebutan kekuasaan yang sering menyaru sebagai pemilihan manusia unggul ala demokrasi yang berkubang di lubang anus sejarah.

Ketika kasus reklamasi pantai Jakarta mencuat kepermukaan, lalu betonisasi sungai-sungai menjadi kritik pedas yang diarahkan kepada Ahok, paling tidak, kritik dan disagree point jadi lebih menarik. Yang dibicarakan adalah program, solusi, alternatif dan hal yang lebih baik. Paling tidak.

Hari ini, beberapa hari belakangan sebetulnya, tautan mengenai dialog Ahok dengan masyarakat Kepulauan Seribu lalu lalang di lini masa facebook. Menjadi bahan bagi –saya berani katakan- mereka yang malas membaca sesuatu secara utuh dan kontekstual.

Tetapi, kawan-kawan saya yang baik, begitulah kita, seperti itulah kita. Bebal sekali, tak cukup sekedar ditegur dan diberitahu sekali, tak cukup diberi contoh semengerikan apapun. Kita ras manusia yang bandel. Karena apa? Mengutip sajak Godi Suwarna “...da bongan teu beuki sajak...” *

 

*"...salah sendiri tak suka sajak..." (Sajak Barungsinangan - Godi Suwarna)