Ketidakyakinan dan Keyakinan

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Oktober 2016
Ketidakyakinan dan Keyakinan

Saya pernah benar-benar menjadi pengangguran beberapa tahun yang lalu, jikapun bekerja dan memiliki identitas sebagai pekerja, saat itu pekerjaan saya tak memenuhi syarat sebagai pekerjaan. Sehari saya hanya bekerja empat jam, upahnya hanya laku untuk satu sachet kopi dan dua batang rokok filter. Sudah itu saja. Saat itu, pekerjaan yang sedang saya geluti memang lebih cocok sebagai pengisi waktu luang bagi mahasiswa.

Disela waktu menjadi penjaga rental vcd itu, saya juga mulai belajar memaksimalkan komputer yang disediakan pemilik rental untuk operasional rental. Memakainya untuk menulis, belajar corel draw/paint, belajar cut/copy and paste bagian-bagian film dengan aplikasi seadanya, belajar mengaransemen lagu dengan fruityloops dan selalu berujung ke-garing-an. Sebab, uang iuran yang konon untuk pelajaran komputer di sekolah ketika SMA, tak pernah benar-benar saya nikmati hasilnya, begitu bangunannya beres, saya sudah lulus. Kenapa saya harus lulus secepat itu? Dan waktu SMP, sekali pernah saya masuk labolatorium komputer, satu komputer untuk tiga orang siswa dengan pelajaran menggambar keyboard dan sesuatu mengenai DOS.

Sejak mula bisa mengoptimalkan komputer itu, saya menulis dan menyebarluaskan tulisan saya di sana. Membuat sajak, lalu me-lay out-nya, lalu mencetak dan menyebarluaskannya. Modal lima sampai sepuluh ribu. Hingga kawan-kawan dari Parapet –sebuah grup pengeksplorasi gunung, melakukan pendekatan. Mengajak berdiskusi dan berkontribusi. Hasilnya, Parapet lebih cenderung jadi tempat menulis. Beberapa anggoranya protes, kenapa pake nama Parapet, bikin nama lain lah. Tak saya ambil pusing. Dari sinilah, saya mulai mendalami ilmu klenik.

(Yang mau dan suka boleh mulai kasih backsound)

Bukan mendalami juga sebetulnya, lebih kepada menunaikan kepenasaran, sebab saat itu bahkan mekanisme televisi pun saya pertanyakan. Beruntung salah satu kawan saya yang Parapet itu adalah mahasiswa teknik, dan suka bikin lagu dengan fruityloops, dan suka minta tolong saya isi lirik, dan suka minta tolong saya isi vokal, jadi saya bisa minta balas jasa.

Pertanyaan yang mengganggu saya waktu itu diantaranya adalah, bagaimana bisa menerjemahkan gelombang menjadi gambar, lalu bagaimana santet bisa bekerja dan terutama bagaimana pelet bisa sampai. Ada dua orang yang pada akhirnya menjadi referensi untuk saya wawancara sambil pidud (minum kopi sambil udud (bisakah?)).

Ilmu klenik, kebatinan, perdukunan dan bayak lagi istilahnya, memiliki dasar keyakinan yang begitu kuat seperti agama. Jika tak yakin, maka ilmu itu tidak akan bekerja. Pelet misalkan, bisa diawali dengan meyakinkan diri bahwa pelet itu bekerja, meyakinkan diri bahwa dengan pelet hajat kita akan berhasil. Selalu seperti itu, sama seperti kita meminum obat ketika sakit, meskipun keyakinan itu tidak kita rapalkan, tetapi keyakinan itu sudah tertanam dan menjadi sugesti. Sekalipun, jika ditelaah dengan ilmiah, dalam kasus obat, tentu obat memiliki penjelasan yang begitu rinci. Dalam ilmu pelet, santet, jampi dan lain hal yang serupa, penjelasan yang begitu akan sulit didapatkan.

Masyarakat kita pada umumnya, sangat mudah tergoda dengan hal-hal yang tidak masuk akal, sangat mudah tergoda dengan hal yang mengawang-awang, sehingga, bisa jadi inilah salah satu penyebab agama islam masuk ke Indonesia lewat jalan tasawuf, bukan fikih. Manusia yang cenderung tidak bertabayun pada satu hal, akan rentan terhadap dunia klenik, tradisional ataupun modern. Menerima pesan berantai, langsung percaya dan menyebarkannya lagi kepada yang lain. Pesan-pesan berantai seperti ini, biasanya berisi mengenai hal yang tidak jelas asalnya. Fitnah, berita bohong, bualan jaminan surga dalam sebentuk doa dan lain-lain.

Beberapa waktu ini, hal semacam ini bermunculan silih berganti mengisi ruang dan waktu. Mulai dari Gatot Brajamusti hingga mutilasi bayi, dari buzzer politik hingga sumpah setia pada hasil survei. Keyakinan, sangat berpengaruh besar terhadap apa yang kita perbuat, sama halnya dengan ketidakyakinan.

  • view 356

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    lulus SD, bangku2 sekolah baru. lantainya juga.
    saya hanya sempat menikmatinya beberapa waktu.
    padahal juga ikut menyumbang dengan jumah yang sama.
    semoga iuran kita jadi jariyah ya pak.

    • Lihat 4 Respon

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Sip