Riwayat Ming dan Cok - Edisi 1

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Riwayat Ming dan Cok

Riwayat Ming dan Cok


Ming dan Cok bertemu setiap senin di teras warung kopi di kota London. Berkawan dan berbincang tentang apa saja. Copyleft.

Kategori Fiksi Umum

1.3 K Tidak Diketahui
Riwayat Ming dan Cok - Edisi 1

Di teras sebuah warung kopi di sudut kota London, Ming dan Cok pertama kali bertemu. Keduanya memesan kopi dan menikmatinya tanpa teman. Keduanya mengeluarkan sebatang rokok, lalu menikmati setiap hembusnya.

“Kau orang Indonesia ya?” Tanya Ming kepada Cok dari seberang mejanya.

“Kau juga? Gigimu rusak, pecandu rokok. Dan pecandu rokok hanya ditemukan di Indonesia.” Jawabnya.

“Sini, mari duduk semeja.” Dan Cok pun mendatangi meja Ming. Duduk sambil menenteng cangkir kopinya. Rokok filternya terselip di sela kedua bibirnya.

“Sudah lama di sini? Di London?” Tanya Ming.

“Aku sekolah di sini, ini tahun ketiga ku. Beasiswa. Kerja di kantor sana.” Kepala Cok menoleh menunjuk satu gedung perkantoran.

“Aku kerja, dua blok dari sini. Toko buku milik kerabatku. Aku di London sejak tiga tahun lalu. Kau dari Sumetra?” Selidik Ming.

“Iya, dekat Toba. Tapi aku lama di Jawa, aku berangkat dari Jakarta.” Asap rokoknya mengepul tak henti.

Mereka lalu menikmati kompi masing-masing berkawan asap rokok, menikmati sore dan waktu senggangnya masing-masing. Seekor anjing menghampiri mereka, pemiliknya mengejar dengan tergopoh.

“Menurutmu seberapa penting nyawa seekor anjing?” Cok memulai percakapan.

“Anjing...” Ming menghentikan kata-katanya. Dahinya berkerut, diambilnya sebatang rokok lain dari bungkusnya.

“Nyawa, hidup, seharusnya dihargai sama pentingnya. Apapun itu. Menjadi adil dengan memberikan kesempatan yang hidup tetap hidup harusnya tertanam dalam setiap manusia. Kau setuju?” Cok mencari pendukung opininya.

“Aku setuju. Tapi, kadang apa bisa mengorbankan satu nyawa untuk seratus nyawa misalkan?” Ming menyeruput kopinya yang mulai dingin.

“Fuck it! Tak ada dan tak akan pernah ada hal semacam itu. Tidak ada kepentingan satu nyawa untuk menebus dua atau lebih nyawa lainnya. Atau kau pernah melihatnya?” Cok menajamkan matanya pada Ming.

“Liberare Eos. Penebusan nyawa dengan dua belas nyawa lainnya. Pengorbanan, keikhlasan, kerelaan, penebusan dan penyembuhan.”

“Tak ada yang pernah merapal Liberare Eos, kecuali itu merupakan tindakan politik. Presiden-presiden yang mengirimkan tentaranya berperang, Gubernur yang menggusur warganya atau wali kota yang membunuh tanah resapan dan menggantinya dengan beton.” Cok bahkan baru kali ini mendengar perihal Liberare Eos. Doa mistik umat Khatolik.

“Kau pikir aku bicara apa? Aku bicara itu. orang-orang yang dijadikan wadal pembangunan, dijadikan tumbal modernisasi. Aku pikir aku bicara mengenai orang-orang yang ingin disembuhkan oleh raganya?” Ming terkekeh.

“Ah, sial. Bahkan aku tak kenal dengan kalimat Liberare Eos.” Umpat Cok. Ming tertawa terbahak.

“Hey, aku biasa ambil jam istirahat sore di sini setiap hari, memesan secangkir kopi dan merokok. Kau bisa menemuiku disini setiap hari kecuali rabu. Aku libur.” Kata Ming sambil menandaskan kopinya. Bersiap untuk bangkit.

“Aku hanya senin di sini, sisanya aku di tempat lain.” Cok pun menghabiskan sisa kopinya, mematikan nyala rokoknya.

Ambulans melewati mereka, kendaraan lain menepi, memberi jalan. Menyelamatkan satu nyawa, berarti menyelamatkan ras manusia seluruhnya. Sore yang hangat dan cangkir kopi.