Ya ya ya

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Puisi
dipublikasikan 27 September 2016
Ya ya ya

Senja yang sekarat dan nafas yang tercekat.

Pada bentang batang rel kereta telah kita tinggalkan diri kita disana.

Sejak hidup merupakan kutukan dan keyakinan adalah ritual dan kewajiban.

 

Aku terpaku pada sudut kayu yang kaku dan meminta tebusan darah dan keringat tak kenal waktu.

Menghitung setiap kemungkinan dan harapan sesempit liang anus.

Menjarah mimpi,menukarnya dengan kenyataan yang tak pernah menjadi mimpi.

Merampok cinta, menggantinya dengan tanggung jawab.

Setiap pagi ketika mentari beradu lari dengan keringat pion industri.

 

Aku didalamnya. Ya, aku ada didalamnya.

 

Pagi terbirit-birit diburu bau bensin pada motor kreditan.

Embun yang menguap seirama bau birahi kasir-kasir supermarket.

Dan digit pada mesin bank yang terserak.

 

Dimana senyummu yang selalu ku rindu?

Dimana derai tawamu yang selalu membuatku mencium harum telaga berwarna-warni?

 

Siang datang seperti neraka yang kau seret dari tempatnya.

Dijalan-jalan melintasi terminal yang dipenuhi polisi, orang gila dan preman.

Udara tak bersahabat. Mentari terlaknat. Dan debu yang menampar muka.

 

Aku tersenyum dengan api yang menempel pada diriku.

 

Dan sore, seperti percintaan yang biasa saja.

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    10 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Pilihan tiap kata yang sangat kuat. Emosi jenuh tertangkap secara gamblang dalam puisi karya Agus Geisha ini. Bisa menjadi puisi kebangsaan mereka yang setiap hari bekerja keras, berpeluh keringat, merantau meninggalkan keluarga jauh di rumah. Rasa getir dan bosan lama kelamaan merenggut kehangatan, buah rutinitas dan tanggung jawab yang mau tak mau harus dijalani. Puisi yang sangat dalam, Agus.

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    10 bulan yang lalu.
    Personifikasi dan pilihan diksi yang pas membuat puisi ini menarik and pesannya tersampai dengan baik kepada pembacanya ...
    keren binggo!

  • Anis 
    Anis 
    10 bulan yang lalu.
    *menghela napas*
    ketinggalan kereta