Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 27 September 2016   19:49 WIB
Ya ya ya

Senja yang sekarat dan nafas yang tercekat.

Pada bentang batang rel kereta telah kita tinggalkan diri kita disana.

Sejak hidup merupakan kutukan dan keyakinan adalah ritual dan kewajiban.

 

Aku terpaku pada sudut kayu yang kaku dan meminta tebusan darah dan keringat tak kenal waktu.

Menghitung setiap kemungkinan dan harapan sesempit liang anus.

Menjarah mimpi,menukarnya dengan kenyataan yang tak pernah menjadi mimpi.

Merampok cinta, menggantinya dengan tanggung jawab.

Setiap pagi ketika mentari beradu lari dengan keringat pion industri.

 

Aku didalamnya. Ya, aku ada didalamnya.

 

Pagi terbirit-birit diburu bau bensin pada motor kreditan.

Embun yang menguap seirama bau birahi kasir-kasir supermarket.

Dan digit pada mesin bank yang terserak.

 

Dimana senyummu yang selalu ku rindu?

Dimana derai tawamu yang selalu membuatku mencium harum telaga berwarna-warni?

 

Siang datang seperti neraka yang kau seret dari tempatnya.

Dijalan-jalan melintasi terminal yang dipenuhi polisi, orang gila dan preman.

Udara tak bersahabat. Mentari terlaknat. Dan debu yang menampar muka.

 

Aku tersenyum dengan api yang menempel pada diriku.

 

Dan sore, seperti percintaan yang biasa saja.

 

Karya : agus geisha