Perempuan Termanis

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Puisi
dipublikasikan 27 September 2016
Perempuan Termanis

Maka, aku adalah perempuan teranggun yang menunggumu di muka unggun.

Menatap matamu, adalah indahnya angin dan terbang debu di perut gurun.
Tapi engkau tak datang. Engkau hanya berjanji datang.
Dan aku menangis sambil tersenyum menghabiskan angan di wc umum.

Sekarang sudah empat batang. Tembakau membakar dada.
Aku membawakanmu makanan palembang.
Aku meraba paha, merasa birahi.
Dari kaca jendela aku mengintip bau rambutmu.
Engkau terlambat datang, hausku sudah terpuaskan.
Dibilas air, dibawa jadi berudu.

Tapi lantas aku sadar, aku adalah perempuan termanis.

Manusia yang menungguimu usai melukis pada lapis-lapis bual belahan payudara gadis dan fatamorgana bius iblis.
Aku memenuhimu dengan cinta yang tak terbatasi bumi dan bahkan arsy hingga engkau merasa menjadi diri yang utuh pada bibir yang bersentuhan.
Namamu syahwat. Lidahmu bergumul liat.

Aku pegang selangkangan.
Aku berpenis.