Sajak Lama

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Puisi
dipublikasikan 27 September 2016
Sajak Lama

I

Jika hanya batuk,aku pun mampu. Tapi aku ingin mendongeng lebih lama dan lebih jalang.

Janinku berkembang. Timbul tenggelam bersama bius waktu yang bertele-tele. Terkadang aku merasakannya. Menendang-nendang tanda adanya. Kadang diam seperti dihadang utang. Kutang.

Bayi kecilku,bayi pikirku. Bayi-bayi utopi.

Serupa minerva yang turut menyusut seiring mataku yang mengantuk. Sesuai umurku yang tersudut.

Jiwa yang labil dan darah yang mengering. Seiring jalan kota yang kulalui tiap pulang ke ketiakmu,kekasihku. Ketakutan yang menggairahkan. Naluri besi. Birahi laki-laki.

Dan kesetiaan sekedar mulut yang tertutup kentut.

 

 

II

Yang tertinggal pada setiap gerbong kereta adalah rindu dan bau keringat para pedagang kopi

Sehingga,padamu aku kembali. Kepada mimpi-mimpi yang lama menagih janji.

Pada kekasih yang lama kutinggalkan disudut kota

Engkau pernah memberi,memaknai jutaan kata sehingga yang tertinggal padaku sakedar bekas luka yang mengering.

Kenang-kenangan sejarah.

Nafas yang tersendat.

Jiwa yang meronta.

Pagi t'lah datang di atas kepala. Engkau bersijingkat mengemasi dendam yang urung kau lunasi. Masih disini hamba menanti. Kataku padamu.

Engkau membisu pada masa lalu yang sama-sama kita tinggalkan tanpa pamitan. Engkau menolak seperti sebelumnya. Berjuta kali.

Pagi yang buta. Tak bermata. Tak bertelinga hingga tak sanggup ia berkata,mewartakan tangisku yang berkepanjangan.

Pada pagi yang sehening ini,biasanya engkau membaca. Mengingat kembali apa yang telah terlewati. Menuliskannya pada batok kepala dan menoreh lenganmu dengan belati.

Jiwa yang kabur dan gerbong kereta yang berjalan tak teratur.

Padamu telah kukatakan,air laut berasa asin dan hidup tak sekedar makan,minum dan bensin.

Aku mengajakmu untuk memejamkan mata dan saling merasa keberadaan satu sama lain. Memekakkan telinga sehingga yang akan kau dengar adalah suara dari dalam tanah.

Dikau yang tertatih mengejar nafas ribuan mil jauhnya dan daku yang kau tinggalkan membatu tanpa warna-warni langit.

Igaumu pada setiap malam adalah jerit pada setiap butir keringatku yang tercurah sia-sia.

Pada batu nisan kita,akan kita toreh segumpal harapan yang mengkerut bersama watak kita yang tak sesuai alur penguasa.

Jiwamu merintih,menagih janji yang tak pernah kunyatakan.

Apa lagi kau cari?

Disini ada nasi dan kita sedang mencumbui pagi yang sepi.

Dini hari, kau tamatkan rindumu pada secangkir kopi. Dan rambutmu yang tak tertata rapi. Serta sepenggal lirik lagu yang membawamu pada masa lalu.

Kau yang menghisap rokokmu dalam-dalam,kembalilah dan nikmati setiap darah yang tertumpah.