Matinya Puisi Kami

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Budaya
dipublikasikan 24 September 2016
Matinya Puisi Kami

Tukang gusur tukang gusur
Menggusur orang-orang miskin
Di kampung-kampung hunian puluhan tahun
Di pinggir dan bantaran kali Ciliwung
Di rumah-rumah nelayan Jakarta
Di dekat apartemen mewah dan mall yang gagah

Semua digusur sampai hancurTukang gusur tukang gusur
Melebur orang-orang miskin
Melumat mimpi-mimpi masa depan
Membunuh cita-cita dan harapan
Anak anak kehilangan sekolah
Bapak-bapaknya dipaksa mengangggur
Ibu-ibu kehabisan air mata

Tukang gusur menebar ketakutan di ibukota
Gayanya Pongah bagai penjajah
Caci maki kanan kiri
Mulutnya srigala penguasa
Segala kotoran muntah
Kawan-kawannya konglomerat

Centengnya oknum aparat
Menteror kehidupan rakyat
Ibukota katanya semakin indah
Orang-orang miskin digusur pindah

Gedung-gedung semakin cantik menjulang
Orang-orang miskin digusur hilang
Tukang gusur tukang gusur
Sampai kapan kau duduk di sana
Menindas kaum dhuafa
Tukang gusur tukang gusur

Suatu masa kau menerima karma
Pasti digusur oleh rakyat Jakarta
(copas dari sini)

Ada yang menganggap ini adalah puisi, mereka yang menganggap ini puisi, bisa jadi adalah orang-orang yang kurang pipis. Tetapi, sebagai rakyat jelata, kita hanya akan bisa menyimak drama yang sama seandainya pemilik tulisan butut di atas itu membayar beberapa orang untuk turut menuliskan rangkaian huruf yang hampir sama bututnya dengan tulisan di atas, meminta beberapa orang membacakan sajaknya di layar youtube, membuat tim untuk menyusun buku "Sastrawan-sastrawan besar yang terbuang- dari Utuy hingga Fadli Zon". Lalu kita bisa apa? mengata-ngatai koordinator tim penyusun bukunya dengan sebutan "bajingan"? Nanti dipenjarakan, pencemaran nama baik. Sudahlah, nikmati saja sajak dari balik reruntuhan kerajaan galuh seperti Godi Suwarna. Kita bisa apa?