Negara adalah rahim kriminalitas

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 September 2016
Negara adalah rahim kriminalitas

Perbuatan kriminal tidak bisa dilakukan oleh orang yang tak terbiasa berbuat kriminal, tak bisa diperbuat oleh orang yang dalam keadaan normal. Untuk melakukan tindakan kriminal diperlukan tekanan yang begitu keras dan kebiasaan yang begitu lama. Saya meyakini, bahwa pada dasarnya semua orang terlahir baik.

Sore tadi, sekitar pukul lima sore, Pak Wali di Bandung menggerebek satu lokasi pijat/spa di daerah Dago. Menangkap tangan satu orang terapis dan pengunjung yang sedang melakukan tindakan asusila di satu kamar, menangkap basah dua terapis yang sedang telanjang di kamar yang berbeda. Yang menarik adalah, terapis yang dikumpulkan dalam satu ruang menanyakan pada Emil mengenai bagaimana dengan tempat pijat/spa lain. Ini pertanyaan cerdas menurut saya, sangat antisipatif. Dan respon dari Emil begitu mudah ditebak, Pak Wali meminta terapis-terapis tersebut menyebutkan nama tempat-tempat tersebut. Klise.

Di Bandung, atau di kota besar lainnya, jaringan tempat prostitusi saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Pemain yang sama pada lahan yang sama, persis bandar narkoba atau begundal motor. Menemukan jaringan tempat pijat dan spa yang menyediakan jasa all in semudah menggaruk simpatisan isis seandainya aparat melakukan apa yang dilakukan Tom Hanks pada Di Caprio dalam Catch Me If You Can. Tetapi, pemerintah lebih senang membunuh Imam Samudra, lebih senang memberlakukan jam malam ketika ada kawan sejawatnya ditikam belati dan mengelak ketika nama tempat pijat berhamburan dari para terapis dengan dalih harus ada bukti.

Pada dasarnya semua manusia itu baik, jika tidak salah, Alexander Berkman pada bab pertama Anarkisme dan Revolusi Sosial (Sekarang direpublish dan judulnya menjadi ABC Anarkisme) mengedepankan mukadimah dengan teori ini, yang hingga sekarang saya yakini. Tak ada perbuatan kriminal yang tanpa motif, selalu ada latar belakang dari perbuatan merugikan pihak lain.

Kakak saya, sekitar tahun 2005-2006 ditangkap polisi dan dijebloskan ke dalam penjara. Digiring dari satu sel ke sel lain, melalui beberapa persidangan hingga akhirnya mondok di Kebon Waru selama satu tahun setengah. Bukan tanpa latar belakang tentunya. Saya selalu menarik lurus kebelakang ketika ada satu hal yang perlu dipertanyakan. Sejak kecil memang kakak saya cukup bengal, bermain di terminal, berkelahi, mencari uang jajan dengan mencuci mobil angkutan, pulang malam dan lain hal sebagainya di usianya yang masih SD. Saya, sebaliknya. Pendiam dan bukan tukang protes, sekalinya ingin protes, saya lakukan dengan cara menangis dan kabur dari rumah. Hanya sampai situ. Karakter kakak saya terbentuk dengan kebiasaanya sejak kecil. Liar dan juga kreatif. Apapun yang dibuatnya jadi dan bagus, tapi tak pernah jadi apa-apa sebagai penolong hidupnya. Dan ditahun 2005-2006 itulah puncaknya, perbuatan merugikan negaranya tercium aparat. Sekali lagi, dari kasusnya, hanya kakak saya dan beberapa orang saja yang diciduk. Dalang dan pemilik modal serta back up nya bebas hingga kini. Aparat tak mengembangkan kasusnya.

Gagalnya negara dalam mengatur kehidupan manusia sudah terbukti dan terulang terus menerus sejak sekolah berupa waktu luang hingga kini menjadi full day school. Dan yang paling mengagumkan dari hal tersebut, televisi menjeda Ini Talkshow dengan ritual pendaftaran Agus Yudhoyono dan Anies Baswedan di KPU Jakarta. Sepenting itulah gubernur jakarta untuk negara ini sehingga jumlah orang yang meninggal di Garut hanyalah data statistik.