Patah

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 September 2016
Patah

Hal yang paling mengerikan bagi pesepakbola adalah berada di bangku cadangan ketika sebelas pemain dalam timnya berada di lapangan. Duduk menunggu giliran dan berandai-andai. Melakukan hal-hal tak perlu sepanjang pertandingan berlangsung, ikut masuk ke ruang ganti ketika turun minum, lalu kembali duduk di bangku cadangan. Menunggu giliran lagi.

Dipercaya merupakan kebutuhan paling mendasar dari hidup manusia, diserahi beban dan membuktikan pekerjaan. Diabaikan berarti dianggap tak mampu.

***

Semua orang masih ingat betul bagaimana kaki kecil itu berlari dan mencari bola diantara rumput setinggi mata kakinya, menendang dan menerjang menyerang gawang lawan. Sore hari selepas ashar. Anak itu seperti tak kenal lelah, berlari selama yang lain mengambil nafas. Permainannya tak begitu baik ketika mengendali bola, tapi dia memiliki visi yang baik dalam memberikan operan. Selalu tepat kepada yang dituju, selalu pada waktu yang pada. Tak menyusahkan kawan bermain.

Namanya Mislam, tubuhnya kerempeng dan kulitnya terbakar matahari. Tak pernah sekolah, waktu pagi hingga siangnya ia habiskan di ladang milik bapaknya.

“Tak ada uang untuk sekolah. Kau ikut urus ladang saja sama bapak. Urus ladang bisa makan, tak urus ladang tak bisa makan.” Kata bapaknya.

Mislam mengenal sepakbola karena nakal, mengengkari janji untuk menunggui ladang pada suatu pagi. Bersama beberapa kawan sebayanya yang sedang libur sekolah, dia berangkat ke bukit di selatan desa. Menemukan orang-orang lebih tua bermain sepakbola. Terpukau dan tergerak. Matanya berbinar bak remaja yang menemukan betis lawan jenisnya terbuka.

“Aku melihat sepakbola tadi pagi. Maafkan aku. Aku pergi ke bukit dan tak menjaga ladang.” Katanya pada siang hari ketika bapaknya sampai di ladang.

Bapaknya diam, masih berjongkok membersihkan pacul dari tanah yang menempel. Tak menjawab.

“Aku minta maaf. Tidak akan aku ulangi lagi.” Dia ragu pada perkataannya sendiri.

“Kalau kau mau melihat sepakbola, lihatlah. Tak apa, bapak tak marah.” Bapaknya bangkit, lalu ikut duduk di saung. Matanya menerawang.

“Sekolah tak bisa kuberikan, kau boleh bersenang-senang dengan apa yang kau suka. Lihatlah sepakbola. Jadilah berada di tengah lapang jika kau bisa.” Lelaki tua itu menggandar paculnya, meninggalkan Mislam kecil sendiri di saung. Membiarkannya menikmati makan siang.

Sejak saat itu, Mislam selalu pergi ke bukit selatan desa, selalu setiap ada orang-orang tua yang bermain sepakbola disana. Kadang, dengan bola cadangan yang tergeletak di tiang gawang, dia dan beberapa kawannya mulai bermain dengan bola.

Mengetahui anaknya bermain bola, ibu Mislam kerap menasihatinya.

“Kau lebih baik bantu bapak di ladang. Cabuti rumput dan jaga dari tikus.”

“Kau main bola untuk apa? Tak ada guna main bola. Tak beri makan ibu, bapak dan dirimu.”

“Selain menjaga ladang, mulai belajar bapak tanam palawija. Bisa buat makan keluarga.”

Bapaknya, yang juga lelaki biasanya menimpali dan membelanya.

“Biarkan saja. Aku masih bisa, dan dia akan belajar ketika waktunya sudah tiba.”

“Anak-anak memang harusnya bermain. Main bola boleh, tak ada yang larang.”

Mislam tak pernah tahu mana yang benar, dia hanya ingin mengikuti apa yang disukainya.

***

Sejak usianya tujuh tahun, Mislam sudah menjadi piawai bermain bola, ikut tim sepakbola dan memakai kaus khusus untuk bermain bola. Dia memang tak pandai menggiring bola, tapi dia pandai menempatkan diri dan menempatkan bola. Dia adalah pelayan bagi kawan bermainnya, memberikan umpan matang dan menjegal serangan lawan. Mislam bersinar dan menjadi pujian. Mislam menjadi senjata ampuh bagi tim desanya untuk mengikuti turnamen sepakbola tahunan.

Babak penyisihan, Mislam benar-benar menjadi pusat perhatian. Banyak pemerhati dan penikmat sepakbola dari luar desanya membicarakan kecerdikannya. Beberapa memujinya lewat sorakan pemberi semangat ketika bola hinggap di kakinya. Dengan kecerdikan Mislam kecil, tim desanya melalui babak penyisihan dengan dilewati tanpa perlawanan. Tim desa yang dulu tak mampu berbuat banyak, tahun ini memiliki Mislam yang bisa diandalkan.

Semua memujanya, nama Mislam menjadi buah bibir, menjadi perbincangan dimana-mana. Di sawah, di ladang dan warung kopi. Mislam menjadi begitu terkenal. Terlebih setelah aksi-aksinya begitu memukau penonton di babak perempat final melawan juara bertahan tahun lalu.

“Si Mislam itu harusnya dibawa ke kota, dibelikan sepatu baru, dan bermain di lapangan rumput yang bagus.”

“Siapa yang mau belikan? Kau mau belikan?”

“Aku duit dari mana? Upah mengumpul kayu tak seberapa.”

“Lalu kenapa kau bilang harus dibelikan sepatu baru, Hah?!”

“Aku hanya bicara, kenapa kau emosi?!”

“Ah, sudahlah. Dimanapun dia mau bermain, terserah dia dan orang tuanya lah. Tak perlu kita ikut pusing.”

“Aku sayangkan bakatnya yang bagus itu. Harusnya dia bermain untuk tim nasional.”

“Tim nasional apa? Tim nasional bapakmu?”

“Jangann bawa-bawa bapakku. Bapakku sudah mati.”

“Ah, sudah. Kalian berisik. Kalian yakin, timnya Mislam akan menang di final?”

“Yakin!”

“Yakin!”

“Ayo bertaruh. Seratus ribu. Kalau timnya Mislam menang di final, aku kasih kalian masing-masing seratus ribu. Dan jika timnya Mislam kalah, kalian bayar kau masing-masing seratus ribu. Bagaimana?”

“Pejudi!”

“Dua ratus ribu. Bagaimana.”

“Ayolah, aku ikut.”

“Yasudah, aku juga ikut.”

***

“Sebaiknya kau tak berangkat, bapakmu sedang sakit. Ladang tak ada yang menjaga.”

Ibunya mencoba menghentikan Mislam ketika mengemas seragam dan sepatu sepak bolanya. Dalam benaknya, final membayang, piala dan kemenangan sudah siap dia bawa pulang untuk bapak dan ibu. Tapi bapak sakit, sekujur tubuhnya begitu panas, nafasnya tersenggal-senggal. Untuk pertama kalinya dia merasa bingung dan harus ambil keputusan.

“Tidak apa-apa. Pergilah. Ini yang kamu harapkan, Mislam. Bapak tahu ini mimpimu.”

“Kalaupun tak ke ladang, paling tidak Mislam tinggal di sini, pak. Bantu aku merawat bapak.”

Mislam kecil semakin gamang. Memutar-mutar tali sepatunya dan memainkan ujung kaus seragam sepak bolanya. Ragu memasukanya ke kantong kumal miliknya. Dia mendekati bapaknya, duduk di ujung dipan, memegangi tangan bapaknya yang lisut.

“Aku di sini menemani ibu.” Katanya. Patah.

***

Ketika separuh rombongan tim menyamperi rumahnya, dia hanya bisa memperlihatkan mukanya yang kusut.

“Bapak sakit. Aku harus merawatnya.” Lalu dia kembali ke dalam rumah. Rombongan itu pergi tanpa Mislam, tanpa jendral lapangan tengah yang sedang berkibar. Patah.

Setelah menjerang air dan mengisi penuh bak, Mislam memerhatikan wajah bapaknya. Keriput dan tua, cekung matanya dalam dan kulitnya dalam. Tertidur setelah meminum teh hangat dan obat dari warung. Tubuhnya masih panas.

“Susul, Nak. Susul mereka dan bertandinglah. Ambil apa yang kau suka dan bawa kepada kami cerita.” Dari belakang, terdengar suara ibunya bagai sesuatu yang lain. Dia menoleh, memandang wajah ibunya yang sama lelah seperti lelaki tua yang tergolek di dipan.

“Ibu...” Suaranya parau. Ibunya mengangguk. Lekas dia kemasi sepatu dan seragam sepak bolanya. Berlari membuka pintu rumah dan melesat menuju  bukit di selatan desa.

***

Hal yang paling mengerikan bagi pesepakbola adalah berada di bangku cadangan terutama jika kau merasa dirimu mampu untuk berbuat lebih. Tapi Mislam kecil datang terlambat,babak pertama sudah hampir usai dan timnya sudah tertinggal satu gol. Ada penyesalan dalam dirinya, ada kesedihan dan kepedihan. Patah.

“Kami tak mendaftarkanmu hari ini. Kau bilang bapakmu sakit. Kau tak bisa main.”

“Tapi sekarang aku sudah di sini. Aku bisa main.” Katanya.

“Kau harus tahu peraturan turnamen, hanya pemain yang didaftarkan yang boleh main. Kau pikir kau saja yang ingin kau main? Semua penonton yang ada di sisi lapangan ini ingin kau main. Yang tak ingin kau main hanya tim lawan! Lagi pula kenapa bapakmu sakit disaat seperti ini.”

“Bukan salah bapakku jika aku terlambat dan tak bisa main.” Mislam marah, sebab baginya sepakbola bukan rule of the game.

“Sudahlah. Kau duduk saja dulu di situ, turun minum nanti aku bicarakan dengan panitia.”

Tertinggal satu gol dibabak pertama, membuat tim menjadi hilang konsentrasi. Di sisi lapangan penonton riuh menanti Mislam mengenakan seragam dan sepatu. Beberapa kali pelatih kedua tim terlihat mondar-mandir ke meja panitia.

Babak kedua dimulai, dan Mislam belum juga mengenakan baju dan sepatunya. Dia duduk di belakang bokong pelatihnya bersama beberapa pemain lain. Perasaannya tak menentu, timnya sudah tertinggal satu gol. Dan bapaknya sakit. Patah.

“Aku lebih baik pulang jika tak bisa bermain. Di rumah aku bisa bantu ibu dan merawat bapak.”

“... ... ...”

“Bolehkah aku pulang?”

“Kenapa kau pulang? Paling tidak kau tinggal di sini dan kasih dorongan semangat untuk kawan-kawanmu.”

“Mereka tak butuh semangat. Mereka butuh umpan dan penjaga serangan.” Matanya berkaca-kaca. “Paling tidak aku akan mempunyai bapak sekalipun aku tak membawa cerita kemenangan.” Mislam berlari, menggamit kaus dan sepatunya, menembus wajah penonton yang mengharapkannya. Patah.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Dari tema saja tulisan Agus Geisha ini terbilang unik dibandingkan rata-rata tulisan yang mampir di Inspirasi.co. Hal ini bukan hal yang aneh sebab Agus memang rajin mengeksplorasi banyak tema dalam menulis, menjadikan karya-karyanya variatif dan menarik. Seperti tulisan dia sebelumnya, ‘Patah’ menimbulkan sensasi yang ‘dalam’, lebih dari sekadar sedih. Betapa tidak. Bakat Mislam yang dalam bahasa umumnya langka dan bawaan dari lahir harus pupus karena aturan. Sungguh sangat menyayat hati melihat mimpi Mislam patah bukan karena larangan orang tua atau biaya melainkan justru karena sistem. Bisa dibayangkan jika hal dalam cerpen ini menimpa ke banyak anak berbakat seperti Mislam. Menyoal teknis penulisan, tak diragukan lagi Agus memang jago memilih kata hingga menelurkan cerpen dengan efek sangat sendu seperti ini. Tegas dan tak berbelit, seperti ciri khasnya selama ini. Mantap, Agus!


  • Nazlah Hasni
    Nazlah Hasni
    1 tahun yang lalu.
    essip

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Benar-benar terasa patahnya. Heuheu ....
    btw inii cerita bener-bener sesuatuuu ....

  • Hani Taqiyya
    Hani Taqiyya
    1 tahun yang lalu.
    Sedih.

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Bagus sekali mas Agus.. Suka.