Jampe-Jampe Harupat

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 September 2016
Jampe-Jampe Harupat

Jampe harupat merupakan mantra super sakti yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit ketika saya kecil. Mulai dari luka terbuka karena lutut menium aspal sampai ujung penis yang belum kering seusai sunat. Pada masyarakat sunda, jampe harupat semacam tuah turun temurun dari orang tua pada anaknya yang masih kecil.

Jampe-jampe harupat geura gede geura lumpat.

Saya menemukannya lagi pada lagu Doel Sumbang ketika mulai beranjak remaja. Sebuah lagu semacam doa yang dirapalkan untuk anak yang masih kecil. Jampi titipan serupa pengingat dengan kalimat-kalimat khidmat tentang masa depan hidup di akhirat.

Jampe-jampe harupat geura gede geura lumpat.

Sing jauh tina maksiat anaking,

ngarah salamet akherat…

Maha welas maha asih,

Moal aya pilih kasih.

Sagala nu karandapan ku hidep tangtuna bongan sorangan…

(lirik utuh)

Iya, apapun yang kita alami, semua akibat apa yang kita perbuat. Ras manusia, masyarakat kita memang sudah bebal dan tak mau belajar dari sejarah yang terus menerus berulang. Kadang saya merasa kasihan dengan hal ini, kadang geram dan merasa aneh sendiri. Beberapa hal bahkan membuar saya kagum.

Kejadian banjir bandang yang terjadi disebagian Garut. Melihat korban yang begitu banyak, dan air yang seolah tumpah dari wadahnya, sudah bisa dipastikan harus ada pihak yang bertanggungjawab. Bencana memang biasa terjadi, tapi hampir sebagian besarnya datang sebab tangan manusia.

Sejak dua tahun lalu, banjir besar sudah diprediksi akan terjadi, melihat pada pengikisan area serapan air di hulu sungai Cimanuk. Luasan kebun teh kian hari kian menyusut dan hanya menyisakan mess dan kebun yang sedikit. Dan pemerintah provinsi sudah diingatkan. (sumber)

***

Saya mulai tertarik dengan politik praktis ketika SMA, bersama kawan menenggelamkan diri ke dalam organ underbow partai, mengikuti aksi dan evaluasi hingga dini hari di jalan Suryani. Membuat pamflet dan poster, berdiskusi entah arahnya kemana. Dan lalu meninggalkan politik praktis karena satu buku berjudul Anarkisme dan Revolusi Sosial dari Alexander Berkman.

Sejak menyelesaikan buku tersebut, saya berkeyakinan bahwa anarki merupakan kesadaran individu yang berada dalam kolektif masyarakat untuk tidak menggantungkan hak pada orang lain di tengah tekanan tirani negara.

Ingar bingar kontestasi politik yang saat ini hangat-hangat tahi ayam, jujur membuat saya terganggu. Mengenai Ahok dan Ridwan Kamil yang seolah tampil sebagai kontra-teori bahwa lelaki selalu salah dan wanita selalu benar, serta saga asmara antar partai politik yang begitu kompleks.

Ketika pada akhirnya PDIP mengusung Ahok untuk tampil lagi di Jakarta berpasangan dengan kader internalnya, apa yang aneh? Apakah akan ada lawan? Apa masih jadi perkara?

Saya selalu bilang pada istri saya, bahwa hidup ini sederhana, yang buat ribet adalah negara. Meski begitu, kantong-kantong dan bilik suara akan terus ramai pendatang, dan para pahlawan serupa maskot PON JABAR akan terus bermunculan tiap waktu. Apa yang baru?

Sudahlah, sayang, jangan pikir besok kita akan makan apa, kita nikmati hari ini yang begitu indah sehingga tak satu biji zarrah masa lalu dan masa depanpun mampu menhimpit kita.