Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Wisata 18 September 2016   01:25 WIB
Cinambo Saturnite 135

Malam minggu ini, Bandung menyelenggarakan hajat besar nasional. Pembukaan Pekan Olahraga Nasional. Sebab saya tak mendapat undangan, saya tak menghadirinya. Acara gratisan bisa menjadi opsi menghabiskan malam minggu, dan datanglah saya ke acara bertajuk Cinambo Saturnite 135 ini.

Dinamai Cinambo Saturnite 135 karena kegiatan diselenggarakan di Jalan Cinambo no 135 pada sabtu malam. Alamat tersebut tepatnya merupakan kantor Mizan Publishing House, salah satu penerbitan terbesar di Indonesia. Salah satu penerbit asal Bandung yang mampu bertahan di tengah banyak himpitan dan tekanan pada bisnis perbukuan. Biasanya, bisnis penerbitan tidak akan bertahan dengan himpitan dan tekanan di dalamnya, tekanan dan himpitan semacam pajak, harga kertas, buku bajakan dan lain hal sebagainya. Tetapi, Mizan bertahan dan menjadi semakin besar. Semakin besar termasuk membukan toko sendiri yang baru saja lahir di Cireundeu.

Kegiatan Cinambo Saturnite 135 ini diagendakan akan melaunching dua buku sekaligus. satu buku dari Ria Ricis dengan judul Live Love Laught  dan satu buku lainnya dari Pidi Baiq dengan judul Milea ; Suara dari Dilan. 

Saya tidak begitu memahami Ricis selain -mohon maaf- sebagai adik Oki Setiana Dewi. Saya tidak menemukan sepak terjangnya dimanapun dalam ingatan saya, dia tiba-tiba sering muncul di televisi dan disebut sebagai selebgram. Tentu ini bisa jadi karena saya tak pernah punya akun instagram, sehingga tidak pernah tahu sepak terjangnya. Mengorek dari satu pihak yang bisa dipercaya, konon ricis sedang shooting satu film bersama salah satu komika nasional. Mengenai bukunya sendiri, Ricis mengatakan bahwa isi buku berdasar pada catatan hariannya, sama persis dengan buku pertamanya yang juga berdasar pada catatan hariannya juga. Isinya mengenai inspirasi dan bisa juga sebagai motivasi untuk sesama remaja seusianya. Tampilan bukunya begitu berwarna, sangat cocok dengan kepripadian Ricis yang oleh salah satu pengunjung disebut "maceuh", dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan dengan aktif.

Berbanding terbalik dengan yang pertama, saya mengenal karya Pidi Baiq sejak SMA dari bentangan pita kaset dengan gambar muka kuntilanak menclok diatas pohon.  Setelah tidak terlalu tertarik pada lagu yang ada di dalam kaset itu karena durasi interaksinya yang tidak terlalu sering, saya justru lebih akrab dengan Ayah -panggilan Pidi Baiq- saat bekerja di Warung Internet di Jatinangor. Saya mulai membaca tulisannya di Multiply.com (webblog yang sudah wafat), semua tulisan Ayah di sana membuat saya nampak seperti penjaga Warnet gila. Duduk berjam-jam di hadapan monitor sambil tertawa sendiri. Setelah menulis buku seri drunken yang melegenda, lalu ada komik S.P.B.U, Al Ashbun Manfaatul Ngawur dan berkolaborasi dengan Happy Salma dalam Hanya Salju dan Pisau Batu, Ayah mencapai apresiasi sangat besar lewat seri Dilan. Mulai dari Dilan ; Dia adalah Dilanku Tahun 1990 lalu Dilan 2 ; Dia adalah Dilanku Tahun 1991, sabtu ini seri ketiganya diresmiedarkan. Milea ; Suara dari Dilan. Buku ini sudah sangat ditunggu oleh para penggemarnya. Satu Tahun sejak buku sebelumnya diterbitkan. Isi buku seri Dilan sendiri merupakan sebuah rangkaian novel yang bercerita mengenai perjalanan dan pembelajaran hidup yang dikemas begitu renyah lewat cerita Dilan dan Milea dengan setting Bandung dekade 90an. Banyak ingatan digali dan perbandingan yang diadukan.

Cinambo Saturnite 135 mengangkat konsep Pensi (pentas seni ala anak SMA) lengkap dengan ornamen khas yang biasa kita temukan di acara serupa. Lampu-lampu hias, desain-desain grafis serta hiasan lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, hadir juga beberapa lainnya yang turut memeriahkan acara, mulai dari akustik solo yang mendayu, beatboxer sayr'i yang konon pertama dan satu-satunya di Indonesia dan dunia, Arafah (Finalis SUCA 2), serta Vanesha yang konon sebagai sosok Milea dalam ingatan Pidi Baiq.

Acara berlangsung sejak ba'da Ashar dengan penampilan solo akustik dan Beatboxer menyambut launching buku Ria Ricis bertamukan Arafah. Lalu jeda untuk melaksanak shalat Maghrib. Sebelum Pidi Baiq dan vanesha naik pentas, satu band akustik mengantarkan lagu-lagu mendayu sebagai pembuka. Suara gitar yang lembut mengiringi dua vokalis yang memiliki karakter suara yang nikmat didengar. Begitu usai beberapa lagu tersaji, dan waktu mulai merambat malam, Pidi Baiq dan Vanesha akhirnya naik ke atas panggung. Terpotong hujan yang meski tak deras tapi berhasil membuyarkan konsentrasi pengunjung, acara terus berlanjut hingga usai. Hingga Ayah menandatangani tak kurang dari 200an buku. Sekitar pukul sepuluh malam masa membubarkan diri, membawa ceritanya masing-masing, yang jika dilihat dari raut wajah dan gestur yang ditampilkan, bisa dikatakan sebagai senang.

 

*poto-poto diambil dari berbagai akun twitter.

Karya : agus geisha