Mario Teguh dan Kesialan Acak

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Kesehatan
dipublikasikan 16 September 2016
Mario Teguh dan Kesialan Acak

Saya tak begitu tertarik dengan keriuhan yang ditimbulkan oleh urusan keluar Mario Teguh, saya lebih tertarik dengan lagu lama yang dinyanyikan oleh anak saya setiap menjelang tidurnya. Tapi bagaimanapun, keriuhan keluarga Mario Teguh sampai juga ke mata dan telinga saya. Apa saya kaget? Haruskah saya kaget. Sama sekali tidak.

Suatu ketika, saat perjalanan panjang dari Bandung menuju Cianjur bersama salah seorang penulis yang begitu produktif, entah bagaimana awalnya, kami sampai pada perbincangan mengenai Mario Teguh. Dan saya masih tak tertarik. Iya, dia menyebutkan nama asli Sang Motivator Super, iya dia menyebutkan ketidaksukaannya juga. Tapi saya tetap tak tertarik.

Saya bukannya tak pernah ikut dalam seminar motivasi macam ini, pekerjaan saya memungkinkan saya untuk berada dalam gedung seminar. Dari motivator Muda Mulia sekelas Rendy Saputra  hingga motivator Sukses Mulia sekelas Jamil Azzaini, bahkan khusus dikirim oleh kantor untuk menyimak James gwee dari siang hingga petang. Saya tak pernah suka dengan orang-orang semacam ini. Memberikan petuah-petuah seolah hidup adalah kanvas yang sama pada setiap individu. Terlebih, saya sering menjadi saksi dan korban dari orang-orang yang mencari uang dari besar bacot di muka publik, di belakang berbeda sama sekali.

Kasus yang menimpa Mario Teguh adalah sebuah kesialan saja bagi yang bersangkutan, sama halnya dengan apa yang menimpa Gatot Brajamusti. Kesialan acak yang berbanding lurus dengan keberuntungan acak. Silahkan tambahkan ada campur tangan tuhan sesuai selera, meski sangat bisa jadi, tetapi bukankah apa yang kita alami adalah buah dari apa yang kita perbuat sendiri?

Suatu ketika, saya mengendarai motor dari Kaliurang menuju Jalan Jendral Sudirman di Yogyakarta, tarik lurus, melewati satu atau dua Traffic Light lalu sampailah di tempat yang saya tuju. Diperjalanan, pengendara motor lain mencuri perhatian saya, memakai kemeja yang kancingnya semua dibuka, badannya terhitung besar, dan kulitnya tidak khas orang Indonesia. mengendarai sepeda motornya dengan tergesa.  Dia melampaui saya. Jauh di depan sana, lalu lintas sedikit tersendat, kerumunan orang dan kendaraan yang melambat. Ketika sepeda motor yang saya tumpangi melintas dikerumunan tadi, saya melihat tubuh bersimbah darah dipinggir jalan dan pengendara yang menarik perhatian saya tadi sibuk mondar mandir. Ke warung, kembali dengan air kemasan, menggenggam telepon seluler. Saya menduga, dia sudah menabrak orang yang melintas. Inilah kesialan yang menimpa Gatot dan Mario, yang suatu saat bisa menimpa siapa saja seperti diberhentikan razia kendaraan bermotor di pinggir jalan padahal banyak kendaraan lain yang melintas.

Mengomentari keluarga Mario atau nasib Gatot tak perlu meminta ijin, sebab hal yang menimpa pada mereka sudah menjadi konsumsi publik meski -terutama kasus Mario- sejatinya urusan personal. Hanya saja, dengan hal itu kita harus belajar bagaimana bersikap atas apa yang kita ketahui, harus mulai belajar menimbang. Mana yang perlu disampaikan ke ranah publik, mana yang tidak.