Duet

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 September 2016
Duet

I

 

Sebagian orang akan merasakan hidup berada pada puncaknya ketika satu hal terjadi pada dirinya. Sangat memungkinkan hal tersebut bukan sesuatu yang diharapkan atau diduga sebelumnya, bahkan sangat mungkin hal itu adalah hal yang selama ini dihindari setengah mati. Ada yang mengalaminya ketika tetes sperma pertama keluar bersamaan dengan peluh yang keluar begitu deras dari sekujur tubuh dan erang yang tertahan ketika percintaan pertama di kamar hotel jam-jaman bersama kekasih yang tak begitu punya banyak uang, atau pada pertengkaran hebat bersama atasan di ruang rapat yang kaku dan angka-angka pada statistik pencapaian omzet dan laba serupa hantu yang selalu membayangi sehingga membuat kesadaran separuh lepas entah kemana, dan bahkan mungkin hidup akan begitu terasa ketika semua saluran oksigen kedalam paru-paru seperti tertutup dan kematian sudah sangat membayang pada setiap keping kenangan yang selama ini begitu menyesakkan dan mengecewakan. Detik berikutnya, kita akan merasa terbebaskan dari segala belenggu yang selama ini menjadi kutukan yang mengikuti kita kemanapun hela nafas kita bawa, dan disaat itulah, kita akan berdamai dengan diri kita sendiri.

Aku merasakannya pada detik dimana sepatu lars kesekian kali membuatku terpelanting di sisi kiri jalan layang membuatku terbang setinggi sepuluh meter dan terhempas ke taman kota dibawahnya sebelum pada akhirnya tubuhku bertranlasi sekaligus berotasi menggilas aspal. Sayup-sayup aku masih bisa mendengar dan merasa orang mengerumuniku, lebih banyak yang bicara dalam bahasa yang tak aku mengerti karena suara satu bercampur riuh dengan suara lain. Aku tak berani membuka mataku, terasa berat dan lengket. Sekujur tubuh terasa linu. Suara lain dari kejauhan terdengar lebih lantang, dia tak sendiri sebab dibelakangnya aku mendengar derap. Orang-orang menyingkir seiring perintahnya.

“Bubar! Bubar!”

“Bawa! Bawa!” Aku bisa mendengar kecergasan pada suaranya.

Tak lama aku mendengar mobil mendekat, aku diseret memasukinya. Bau darah yang lainnya tercium begitu amis. Suara gerutu melepas semua kesadaranku.

***

Senin pagi adalah saat terburuk yang harus aku hadapi terutama sebab akan ada layar yang menampilkan angka-angka dimana data memiliki makna dan manusia adalah entitas tak bernyawa.

Rapat evaluasi.

Rapat koordinasi.

Angka menjadi cerita hidup manusia, merubah alur dan episode. Tampil dalam setiap sel otak para pekerja dan laporan pertanggungjawaban.

Engkau tak akan bisa merasakan bagaimana cara mnikmati bintang ketika semua malam kau habiskan untuk membuat dan menyelesaikan perhitungan jual beli yang selalu bicara dengan bahasa untung rugi. Tak ada yang akan mampu. Juga Barus, marketing yang baru seminggu diperkenalkan pada dunia kerja seusai tiga atau empat tahun dalam hidupnya dihabiskan untuk masturbasi di gedung-gedung universitas mengikuti kelas dan seminar.

“Tidak ada yang sulit, terutama jika kita sudah pandai berbohong dan bisa mengabaikan nasib orang lain.” Jawabku kepada Barus ketika dia bertanya kendala apa yang sering dihadapi dalam dunia pemasaran produk.

Memang seperti itu. Jika kau sudah bisa berbohong dan terlebih lagi jika sudah pandai, maka memasarkan sesuatu menjadi hal yang sangat mudah. Jual krim pencerah kulit kepada orang-orang yang sangat khawatir dengan penampilannya dan katakan bahwa dengan produk yang kita bawa maka kekhawatirannya akan terpecahkan, meskipun kau selalu merasa waswas dengan penampilanmu sendiri. Atau kau bisa menjual buku kepada orang-oran yang merasa dirinya hebat sehingga sangat perlu menguasai banyak hal termasuk ilmu yang pada akhirnya sama sekali tidak akan berguna bagi dirinya atau dengan pengetahuan yang didapatnya dia bisa megibuli orang lain yang dia kehendaki. Menjual sesuatu adalah pekerjaan yang menyenangkan jika kau panda berbohong. Barus melongo sembari menghabiskan hisap terakhir rokok filternya.

Menjadi seorang marketing memang hanya perlu mulut besar dan tampang meyakinkan, membohongi rekanan adalah akibat dari itu semua. Tak ada yang salah sebab tujuan hidup manusia adalah untuk mengumpulkan uang dan mengakhiri semuanya liang lahad. Barus mempelajari itu semua dalam bahasa yang lebih halus kampus, sedangkan aku mendapatkannya di lapangan bersama polisi pamong praja dan preman yang serupa dan sama.

“Kau suka minum bir?” Tanyaku suatu ketika padanya.

“Dulu sekali aku bahkan minum yang kandungan alkoholnya lebih banyak dari bir.” Semua orang seperti itu ketika muda.

“Kapan-kapan menginap dirumahku, kita minum sambil ngobrol. Kalau kau suka bicara strategi pemasaran, sambil minum bir adalah waktu yang paling baik.”

Maka, sabtu setelahnya Barus berada didepan pintu kamar kontrakanku, membawa berkaleng-kaleng bir yang dia masukan kedalam tas ranselnya. Dia tak pernah tahu jika didalam kamar, aku memiliki persediaan ganja yang cukup untuk dua orang. Aku dan Barus.

“Pernah membayangkan Pak Bandi menghisap ganja waktu mudanya? Aku yakin waktu muda dia bahan olokan kawan-kawannya di sekolah. Hidupnya terlalu serius. Sekarang mungkin terlihat punya wibawa dengan uban dan perutnya yang seperti orang hamil.” Aku mengeluarkan selinting daun ganja kering. Barus sempat kaget dan Pak Bandi adalah kepala regional penjualan. Atasan kami di kantor. “Sudah agak susah sekarang. Banyak bandar yang ditangkap karena pemakai yang ceroboh.”

“Aku tak pernah membayangkan Pak Bandi hisap ganja, atau Martin yang bajunya selalu rapi setiap pagi dan berantakan setiap petang. Yang sering aku bayangkan adalah bagaimana gaya Marta di tempat tidur. Sama suaminya. Atau perempuan di kantor lainnya. Aku tidak tertarik dengan kenakalan orang-orang. Aku tertarik dengan birahi,” Barus menaruh kaleng birnya, menghisap rokok dan melanjutkan ocehannya, “ketika diatas, orang bisa sangat bebas. Sangat telanjang. Terutama ketika yang dihadapinya adalah orang yang disenangi. Kau pernah membayangkan Bu Dewi orgasme?” Dia menaruh rokoknya di atas asbak, lalu mengambil linting ganja yang sudah ku bakar dari sela kedua bibirku.

“Ya, itu juga. Aku membayangkan bagaimana bentuk payudara Dewi. Kau sering juga menbayangkannya?” kami tertawa. “Aku mulai bosan dengan senin. Bukan dengan senin, aku bosan dengan pekerjaan seperti ini. Membuat data, membuat rasio penjualan, membuat evaluasi pemasaran, angka-angka dan persentase yang naik turu. Aku bosan dengan banyak hal. Dengan hidup ini. Membosankan bukan?”

“Sebab itu kita punya bir dan ganja.”

“Bukan itu. Aku ingin melakukan hal lain. Sesuatu yang belum pernah aku lakukan. Bukan sekedar teler, tapi menjadi senang karena hal yang aku lakukan. Kau tahu? Aku sering membayangkan melempar mesin-mesin ATM yang berserakan, atau pura-pura gila dan berjalan tanpa arah seharian dengan pakaian kumuh dan tanpa sepatu. Paham?” Aku membuka kaleng bir lagi.

“Aku tahu. Bagaimana caranya? Melakukan hal yang tak biasa kita lakukan memerlukan nyali, bukan?”

“Memang. Keluar dari kebiasaan memerlukan nyali yang besar.”

Aku bangkit, mengenakan celana panjang dan jaket.

“Kau mau ikut?”

“Kemana?”

“Jalan-jalan.” Aku melihat, matanya sudah benar-benar turun. Menggelayut akibat asap ganja. Dia bangkit, mengenakan jaket dan menyalakan sebatang rokok.

 

II

 

Aku dan Barus melintasi jalan-jalan kota yang basah sehabis hujan. Tak banyak kendaraan lain yang melintas, orang-orang lebih memilih berdiam diri dirumah disaat seperti ini, terlebih sekarang sudah dini hari. Kami sudah sama sekali tak stabil, meracau kemana-mana. Polusi langit yang lahir akibat baligho dan papan nama, taman kota yang menjanjikan kebahagiaan, pemerintah yang pengeluh, sodomi industri, pasangan negara dan kemiskinan dan remeh temeh lain yang kadang tak kami ingat awal mula pembicaraannya.

Barus sudah mulai tak hanya meracau, dia ingin berulah. Dia memintaku berhenti di minimarket 24 jam. Aku mengikuti keinginannya. Dia masuk dengan langkah yang sangat konyol. Aku memperhatikannya dari atas jok motor. Dia membeli beberapa bungkus rokok, berbicara lumayan lama dengan kasir, lalu keluar dengan tawa yang aneh. Apa yang dilakukannya, aku tak peduli.

“Aku menawarinya perempuan di jalan veteran. Aku bayari kataku.” Dia tertawa. Aku tertawa. “Dia diam saja seperti tak punya penis.”

Aku turun dari jok motor, lalu masuk ke dalam minimarket. Meminta maaf kepada kasir. Aku membeli kapas dan obat merah, beberapa spidol ukuran besar berwarna hitam, tinta cair hitam, setengah kilo telur dan meminta tambahan. Lalu keluar menghampiri Barus. Lalu melaju dengan motor. Kami berhenti di pusat kota. Mall dan gedung pemerintahan berdampingan bersama hotel dan markas angkatan darat.

“Kau lihat baligho itu?” Aku menunjuk reklame besar yang terpasang dipinggir jalan. Perempuan dengan rambut panjang tertiup angin, senyum merekah, mengenakan kaus hitam untuk mempertegas rambutnya tak berketombe. Gambar botol sampo dan bius dalam bentuk kalimat.

Aku mengeluarkan belanjaanku, mengeluarkan telur, menetaskan satu ujungnya, lalu memindahkan isinya kedalam plastik. Setelah semua habis, aku memenuhi cangkang-cangkang telur itu dengan tinta cair hitam. Barus tertawa, padahal dia tak tahu apa yang akan aku lakukan. Setelah selesai, aku titipkan telur-telur itu pada Barus, aku panjat tiang baligho dengan diameter satu rangkulan lelaki dewasa, meniti anak tangganya satu persatu hingga sampai diujung. Aku menggapai bagian mata gambar perempuan itu, menambahkan warna merah dari obat merah yang aku lukis melalu kapas dan menambahkan efek hitam dengan spidol ukuran besar yang sudah kubongkar isinya. Matanya kini merah. Aku melihat Barus tertawa di bawah sana. Dengan isi spidol dan obat merah, diatas kepala perempuan tadi aku tuliskan “ZOMBIE”. Aku meminta Barus untuk melempar telur-telur tadi, harus mengenai tulisan reklame, kataku. Sambil turun, aku mendengar barus tertawa sambil melempari baligho. Begitu sampai dibawah, aku melihat baligho itu sudah berganti rupa. Aku dan Barus tertawa. Baligho zombie berukuran besar.

“Begini caranya bersenang-senang. Perlawanan visual.”

Aku memacu motor, kembali ke kamar kontrakanku bersama Barus. Hari sudah mau shubuh, tak lama lagi aktifitas akan menggeliat. Orang-orang akan berkumpul untuk menikmati basa-basi bernama Car Free Day dan baligho baru.

Sesampainya di kamar kontrakanku, kami masing-masing membuka kaleng bir lagi. Tawa sudah habis, yang tersisa hanya mata yang perlu tertutup. Aku persilahkan Barus tidur dibagian manapun dia suka. Hari itu, aku merasa apa yang aku imingkan menjadi nyata. Merasa senang.

 

III

 

Sabtu malam berikutnya merupakan petualangan yang tak pernah habis untuk ditertawakan dan tak mungkin dilewatkan. Kami melukis banyak hal pada papan-papan reklame, menjadikan lampu lalu lintas sebagai koleksi, mengecor gerbang balai kota dan hal lain yang bisa membuat kami tertawa hingga tertidur.

Di kantor, aku dan Barus seperti rekan kerja yang lain. Berbicara jika memang perlu, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang membuat pemilik perusahaan bisa melakukan hobinya diluar sana dengan tenang, membuat evaluasi penjualan, duduk manis di ruang rapat yang serba biru dan sesekali menggoda kawan sekerja. Sangat normal.

Perusahaan tempatku bekerja bergerak dibidang air kemasan. Air mineral, tonik, soda, perisa buah, susu dan banyak yang lagi yang lainnya. Semua dikemas dengan berbagai ukuran dan model. Aku bekerja di unit penjualan dan distribusi air mineral.

Aku akan menjelaskan bagaimana setiap hari kerja aku habiskan, jam delapan hingga jam lima petang. Tepat jam delapan pagi, irama semacam nada-nada yang tak enak didengar keluar serentak dari lubang suara di atap masing-masing lantai, semua penghuni gedung kantor berkumpul di lantai dasar kecuali satpam. Kami melakukan doa pagi bersama dipimpin oleh salah satu karyawan yang jadwalnya sudah ditetapkan tanpa melihat tingkat kesholehan. Masih dalam rangkaian acara doa pagi, dan dalam deret jadwal yang sama dengan pemimpin doa, masing-masing dari kami akan mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan sesuatu di tengah-tengah forum. Bentuknya bisa kata mutiara, kalimat motivasi, dongeng yang penuh ilham atau bahkan cerita lain yang sangat luhur. Jujur, ini adalah bagian paling menggelikan. Semua orang, pada dasarnya sangat ingin terlihat berwibawa, memiliki penilaian bahwa dirinya adalah orang yang cerdas dan berbudi luhur. Mulia.

Selesai semua prosesi itu, masing-masing karyawan akan sibuk dengan kerjaannya sendiri-sendiri. Aku, biasanya membuat data-data pesanan yang kemarin aku dapat dari relasi. Jumlahnya bisa puluhan toko. Selanjutnya aku serahkan kebagian adminstrasi penjualan, administrasi penjualan ke bagian administrasi gudang, lalu masuk ke koordinator umum gudang, lalu ke pelaksana gudang untuk penyiapan barang, lalu masuk mobil pengantar, dan mobil pengantar berangkat menuju toko-toko yang sudah ditunjuk setelah mendapatkan faktur dari bagian administrasi gudang. Aku, kembali berkeliaran dijalanan kota, menghampiri satu toko ke toko lain. Mengeoleksi lagi pesanan untuk kembali aku berikan ke bagian adminstrasi penjualan keesokanharinya.

Tapi tidak hari ini, sebab hari ini semua mobil ekspedisi kantor akan tak memiliki ban. Sebetulnya, ban masih menempel pada tempatnya, hanya saja semuanya termasuk serepnya sudah dalam keadaan kempis. Berpaku.

***

Sabtu malam ini entah sabtu keberapa Barus berada di kamar kontrakanku untuk bersama berbagi bir dan rokok. Kegiatan kami setiap sabtu malam terus berlanjut dan tak pernah henti. Bagi kami, ini adalah serupa candu yang tak bisa tidak tetap harus kami lakukan. Dan serupa candu, takaran kesenangan yang kami lakukan terus meningkat setiap kalinya. Kami mulai berpikir untuk melakukan hal lain dari biasanya.

“Baligho sepertinya sudah terlalu sempit untuk kita kerjai. Kita butuh sesuatu yang lebih eksklusif. Sesuatu yang lebih elegan dan sangat berpengaruh.” Barus mengawang. Aku menyalakan rokok, entah batang keberapa.

“Kita butuh hal yang lebih dari sekedar liputan di koran. penampakan baligho tidak pernah menyenangkan. Lucu sebetulnya memerhatikan polisi kebingungan mencari setiap ormas yang bertanggungjawab perihal baligho, tapi lama-lama menjadi jijik juga. Kau tahu kenapa? Karena, ormas-ormas yang merasa diri kiri itu seperti menjadi punya panggung pada akhirnya. Disebut dimana-mana dan bisa menbuat proposal.”

“aku ingin sesuatu yang lebih menarik dan menggelikan. Ada ide?” Dia menoleh padaku. Aku mengangkat bahu.

Malam itu, setelah tetap melakukan perjalanan yang tak kunjung sampai, kami melepas lelah seusai adzan shubuh. Kamarku masih berantakan ketika aku terbangun sekitar pukul sepuluh pagi. Barus masih dalam keadaan kantuk. Aku buka jendela, memandang keluar berselimut asap tembakau.

“Malam nanti kita jalan-jalan. Kita akan temukan petualangan baru.” Barus tak sadar apa yang aku katakan. Dia masih bermalas-malasan. “Aku ingin membakar rumah sendiri.”

***