Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Motivasi 10 September 2016   23:34 WIB
Menikahlah Anak Muda

Saya menikahi perempuan yang kini sedang hamil anak kedua kami pada tahun 2010, hari jum’at disebuah kampung yang kini tergenang air menjadi bendungan bernama Jatigede. Kami bukan kawan sejak kecil atau dipertemukan ketika SMA, kami sama-sama belum saling kenal setahun sebelumnya. Saya di Bandung, dia di Purwakarta. Kami diperkenalkan oleh seorang kawan diskusi yang juga saya kenal lewat aplikasi chat hasil lanjutan dari perkawanan di media sosial yang kini sudah bangkrut.

***

Suatu ketika di toko tempat saya bekerja, datang seorang pengunjung bapak, melihat-lihat buku dan berbincang.

“Sudah menikah, Mas?” Sambil tetap membolak-balik buku yang dipegangnya.

Saya kasih dia senyum.

“Belum siap?” Matanya menyapu sekitar.

Saya kasih dia senyum lagi.

“Menikah, Mas. Jangan tunggu hujan abu empat puluh hari empat puluh malam.” Dia berlalu, tak membeli buku.

***

Toko sedang sepi pagi itu, pagi menjelang siang tepatnya. Buang bosan saya tinggalkan toko, kunci pintu dan berlalu menuju warung kopi. Saya keluarkan telepon seluler sari saku celana, ketik sms dan mengirimnya. Membakar tembakau dan meniup asap. Telepon seluler berbunyi, saya lihat, balasan sms.

Insya Allah sudah siap jika ada calon yang baik.

Isi smsnya.

***

Awalnya saya berniat untuk sewa mobil, tapi paman yang saya mintai tolong untuk menemani saya dan keluarga menawari mobil dari kantornya. Mobil yang separuh badannya tertutup seng panas, mobil paket PT POS membawa saya, orang tua saya dan paman melamar perempuan yang kini selalu saya mintai ijin jika saya akan pulang tak tepat waktu dari tempat kerja.

***

Saya bilang, kita menikah sederhana saja, tak perlu hajatan. Kumpul keluarga saja.

Tapi tetap saja, dihari pernikahan kami, ada kue berhiaskan krim, ada upacara ini dan itu. Besoknya, saya boyong langsung istri saya ke Bandung dengan sisa uang di dompet sama sekali tak meyakinkan.

***

Hari ini, pernikahan sudah berjalan lebih dari enam tahun, pernikahan bukan sesuatu yang susah meski kadang memang tak mudah dan hujan debu empat puluh hari empat puluh malam belum datang.

Karya : agus geisha