Sepasung Sandal Jepit

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 September 2016
Sepasung Sandal Jepit

Hal indah apa yang bisa dijadikan contoh dari keluarga kami? Tak ada. Aku dan Eva bertemu dua tahun lalu, kami berasal dari keluarga yang sama tak memiliki sesuatu untuk dibanggakan. Kami menikah karena pengaruh alkohol berlebih dan kesepian yang berakumulasi menjadi dendam di dalam hati masing-masing. Perutnya membesar dan mengandung anak manusia. Aku tak pernah menyakitinya meski juga tak pernah bisa membuatnya bahagia, aku tak pernah menganggapnya sebagai bidadari meski tak pernah menghindarinya seperti aku menghindari setan. Kami berumah tangga, anak kami lahir, dan kami menyewa sepetak bangunan yang tak layak huni dipinggiran Kali Urang.

Setelah menikah, aku berusaha bekerja dan mendapatkan uang setiap hari atau minggu. Menjual mainan plastik atau ikut menjadi buruh bangunan, menjadi kondektur bus kota atau mengamen dari warung makan ke warung makan lainnya. Aku berhenti merokok dan minum alkohol, Eva juga. Kami bukan pasangan suami isteri yang romantis dan penuh kata gula, tapi aku selalu pulang setiap selesai bekerja dan tak pernah singgah di tempat lain. Kami memang bukan orang tua terbaik, tapi kami tak pernah membiarkan satu nyamukpun mendekati anak kami. Kami tak pernah menghabiskan hari libur di tempat wisata, tapi tak pernah ada tangis di kamar sewaan kami.

Aku tak akan pernah melupakan hari itu, minggu kedua dibulan mei, dua hari menjelang hari ulang tahun anak kami. Aku sedang memperbaiki rantai sepeda yang biasa aku pakai untuk bekerja di depan rumah, anakku sedang tidur. Istriku membuka pintu kamar yang langsung menuju depan rumah tempatku berada, membawakan segelas penuh teh manis panas. Siang menjelang, mentari tak terlalu menyengat, istriku dudu di teras beralas celana jean yang dikenakanya.

Aku tak pernah merasa bahwa dia secantik itu selama ini. Dia memang cantik, sejak bertemu aku hanya mengenalnya sebagai asap rokok, aroma alkohol, deru nafas malam terlarang, dan ibu dari anakku. Saat ini, diantara lumuran sisa cairan pelumas di tangan, aku ingin merengkuhnya dengan perasaan yang tak pernah kurasa sejak Ibu menjadi gila dan Bapak menjadi pengangguran, benalu keluarganya. Kamu cantik, aku mencintaimu. Kata terpenjara dalam kerongkongan. Aku mendekatinya, memindahkan letak gelas teh panas dan ikut duduk bersamanya di teras.

Aku diam, menghela nafas dan mengumpulkan kekuatan.

“Maafkan aku,” ini adalah kata maaf pertamaku padanya. Aku hampir tak tahu kenapa meminta maaf kepadanya. Aku hanya merasa, sejak mengenal Eva, aku tak pernah benar-benar menjadi ada dan menjadi cinta baginya.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan atau diterimakasihkan. Biarkan berjalan saja, biarkan mengalir seperti air di kerongkongan kita masing-masing. Aku juga bukan perempuan terbaik.” Dia mengambil gelas berisi teh panas yang dia bawakan untukku tadi, dia minum separuh. Aku biarkan, aku sudah terbiasa untuk tak memiliki apapun bersamanya agar semuanya menjadi milik bersama saja.

“Aku hanya ingin menitipkan satu permintaan. Jangan jadikan keluarga kita seperti keluarga orang tua kita. Aku ingin terus diingatkan untuk selalu memperjuangkan ini semua. Kamu, anak kita dan hidup yang tak mudah ini.” Sebab, bukankah hidup yang tak mudah adalah seni?

“Aku hanya ingin menitipkan satu permintaan. Jangan pergi dan menjadi sendiri lagi demi keluarga yang akan kita jaga agar tak seperti keluarga orang tua kita. Aku ingin berharap ini adalah akhirnya, ujung dari semua perjalanan. Dan kita akan sehidup semati.” Matanya menerawang kedalam keruhnya air teh yang tak lagi menyisakan hangat.

“Jika tuhan itu ada, dan surga merupakan hadiah untuk manusia, kita akan sehidup sesurga.” Aku membereskan sepeda yang sudah selesai kuperbaiki, memasang gembok antara roda dan rantai, lalu membimbing Eva masuk kedalam kamar sewaan, menenggelamkan diri kedalam hidup yang tak mudah bersama anak kami yang baru belajar berjalan.