Bayi-bayi utopi

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Bayi-bayi utopi

Kami kini datang dengan rasa cinta yang begitu agung, dalam heningnya rasa kasih yang mereka sembelih. Kami melaju dalam langkah yang berpadu dengan degup jantung, isak tangis yang belum pernah terdengar sebelumnya, menyakitkan

Kami mengitari sayap- sayap bumi yang yang kian menyedihkan, mengajarkan kesantunan bermimpi. Kami menembus setiap dinding budaya yang manghalangi. Kami masuk kedalam tulang sejarah yang akan kami ukir sendiri, hening...hening...dan tidurlah sahabat.
Perlahan kami masuki kepekatan yang mulai memperlihatkan wujudnya dalam kebeningan cahaya, kami masuki setiap gorong gorong yang tersisa. Kami terawangi setiap kekosongan hati, lantas kami lempari mereka dengan kayu yang tanpa kekuatan pun akan menembus kulit kebohongan, kami percaya. Pelan sekali kami berjalan di antara reruntuhan kemanusiaan, sesekali melihatnya dengan mata yang tak lagi sanggup memandang. Memahat hasrat ke atas pusara kemunafikan, lambat laun pusara akan berubah menjadi batu, tak lagi tertembus cahaya dari langit pengampunan.

Gerbang kami buka tanpa tenaga, tak terkunci karena tidak ada siapapun yang mampu menguncinya, melangkahkan kaki di bentangan tanah peradaban, kemudian menginggalkan kemurnian yang tercipta secara alami. Bila saja mereka ada di sini untuk melihat apa yang kami saksikan, jika saja mereka di sini menyaksikan kami menguliti ibu yang telah lama mendosa, jika saja kami tak pernah terlahir ke bumi untuk menikmati mimpi ini. Terus terang, tempat ini adalah realisasi dari setiap dokumentasi imajinasi yang hampir di bunuh mati, adalah sebuah lapang yang merebus kemampuan untuk memandang. Bangku-bangku telah di persiapkan, kami merasa tak ingin lagi pergi.

Apa yang harus kami katakan pada mereka agar mereka mampu menggambarkan kebeningan ini?. Di sini terpahat nama Tuhan dengan jelasnya, di sini tertulis setiap tanggung jawab yang mereka tinggalkan untuk kesombongan. Setiap langkah yang mengantar kami ke dekat matahari begitu jelas terekam, setiap tarikan napas yang kami hembuskan adalah usaha yang tidak sia- sia.

Menapaki setiap anak tangga puri, mengingatkan kami bahwasannya kami pernah hidup bersama. Menjelajahi lorong- lorong absurditas berwarna perak mengkilap, kami tahu tanah inilah yang dimimpi setiap puisi. Menelusuri rahim keabadiaan dalam kesaksian tak terbantahkan, kami percaya pada tanah ini.

Pada setiap puri yang menjadi tempat kami berteduh terlukis wajah manusia tanpa luka. Pada setiap istana tempat kami berlindung terekam muka setiap senyum yang tak hanya dari manusia. Hanya saja pada setiap anak tangganya di lumuri oleh darah orang- orang yang di anggap menyeberang.

Kami pulang kepangkuan ibu kenyataan, dengan peluh yang tanpa henti tercucur dari tubuh kami, perih. Kami kembali ke bawah selimut mimpi kami masing- masing, dengan rasa lelah yang membuat kami tak lagi ingin melangkah, pedih.

Sahabat, bila nanti kau kembali tanpa dendam yang mendalam, datang dan tanyakan padaku tentang segala hal yang ingin aku ceritakan padamu. Sahabat, seandainya kau dan aku satu.

  • view 180