Sajak-sajak lama

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Puisi
dipublikasikan 23 Agustus 2016
Sajak-sajak lama

ESENSI SEBIJI EMBUN.

Aku adalah sebiji embun di pantat daun

Menunggu saat ku lumpuh, runtuh

Ketika perginya subuh,aku akan siap jatuh

Aku menunggu waktu dimana namaku bukan lagi embun

Karena saat itu akan kucium harum tanah

Aku adalah bagian dari semesta

Batu,mungkin dia adalah batu yang akan aku sentuh saat aku jatuh

Tak apalah bila harus kujalani

Segalanya tak akan mungkin aku sesali

 

ANAK- ANAK KECIL

Ini sore melankoli sekali

Saya teringat masa kecil saya

Rumput dan kebun penuh liku

Sawah dan mandi lumpur

Perlahan saya menangis

Saya rindu pada itu

Kebodohan saya

Kepolosan saya

Mimpi saya jadi pahlawan tiap malam

Bagaimana anak saya nanti?

Siapa temannya?

Televisi atau monitor komputer?

Saya suka mandi lumpur

Saya suka duri yang menembus kaki saya sewaktu main bola hujan- hujan

 

LAGU RINDU

mungkin dia lebam biru ditinju rasa rindu

seperti aku duduk menunggu, sendu

biar kupetik mawar untuk kado tahun baru

agar luka cepat pergi berlalu

seperti awan hitam malam kucumbu

kuingin dia pun bingkiskan sekantung nada merdu

dan bila sepi itu datang padamu

kuharap kau tak mambisu seperti aku

ternyata cintamu tak lebih besar dari rasa tak perdulimu

aku yakin dia sedang merindu ; nya

 

ENGKAU

engkaulah matahari yang sudi berbagi cahaya dengan sore dan pagi

engkaulah matahari yang memandikan arsy dan juga bumi

engkaulah embun yang menolak bergumul dengan samudera

engkaulah embun yang ku pandangi setiap pagi seandainya aku terbangun

engkaulah debu yang bersinar terang sendiri di sahara

engkaulah debu yang mengisi kosong nya ruang jiwa

engkaulah "entah lah,aku sudah lelah"

 

LABIRIN AMORF

kita berada di kalandria

kau di pipa, aku di bejana

meski dalam satu wadah, tak ada turbulensi antara kita

kau tetap di pipa, aku tetap di bejana

darab rasaku dan rasamu hasilnya nol

karena dipikirmu tak ada aku

kau memiliki valensi terlalu tinggi

dan lajuku terlalu pelan untuk mensejajarkannya

gerakmu di pipa terlalu tenang, betul-betul membuat mustahil kita bersenyawa

harus kau tahu tak ada mitosis, tak ada kembaranmu, yang sepertimu

aku tunggu masa karantinamu selesai

dari dulu, sampai kini,mungkin sampai mati

harus aku akui, kau adalah pionir, adalah arsitek, adalah pelopor, adalah yang pertama, yang mampu mebuatku menjadi anomalian