Menyoal kenaikan harga Rokok

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Project
dipublikasikan 20 Agustus 2016
The Diary of the Sinner

The Diary of the Sinner


silakan menikmatinya seperti gula-gula.

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
Menyoal kenaikan harga Rokok

Setelah diumpan oleh Nafsiah Mboi, wacana dan lawakan mengenai kenaikan harga roko begitu gencar tersebar bak fans Erdogan akhir-akhir ini. Sebagian besar tentu mendukung wacana ini, sebagian lagi termasuk kedalam golongan yang berperasaaan sedap-sedap ngeri. Menghibur diri yang risau, jangan-jangan wacana tersebut segera terealisasi. Golongan kedua adalah golongan perokok yang khawatir terhadap saat-saat seusai makan, ketika buang hajat, ketika nongkrong bareng kawan dan banyak lagi saat lainnya.

Saya lebih senang menanggapi hal ini sebagai bahan untuk berpikir, sekedar iseng-iseng berhadiah bagi cara saya berpikir. Mengulang pengetahuan yang pernah saya dapatkan dari kawan yang paham perihal keuangan dan ekonomi makro, saya mencoba ambil asumsi dengan teori yang sama untuk kasus harga rokok ini dengan kasus pelanggaran oleh satu bank bermasalah. Maksud saya, apakah satu bank besar yang bermasalah dalam hal keuangan memungkinkan untuk dilikuidasi oleh pemerintah atau tidak? Bank besar yang cabangnya ada di hampir setiap kota? Bank besar yang yang sangat memungkinkan untuk menciptakan sedikit chaos seandainya bank tersebut dilikuidasi. Saya ulang lagi teori dan asumsi tersebut, copy-paste terhadap kasus harga rokok yang belakangan sedang sangat terndy dibicarakan dimana-mana.

Katakanlah bahwa isu perihal kenaikan harga rokok ini tidak disetujui oleh pemerintah, apa yang akan terjadi? Perokok akan terus meroko, perokok baru akan bermunculan, perokok lain akan berhenti karena satu dan lain hal, pabrik rokok akan terus berproduksi, akan bermunculannya merk rokok baru berbanding lurus dengan gugurna merk rokok yang dianggap gagal oleh produsen dan banyak hal lainnya seperti yang sekarang sudah terjadi termasuk dengan efek lanjutan dari beredarnya rokok. Lalu isu lain akan menghapus isu ini dengan cepatnya.

Kemudian, pikirkan apa yang akan terjadi jika hal sebalknya terjadi. Harga rokok naik hingga 250% atau katakanlah mencapai angka 40ribu hingga 50ribu atau lebih, apa yang akan terjadi? Karena rokok bukan merupakan barang dagangan bersubsidi, makan kenaikan harga rokok tak bisa dipaksakan, harus disiasati dengan pembebanan pajak dan cukai. Pembebanan pajak dan cukai akan dikenakan kepada perusahaan produsen rokok tentunya. Maka sudah sangat lazim jika perusahaan produsen –apapun bentuk produknya- akan memindahkan beban tersebut kepundak konsumen. Maka jadilah harga rokok itu menjadi mahal. Beres? Belum. Dengan harga yang tak mampu dijangkau oleh konsumen, maka pasar rokok akan menyusut, dengan begitu produksi rokok akan ikut diturunkan, dengan begitu, keuntungan produsen rokok akan berkurang. Langkah selanjutnya adalah rasionalisasi perusahaan terhadap karyawan yang ada di industri rokok. Jumlahnya? Bisa dibayangkan sendirilah.

Sebetulnya ada langkah yang lebih ekstreme yang bisa diambil oleh produsen rokok ketika pemerintah serta merta memberlakukan kenaikan pajak dan cukai terhadap produsen rokok. Produsen, distributor, agen dan pihak lain yang mengeruk untuk dari bisnis ini akan segera menutup usahanya dibidang ini. Tidak menguntungkan, untuk apa dilanjutkan? Berapa banyak orang yang akan hilang pekerjaannya dan apa yang akan mereka lakukan setelah kehilangan pekerjaannya? Apa yang telah dilakukan pemerintah selama ini terhadap pengangguran?

Ada ancaman sistemik yang akan timbul seandainya gagasan kenaikan harga rokok ini terealisasi, suka atau tidak.

  • view 187