Pulanglah Padaku

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Juli 2016
Pulanglah Padaku

Sukabumi petang itu begitu ramai, orang-orang berlalu lalang diantara kios di pasar dan juru parkir yang tak pernah berhenti dengan peluitnya. Jalanan sudah mulai teduh, tak sepanas tadi siang, dan sebagian kecil toko sudah tertutup. Aku berjalan menyusuri trotoar tua yang sudah tak terlihat lagi warna catnya, yang tersisa hanya ujungnya saja yang sudah patah dan keropos. Dibawahnya, selokan yang sesak oleh sampah plastik dan botol bekas air mineral. Cahaya mentari yang kekuningan mengintip dari celah bangunan bersama aroma senja yang sering dirundukan.

Aku masih ingat, di ujung jalan ini, tepat di teras toko kitab yang bangunannya mirip dengan pagoda disanalah awal mula kita berjumpa delapan tahun silam. Saat itu juga senja, hanya tak sesesak sekarang. Waktu itu pasar sama kokohnya seperti hari ini, hanya saja orang-orang masih sedikit dan bisa saling tahu meski tak saling kenal. Aku menemui parasmu yang digarisi rambutmu yang tertiup angin sore. Senyum yang lembut dan tatap mata yang sejuk. Namaku Mida, katamu hari itu memperkenalkan diri. Dan sejak itu, bagiku semua perempuan yang bukan Mida dengan senyum lembut dan mata sejuk tak layak dicintai.

Selesai itu, aku sering sekali singgah ke rumahmu. Bangunan kecil dengan halaman yang asri dan pohon tomat yang liar tumbuh dipekarangan. Kadangkala aku datang dengan tangan hampa, kadang aku bawakan buah tangan berupa kue yang kubeli dipasar. Saat itu, delapan tahun yang lalu, cinta pertama tumbuh dalam hati yang begitu remaja. Senang sama senang, dan birahi datang dengan sendirinya.

Aku masih ingat juga hari itu, tak mungkin aku lupa. Sebulan setelah kita berkenalan di teras toko kitab dengan bangunan mirip pagoda, ketika aku singgahi rumahmu di satu sore sabtu yang biasa , aku tak mendapatimu. Aku mengetuk pintu seperti biasa, berharap setelahnya segelas air minum kau suguhkan. Kau tak bukakan pintu, bapak dan ibumu yang menemuiku. Aku dipersilahkannya masuk dan duduk di ruang tamu. Tak segelas air minum mereka suguhkan. Aku bertanya, kemana Mida. Mereka tidak menjawab.

Hari itu, bapak dan ibumu memintaku untuk tak lagi datang dan singgah ke rumahmu. Tak perlu, katanya. Mida sudah kami jodohkan dengan anak kerabat dari Cianjur, kata mereka padaku. Air muka bapakmu terlihat tak menyiratkan apa-apa. Tak benci, tak suka. Aku ingin bertanya kenapa, aku juga ingin bertanya di mana Mida, bahkan aku ingin bertanya bolehkah aku bertanya pada Mida, tapi aku urungkan. Tak pantas. Aku hanya bilang pada mereka, aku menyukaimu, menyenangimu, ingin menjadikanmu sebagai istri. Mida sudah dilamar lelaki lain, anak kerabat kami, tak mungkin kami tolak. Jawab bapakmu padaku saat itu. Aku ingin meminta bertemu dengan mu waktu itu paling tidak untuk yang terakhir kalinya sebelum kau dinikahi orang, tapi aku urungkan. Tak pantas.

Belakangan aku tahu, lelaki yang menjadi suamimu adalah saudara jauh bapakmu, anak lurah dan sudah bekerja sebagai satuan pamong praja. Punya motor dan sudah memiliki rumah sendiri. Aku tak ingin menduga, tapi apa ini yang menjadi penyebab perjodohanmu itu? Apa karena aku hanya pekerja harian lepas yang tak memiliki tunjangan apapun? Sungguh aku tak ingin menduga. Pada akhirnya, senang atau tidak aku harus mengikhlaskannya. Mengikhlaskanmu, Midaku.

Aku membawa sakit hatiku selama delapan tahun, membawanya ke Bogor bersama sopir truk angkutan pasir selama berbulan-bulan, membawanya ke Bandung bersama gulungan kain di Cigondewah tak kurang dari dua tahun, membawanya tersaruk-saruk di kebun teh di Lembang. Sebelum aku kembali ke Sukabumi. Selama delapan tahun, tak pernah lagi aku menemui Mida dengan senyum yang lembut dan mata yang sejuk. Apakah engkau ataupun yang lainnya.

Seminggu kemarin, aku mendapati kabar, suamimu meninggal sebab penyakit jantungnya yang sudah tak bisa diobati. Sudah setahun kau menjanda kata kabar yang lain. Dan kabar samar itulah yang membawaku kini disini, mencoba mencari jalur jalan dimana Midaku kini berada.

Aku memasuki lorong waktu,mengembalikan ingatan tentangmu, tentang pertemuan pertama kita di ujung jalan sana.

Rumahmu, kini agak lebih besar, halaman yang dulu ditumbuhi pohon tomat liar itu kini ditanami bata dan tembok yang kokoh dan hanya menyisakan teras kecil di depannya. Aku mengetuk pintu sekali, aku mengetuk pintu dua kali. Seorang tua membukanya, menyapit sebatang rokok diantara telunjuk dan jari tengahnya. Dia mengernyit, mencoba mengingat. Mida ada, tanyaku padanya. Mida dirumahnya, jawab lelaki tua itu. Lalu aku meminta alamat rumahmu. Aku berpamitan, dia mengangguk dengan asap rokok yang beterbangan di udara teras rumahmu yang lama.

Cianjur, seperti juga kota lain yang pernah aku singgahi, memiliki baligo dan spanduk partai politik yang merusak langit. Juga memiliki terminal angkutan yang disesaki preman dan pungli. Sebelumnya, aku pernah sekedar melintas di jalan penghubung Sukabumi ke arah Bandung, atau dari Purwakarta menuju Sukabumi. Tapi tak pernah benar-benar berada didalamnya, meski didalamnya ada kau.

Hari ini dibelakang alun-alun, pada ruas jalan yang tak begitu lapang, aku mendapatimu sedang duduk di teras rumahmu yang mengkilat. Secangkir kopi yang sudah tak penuh lagi menemanimu, aku membuka gerbang rumahmu, tersenyum dan menyapa.

“Aku sudah menunggu, sangat lama. Setiap petang dengan secangkir kopi duduk disini.” Katamu.

“Aku baru dengar kabar seminggu kemarin. Baru tahu.”

“Aku harap semua sama seperti semula, sama seperti pertama kita bertemu.”

“Aku juga. Aku juga tak ingin terus hidup bersama perasaan sakit hati seperti ini.”

Lalu kau diam, sedikit air mata mengalir dari sudut matamu. “Aku tidak bisa menolak permintaan orang tuaku. Aku perempuan, tak pantas menolak pinangan laki-laki.”

“Lupakan, lupakan semua. Aku datang untuk menjemputmu kembali ke hatiku. Delapan tahun atau seratus sama saja, aku akan terus menunggu. Midaku.”

Aku, sejak saat itu, menemukan kembali Mida dengan senyum yang lembut dan mata yang sejuk.

  • view 231