Buku adalah sumber komoditi

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Mei 2016
The Diary of the Sinner

The Diary of the Sinner


silakan menikmatinya seperti gula-gula.

Kategori Acak

2 K Hak Cipta Terlindungi
Buku adalah sumber komoditi

Beberapa waktu lalu, ketika ada tugas kantor di Cirebon, saya menginap di salah satu hotel disana. Pagi setelah malamnya saya melepas lelah, seperti orang kebanyakan, saya mandi. Lalu menghabiskan pagi dengan beberapa batang rokok dan secangkir kopi di teras lantai dua hotel tersebut. Tetangga kamar saya menghampiri, seorang bapak yang juga sepertinya juga sedang ada tugas kantor di Cirebon. Pinjam sisir, lalu duduk bersama di teras lantai dua. Dia merokok, tapi tidak minum kopi. Kami berbincang.

Waktu itu, sedang ramai perbincangan perihal kabut asap kebakaran hutan di Sumatera. Pekanbaru dan sejumlah kota lain, udaranya tak layak untuk di hirup. Kami berbincang mengenai ini. Mengenai siapa tersangka pembakaran hutan, mengapa dan apa cerita selanjutnya.

Pembakar hutan di Sumatera kebanyakan adalah korporat-korporat yang bergerak di bidang perkebunan. Sawit salah satunya. Hutan di bakar agar bisa ditanami sawit yang hasilnya lebih menjanjikan ketimbang pohon-pohon kayu yang lama menghasilkan uang. Pegusaha-pengusaha sawit ini bukanlah orang-orang baru. Mereka adalah orang-orang yang memiliki nama, koneksi dan bahkan berkekuatan secara politis. Saya tak perlu menyebut namanya satu persatu. Mereka yang membakar hutan di Sumatera adalah orang-orang yang sama yang juga menggundulu hutan di Kalimantan dan juga Papua.

Selain akan dijadikan lahan perkebunan sawit, pembakaran hutan juga dilakukan oleh para pengusaha kertas. Memanen pohon yang bahkan batangnya belum sampai sebesar paha bayi. Mereka kebanyakan memaksa produksi untuk memenuhi permintaan konsumen.

Sudah lebih dari lima tahun belakangan ini, saya berkecimpung di industri perbukuan. Awalnya, saya hanya suka membaca dan menulis. Benar-benar hanya suka. Berjalan kaki ke kamar kontrakan teman yang memiliki koleksi buku, membacanya hingga sore lalu pulang. Malamnya saya menulis, dengan sebatang pensil yang sudah pendek di atas kertas bekas kawan yang lain. Tak ada komputer. Saya menulis sajak, cerpen, sajak lagi, cerpen lagi. Sebelum saya menjadi bagian dari industrinya.

Sebelum berkecimpung di dalam industri buku, sempat juga satu atau dua kali saya menemukan buku yang membuat saya istighar berulang kali saking jeleknya tulisan tersebut. Saya orang setuju bahwa tulisan itu ada yang jelek. Benar-benar membuat saya sedih. Dimana tanggung jawab penulis dengan kertas yang dipakainya? Dan hari ini, setelah lebih dari lima tahun berkecimpung di industri buku, kesedihan saya semakin dalam. Gudang sesak dengan buku-buku bagus yang tak laku, dan toko-toko buku sesak dengan cerita-cerita yang membuat mual. Apakah ini selera? Tentu bukan. Semua didesain sebagai pasar.

Saya rasa orang se”bocor” Raditya Dika kadang ada benarnya, bahwa komika/stand up komedian berbicara mengenai keresahannya, sebab (ini mungkin terusannya), jika tidak berdasar pada keresahannya, maka komedinya akan sama sekali tidak lucu. Sama seperti penulis yang tidak menuliskan keresahannya, apapun yang ditulisnya adalah sebungkus mie instan saja. Dan yang seperti ini banyak sekali saya temui di arena-arena bedah buku. Dan kesedihan  saya, semakin dalam lagi.

Jika untuk memproduksi seribu eksemplar buku memerlukan sebatang pohon Eukaliptus, maka, perlu berapa orang bodoh yang menulis untuk membuat hutan menjadi gundul?

  • view 129