Merawat Hantu

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Mei 2016
The Diary of the Sinner

The Diary of the Sinner


silakan menikmatinya seperti gula-gula.

Kategori Acak

1.9 K Hak Cipta Terlindungi
Merawat Hantu

Waktu kecil, orang tua saya tidak pernah menakut-nakuti saya dengan hal-hal yang berbau hantu. Kendati rumah baru yang kami tinggali adalah daerah yang belum banyak penghuninya, rumah yang baru setengah jadi, belakang rumah yang berupa sawah, kebun-kebun rindang di sisi kanan dan kiri rumah. Dan di ujung desa adalah area pekuburan warga. Saya tidak pernah ditakuti-takuti oleh hal-hal berbau hantu meski orang tua saya kerap bercerita hal-hal tak masuk akal yang terjadi pada jaman dulu. Hal-hal yang juga mengenai hantu.

Belakangan, negara kembali memakai PKI dan juga Komunis sebagai momok yang menakutkan dengan cara terang-terangan. Memberangus buku dan mendukung pembubaran kegiatan-kegiatan yang dianggap serong kiri. Sebelumnya, jauh sebelumnya, label PKI atau Komunis selalu dipakai aparat untuk mereka yang menolak menjual tanah untuk proyek pembangunan bangunan bendungan di desa tergenang Jatigede, Sumedang. Dan juga di wilayah lain yang memiliki kasus yang sama. PKI dan Komunis begitu menakutkan.

Hal seperti ini tentu turun temurun diwariskan sejak rezim presiden ke-dua.

Saya sendiri, mulai mengenal komunisme sejak mula berkenalan dengan buku. Buku-buku pertama saya termasuk buku-buku yang tidak terlalu lazim untuk dibaca anak SMA waktu itu. Buku mengenai pesantren Al Zaitun di Indramayu, buku mengenai Osama Bin Laden, buku mengenai Anarki yang kesumuanya tak pernah saya beli.

Komunisme, seperti juga dikatakan oleh Imparsial sudah tak memiliki daya tarik apa-apa. Terlebih untuk di Indonesia jika ia dipandang sebagai ideologi politik perwakilan. Hari ini, yang percaya pemerintah dan negara hanya mereka yang memiliki kepentingan. Kekuasaan dan kekayaan. Komunisme sudah lagi semenarik dulu seiring runtuhnya soviet dan Poros Peking. Sehingga, mereka yang melakukan pembredelan terhadap buku-buku yang dianggap kiri terlebih meminta masyarakat yang memilikinya untuk menyerahkan buku tersebut adalah tindakan berlebihan, atau dalam kamus anak hari ini adalah ‘lebay’.

Saya percaya, bahwa tidak ada lagi individu bebas yang menganggap Komunisme adalah harapan masa depan. Menjadikannya sebagai tujuan politik dan menghayalkan bahwa negara yang ditinggalinya akan seperti Korea Utara yang tak memiliki Idol Group itu. Pemuda atau pemudi mana yang cukup bodoh untuk berpikir bahwa negara yang asyik itu adalah negara yang tak memiliki JKT48 sepaket dengan bening pahanya?

Jika seandainyapun mereka itu ada, orang-orang yang percaya bahwa Komunisme mampu menjadi pembeda nasib dibawah tiran negara. Dan seandanyipun lagi saya pada akhirnya harus percaya bahwa mereka itu ada, maka kesimpulan saya hanya satu, bahwa mereka itu terkurung dalam mimpi yang sama yang sedang diarungi oleh para pemberangus buku, pendukung pembubaran kegiatan yang menurutnya adalah kekirian. Mereka adalah dua kubu yang saling berhadapan yang sama terbius oleh khayalnya sendiri.

Jikapun Komunisme itu adalah sesuatu yang menakutkan, menyeramkan, harus dilawan dan memiliki sifat negatif lainnya, maka saya adalah orang pertama yang akan mengenalkan hal itu kepada anak saya agar seandainya hal tersebut harus dilawan, maka anak saya tahu apa yang sedang dilawannya.

Atau sebaliknya.

Selamat Hari Buku Nasional !