Surat Cinta Ramdhan

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Mei 2016
The Diary of the Sinner

The Diary of the Sinner


silakan menikmatinya seperti gula-gula.

Kategori Acak

1.9 K Hak Cipta Terlindungi
Surat Cinta Ramdhan

Tak bisa dipungkiri bahwa aromanya mulai tercium sejak rombongan pariwara squash delight dan Deddy Mizwar yang berperan ganda berbondong-bondong menghias layar kaca para pirsawan. Dibulan yang paling disakiti bernama Ramadhan, bahkan konon kerak nerakapun akan berubah wajah menjadi agen surga yang super sibuk.

Ramdhan datang seperti dirindukan, dipeluk begitu erat pada awal kedatangannya untuk lalu dilupakan pada akhirnya. Berganti pamor dengan proyek perbaikan jalan, parcel industri, berita mudik dan arus balik hingga akhirnya hilang dalam basa-basi kenangan.

Yang terjadi pada ramdhan ketika saya masih kanak-kanak adalah sebuah nuansa yang begitu beda. Shubuh yang dihabiskan dimasjid hingga pagi hari, pagi hingga siang dan sore berbagi antara sekolah, tidur siang dan thread lokal bernama “ngabuburit”. Menjelang maghrib, biasanya setan bernama ‘menabung bekal buka puasa’ mulai merayap kesemua penjuru. Orang-orang pada sibuk menyiapkan makanan dan minuman manis, gorengan, berdesakan dijalanan dan tak kurang saya menyaksikan perkelahian pada waktu-waktu seperti ini.

Saya hampir tak mengenal tradisi mudik jika tidak melalui televisi, orang tua saya tak punya kampung untuk didatangi. Keduanya dari daerah yang sama di pinggiran Bandung, sehinga menjelang lebaran biasanya hanya akan ada dapur yang sibuk menyiapkan kue-kue dan makanan khas lebaran lainnya. Persiapan suguhan untuk tamu yang tak pernah benar-benar datang. Saya kepada istri saya selalu berpesan, jangan berlebihan untuk sesuatu yang memang tak akan pernah datang. Tak perlu membuat ketupat, tak perlu repot buat kue. Buat apa?

Kenyataan hari ini, yang saya dapati menjelang ramadhan adalah berhimpitannya botol-botol sirup di supermarket-supermarket, berbagi durasi iklan di kanal-kanal media, dan proyek-proyek yang entah seperti apa selalu mendesak di bulan-bulan ini.

Setelah lebaran, bahkan sebelum dia habis, ramdhan sudah tak akan memiliki apa-apa lagi. Dia akan segera berkemas untuk cepat pergi meninggalkan kerumunan orang-orang di pasar dan swalayan. Langkahnya ringkih, tersaruk-saruk diantara kerikil dan debu jalanan. Dia sudah sebegitu dikhianati dan siap pergi sebagai senyap setiap perigi. Dan pada akhirnya, kita akan melupa dia selupa-lupanya pada halal bi halal di kantor kita masing-masing.