Solituda

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Mei 2016
Solituda

Kadang-kadang terasa lindu, kadang haru. Pagi seolah meleleh bersama pegal pada pundak dan mata yang sembap. Perlahan, suara hari mulai terdengar. Derap kaki manusia fajar, menghirup embun, menyawai pasar. Saat-saat seperti ini, waktu seolah mengendap-endap layak maling yang enggan tampak muka. Dan ruang bagai asap. Menguap.

Engkau mulai muncul dalam darah dan dagingku, mulai merasuk ke dalam jiwaku ketika aku mulai tak lagi dapat membedakan kantuk dan sendu, ketika aku tak dapat mencari beda cahaya dan kegelapan.

Aku menemuimu ketika pagi baru merekah bersama bau harumnya yang diterbangkan angin. Pada bangku kosong di taman yang mulai menolak didatangi. Bunga-bunganya mulai liar, tanahnya gembur hangat. Seperti senyum getirmu yang biasa.

Engkau berkaus putih lusuh dan berambut kuyup.

“Pagi sudah kembali,” katamu.

Aku mengeluarkan rokok dari saku jaketku. Meyodorkannya padamu. Mengisapnya. Dalam.

“Kemarin aku bertemu Frans. Dia mulai mengeluh ini dan itu. Sepertinya dia tidak bakal bertahan.” Engkau dan kepul asap rokokmu menyembur.

“Ada yang harus tetap menjaga semua ini. Mungkin engkau pun akan lelah. Tapi entah. Aku tak pernah tahu apa yang kaucari dengan semua ini.” Aku duduk di sampingmu sambil membenarkan letak tas ransel yang selalu kau bawa.

***

Suatu ketika, engkau pun pernah datang padaku dengan harapan yang menetes dari pelipismu. Sore yang masih benderang dan hangat. Lama kita tak bertemu sebelum ini, sejak engkau beranjak meninggalkanku di pinggir pantai yang hendak kita arungi. Engkau menolak menemaniku.

“Lain kali, kemari agak siang, sore seperti ini terlalu baik untuk dikhianati.” Aku duduk, mempersilakanmu duduk.

“Aku pernah pergi. Pernah berangkat dari semua mimpi yang kita daki bersama. Tapi ...” Engkau diam. Kenapa, lidahmu tersedak?

“Aku membawa kabar. Frans gagal ginjal.” Begitu pandai, kau masuk padaku melalui orang lain. Orang yang kau tahu betul tidak mungkin kusakiti.

Frans, kawanmu, kawan kita yang hanya bisa memberi dan tak pernah berharap dipuji. Kau dan aku menyayanginya bersama-sama, saling mengingatkan dia tentang harapan. Tentang luasnya langit.

“Frans membutuhkan seseorang yang tak hanya bisa membuatnya bertahan, dia perlu seseorang yang cerdas. Kau.” Kau beranjak, meninggalkan aku dengan segala khayal yang meluap-luap.

Mungkinkah aku dan Frans meninggalkanmu. Aku rasa kau sedang bersiasat agar aku merasa puas. Kau mengatur dendam yang tak pernah kuinginkan.

Aku beranjak, menemui Frans malam itu juga. Semua telah kuputuskan. Aku sudah lelah denganmu. Harapan yang kaugantung pada ribuan prosa setiap kita menuju bibir pantai seusai mengarungi laut dengan sederhana.

***

Dan waktu berjalan, semakin lapang. Tenang dan terang.

***

Kita pernah, suatu ketika, pada pagi, berada di taman yang menjadi tua sebab usia kini. Mari jenguk dia. Aku rindu. Esok pagi pasti bagus. SENDER MICHELLE.

***

“Frans, suamiku, sekali dua kali memang mengeluh. Tentang keadaan kami, tentang rumput yang belum dipotong, tentang apa pun. Seperti juga keluarga yang menempati kamar di samping kamar kami. Semua normal.” Kembali engkau mengepulkan asap rokokmu. Dan aku.

“Aku sudah memilihnya. Aku bahagia, senang dan menikmatinya.”

“Sudah siang, dan semua seperti kemarin.” Aku berdiri, berjalan meninggalkanmu.

***

I Love you like I loved you yesterday. I love him like I will love him tomorrow. SENDER ANNE.

**

  • view 79