Pseudo Ruas Jalan Kredo

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Mei 2016
Pseudo Ruas Jalan Kredo

Jika ada paras yang harus aku ingat, paras itu adalah paras lelaki berkulit cokelat gela dan bermata tajam. Hanya itu yang aku dapatkan, sebab selebihnya dia menutupi wajahnya dengan masker dan topi dengan pet berwarna putih. Lengan bajunya panjang hingga ke pergelangan tangan, sepatunya panjang hingga hampir menyentuh lutut. Sering lelaki itu aku dapati berdiri di tengah jalan, atau di pinggir jalan meski beberapa kali aku juga menemuinya sedang duduk tenang di pos perempatan jalan. Rokok menmepel di sela bibirnya. Setiap kali aku berkedara, dan harus berpapasan denganya, maka aku harus menepi, berbasa-basi, dan akhirnya harus benar-benar menepi ke pos perempatan jalan. Seperti pagi ini.

Aku memang salah mengambil keputusan, aku ambil jalan lurus, jalan yang kupikir akan lebih cepat mengantarkanku ke kantor. Aku harap tak ada macet. Ternyata macet, kendaraanku melambat pada jalan yang menikung, dia berada disana, lelaki itu. Dia melihatku, lalu memintaku menepi. Dia memperhatikan pelat seng yang menempel pada bagian depan motorku.

“Dua tahun ini belum dibayar pajaknya?!” Lelaki itu tak sedang bertanya. Dia sedang menghakimi.

“Iya, Pak. Ini saya belum ada uang untuk perpanjang pajak.”

“Terus kenapa kamu pakai? Mana SIM?”

“SIMnya belum ada, Pak.” Aku melempar pandang ke sembarang arah.

“STNK ada?” Aku merogoh saku celana, mengeluarkan dompet, lalu mengeluarkan yang dimintanya. “Nah, STNK sudah mati, SIM tidak ada. Jadi apa yang harus ditahan?” Aku tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia memintaku mengarahkan motor ke pos yang biasa dia diami setiap hari.

Jalanan masih macet, aku pasti telat sampai kantor, staf personalia perusahaan pasti akan memiliki banyak sekali pertanyaan dan sanggahan yang harus kuhadapi. Jalan menuju kantorku masih jauh. Aku masih harus melewati kumuhnya pasar kecamatan yang dibiarkan tak teratur sejak aku bayi, melewati kantor kelurahan yang masih sepi pegawai dan ramai pedagang, melewati stasiun pengisian bahan bakar kendaraan, melewati sekolah, melewati tali kutang yang membayang pada kaus tipis perempuan pembawa belanjaan bersama suaminya, melewati persoalan yang tak kunjung henti.

“SIM tidak ada, pajak tidak dibayar. Jadi apa yang bisa saya tahan?” Dia mengeluakan buku dari dalam kantong yang ada pada sepatunya. “Saya kasih tahu, STNK tidak berfungsi lagi, tidak ada SIM. Jadi berapa dendanya.”

“Ya, mohon kebijaksanaannya, Pak. Motor ini saya pakai untuk kerja.”

“Ya, bagaimana? Mau diselesaikan di kantor saja? Motornya saya tahan.”

“Jangan ditahanlah, Pak. Ini kan saya harus jalan ke kantor?”

“Di mana kantornya?” Ini tentu bukan karena lelaki berkhaki dan bermata tajam itu peduli pada apa yang aku lakukan setiap hari.

“Saya kerja di timur, Pak. Di pabrik kertas.”

“Jadi sekarang bagaimana? Selesaikan di kantor saja, ya?”

“Minta tolong, Pak. Motornya saya pakai buat kerja.”

“Ini, saya kasih lihat denda yang paling kecil.” Dia membalik bukunya pada lembar pertama, memperlihatkan angka-angka. Jumlah rupiah.

“Pak, saya di dompet tidak ada ...”

“Saya kan tidak bicarakn dompet kamu.” Dia menghentikan ucapanku. Aku diam.

Yang terjadi hari ini adalah sebuah pengulangan dari hal yang pernah terjadi sebelumnya. Selalu begitu. Lelaki itu, sudah lebih dari empat kali menangkapku. Aku memberinya seratus ribu rupiah, aku nyalakan lagi motorku. Lima puluh ribu, aku nyalakan motorku. Seratus lima puluh ribu, aku nyalakan motorku. Lagi, dan lagi, dan lagi. Dengan uang seperti itu, mereka bisa dibeli. Bayangkan jika aku memiliki uang lebih banyak, apa yang bisa kubeli. Pantai di utara Jakarta, gunung di Rembang, hutan Papua dan nyawa jutaan jelata.

Aku mengeluarkan selembar uang seratus ribu, melipatnya, lalu menyodorkannya kelelaki itu. Dia melihat kearah uang itu.

“Ya sudah. Ini coba kamu urus, bayar pajak, bikin SIM. Dicicil saja, SIM dulu, lalu bayar pajak. Kan gampang.” Dia menyerahkan dokumen milikku, dan seperti biasa, aku nyalakan lagi motor bututku.

***

Pekerjaan seperti yang aku tekuni hari ini tak pernah ada keterkaitan dengan jam kerja, semuanya berkaitan dengan hasil. Orang-orang yang bekerja sepertiku akan pulang hanya ketika sudah mendapatkan hasil yang terbaik. Jam kerja adalah basa-basi yang diributkan oleh orang-orang yang bekerja seperti mesin, sedangkan orang sepertiku memiliki kuasa penuh atas apa yang aku kerjaku.

“Ayah pulang!” Kedua anakku berebut keras menyambutku dengan suaranya ketika mereka mendengar suara sepeda motorku mendarat di teras rumah. Aku menangkap mereka, memeluknya. Di belakang mereka, istriku merekahkan senyum.

“Mau dibikinkan kopi, Yah?”

“Teh tawar saja, Bu.” Aku duduk di kursi rotan yang ada di teras rumah, menanggalkan lars.

Menjadi lelaki, bersekolah dan harus menjadi yang terbaik, mendapatkan pekerjaan impian, mendapatkan istri cantik, memiliki anak-anak yang bisa diandalkan. Kadang aku lelah. Dunia ini selalu berjalan dengan sistem yang deskriminatif, siapapun yang memiliki uang, maka dia yang akan menjadi pemegang kekuasaan. Industri dan pemerintahan berjalan seperti ini. Aku tahu karena aku berada di kedua hal tersebut. Industri jual beli kebijakan sebagai aparat pemerintah.

Istriku datang dengan segelas besar teh tawar. Belahan dadanya sengaja dibuat terlihat, aku tahu itu. Aku tahu semua gelagat istriku. Aku menyuruhnya agar menidurkan anak-anak.

“Anak-anak suruh tidur, sudah malam.” Dia tersenyum, senyum yang beda yang aku dapati siang tadi ketika aku lewatkan dengan Poppy. Atau dengan Risna hari sebelumnya, atau dengan Angel seminggu sebelumnya.

Malam yang tenang, kerinduan kepada masa kecil yang tak mempersoalkan apa-apa meski apa yang dibutuhkan sama persis dengan apa yang semua orang butuhkan. Anak-anak adalah makhluk yang abai, pribadi yang sangat yakin bahwa kebutuhannya akan terpenuhi. Ketakutan, jikapun dia datang, dia akan datang tidak sebab diri sendiri. Aku menghela nafas, membuang asap rokok.

Hari ini sudah tak ada lagi keluguan, sebab keluguan adalah penderitaan.

Istriku datang pada hisapan terakhir rokok ketiga.

“Anak-anak sudah tidur, Yah.” Dia tersenyum. Aku membalas senyumnya.

“Aku mandi dulu. Hari ini jangan pakai lingerie, pakai daster saja. Aku suka kamu apa adanya hari ini.” Aku bangkit, menuju kamar mandi, membersihkan kuman dan benci. Dan pornografi selalu memiliki caranya sendiri untuk memasuki kamar pengantin manapun.

***

Hari ini semua kota berubah menjadi New York, dan kita tak memiliki apapun untuk bisa memilih. Seolah-olah.

  • view 65