Bangun dong, Lupus !

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
Bangun dong, Lupus !

Hanya saja sayang, dihari penjuarian 100 naskah terpilih dan saya diminta datang, saya tak bisa datang. Naskah jadi gugur, jadi saya bagikan saja untuk sekedar dibaca sambil naik angkot. SIlahkan :

 

Bangun dong, Lupus!

Senin pagi adalah waktu paling genting di rumah Lupus. Saat-saat seperti itu akan terasa seperti sudut runcing yang akan menentukan seperti apa siang hingga malam kehidupan Lupus dan Lulu. Adik Lupus. Sebab, setiap senin pagi akan selalu terulang perbincangan, atau intruksi Lulu seperti ini :

“Lupus! Bangun dong, cepet. Pliss lah, Pus. Cepet bangun. Jangan sampe Mamih konser tunggal. Ngga kuat gua klo harus denger Mamih konser tunggal.”

Biasanya, jika hal diatas pada akhirnya tak berhasil membangunkan Lupus, maka kejadian selanjutnya akan seperti ini :

“Lupus! Bangun! Kamu tuh kapan mau kaya gini terus?! Udah sering Mamih bilang jangan suka begadang klo tiada artinya! Begadang boleh saja klo ada perlunya! Cang Ma’mun udah kawin tiga kali! Haji Sobari udah nyaleg! Kamu mau kaya gini terus?! Bangun pagi aja harus Mamih bangunin!…”

Tiga titik selanjutnya itu adalah kalimat-kalimat tak putus dalam satu tarikan nafas Mamih yang tidak akan berhenti hingga terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, lalu tertutup, terdengar suara air mengalir, lalu pintunya terbuka lagi tanda Lupus sedah selesai mandi.

Tiga puluh menit sebelum lonceng sekolah berbentuk besi bekas pondasi berbunyi sebab dipukul mirip kentungan hansip malam oleh penjaga sekolah, adalah tepat dimana dua makhluk tak jelas asalnya akan muncul dipagar rumah Lupus. Yang satu berkulit hitam, berambut kriting dan bernasib selalu sial. Yang satunya lagi, berbadan besar seperti sepuluh galon air mineral ditumpuk jadi satu, selalu merasa bahwa dia hidup sejaman dengan angkatan pujangga baru. Boim dan Gusur. Mereka datang tepat diwaktu itu, waktu dimana biasanya Mamih menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya.

Nasib sarapan mereka tergantung kepada yang manakah yang telah terjadi sebelumnya. Rayuan Lulu atau konser tunggal Mamih yang berhasil membangunkan Lupus. Sebab, jika yang pertama, maka sarapan mereka akan terselamatkan. Tapi jika yang kedua, maka sebelum kaki mereka melangkah melewati pagar rumah Lupus, maka Lupus yang akan lebih dulu menghampiri mereka, bahkan menabrak keduanya dengan cara berlari menghindari konser tunggal kedua Mamih.

“Lu klo senen bangun lebih pagi dong, Pus. Sarapan senen gua tergantung sama jadwal bangun pagi lu nih.”

“Iya, daku juga sama seperti dikau, Im. Engkong daku tak memungkinkan menyiapkan sarapan. Daku hanya berharap pada dikau, Pus.”

“Berisik ah lu berdua. Lu kan tau, hari minggu itu gua sibuk banget. Pagi, siang, sore ampe malem gua sibuk. Kadang sampe shubuh gua ngga tidur.”

“Ya lagi, lu sibuknya aneh. Pagi BBM Poppy, siang Whatsapp Poppy, sore stalkin Twitter Poppy, Malem BBM lagi. Nah habis itu, baru nyengir-nyengir sendiri.”

“Pus, dikau kapan sih akan menyatakan perasaan itu kepada Poppy? Jika tidak sekarang, Poppy bisa diambil orang lain, Pus.”

“Enak kaya gini sama Poppy. Temenan tapi saling kangen.” Angannya menerawang menembus langit pagi Jakarta, awan-awan putih tipis yang berarak, langit biru yang cerah dan . . .

“Lupus! Kamu mau tunggu Cang Ma’mun kawin ampe keempat kalinya? Ini masih pada ngapain sih disini, cepet sana pergi sekolah!”

-end-

  • view 77