run right into the fire

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 April 2016
The Diary of the Sinner

The Diary of the Sinner


silakan menikmatinya seperti gula-gula.

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
run right into the fire

Some people run right into the fire. Some people hide their every desire.

Pekerjaan paling menguras energi adalah yang dilakukan dengan emosi. Bukan sekedar all out melakukannya, sebab jika itu saja, maka hanya akan mempengaruhi fitalitas tubuh saja. Berendam di air hangat atau pijat sudah bisa membuat semua menjadi kembali seperti semula. Tetapi ketika melibatkan emosi, semuanya akan tercurah termasuk aliran darah dalam tubuh, semua jadi ikut bekerja dan menguras energi. Dan itu terjadi pada saya tadi pagi, mengganti agenda renang yang sejak seminggu lalu direncanakan.

Saya biasa bekerja mengandalkan tenaga sudah sejak lama. Menumpang bus menuju Cirebon dari Bandung, sampai di lokasi harus bongkar barang dari truk dengan ban ganda. Setelah bongkar, harus pasang tenda dan rak, lalu displai barang dagangan. Kadang sampai shubuh, baru tidur. Kadang yang saya tumpangi bukan bus, kadang truk pembawa barang juga. Saya tangguh, sangat jarang sakit. Pekerjaan semacam itu, terkadang dilakukan maraton. Bandung – Cirebon – Bandung – Ciamis – Bandung. Dan saya biasa saja. Tapi tadi pagi, konfrontasi dengan satu orang pembohong yang sudah tua, dan saya harus menahan diri untuk tetap tenang dan tak mengeluarkan kutuk, sungguh menguras energi. Setelah Si Tua pembohong itu pulang, saya makan mie rebus.

Dalam hal menguasai diri, saya berguru pada dongeng. Seseorang, yang sedang menempuh pendidikan agar mendapatkan gelar profesornya suatu ketika bercerita kepada saya. Jalaludin Rahmat, suatu ketika memberikan ceramah di Makasar, bapak komunikasi psikologi itu di hujat habis-habisan oleh audien yang entah datang dari mana berkaitan dengan mazhab agama yang dia anut. Kata Sang Calon Profesor, Kang Jalal menghadapinya dengan tenang, air mukanya tak tiba-tiba berubah, lalu menjawab semua tuduhan dengan tenang sekali. Kawan saya yang calon profesor itu bukan orang yang sepaham dengan jalal, bahkan cenderung berseberangan dengan mazhab yang dianut oleh jalal. Dari dongeng itu, saya lalu belajar menguasai diri, tampil elegan dalam diskusi dan debat jika suatu ketika mau tak mau berada di dalamnya. Saya tidak pernah benar-benar mencari tahu cerita itu benar atau tidak, sehingga cerita itu saya anggap dongeng.

Orang yang berbohong, ketika kesempatannya datang untuk dikonfrontir, akan melakukan perkataan bodoh, mencari korban untuk disalahkan dan akan terlihat sangat konyol. Kenapa? Karena dia tahu betul bahwa dirinya sedang melakukan hal yang sia-sia, seandainya usaha itupun berhasil. Dan saya, sangat merasa merdeka jika menyaksikan orang tersiksa seperti ini. Saya membiarkan orang bunuh diri dengan kebodohannya sendiri. Saya, dengan senyum akan menuangkan air panas yang baru saja saya jerang kedalam cangkir berisi kopi dan gula. Mengaduknya hingga rata, meminumya perlahan berteman gemeretak suara kretek terbakar. Sama seperti yang mungkin dilakukan oleh Luhut atau Goenawan Mohamad dengan cerutunya ketika memerhatikan seluruh dunia sibuk oleh pendapatnya ketimbang fokus kepada korban pemusnahan tahun ’65.

  • view 123