Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 29 April 2016   21:17 WIB
Surat Sabtu Sore

Pada ruas jalan Bandung seusai hujan, akan selalu kaudapati jejak langkahku yang mendekatimu setiap kali Sabtu sore datang. Di setiap trotoarnya, terdapat gunjing tentang perselingkuhan perempuan berkekasih dengan kawannya yang tak memiliki apa-apa untuk ditawarkan. Biarkan, Sayang. Sebab, pada gunjing seperti itu kita akan tersenyum di depan cermin sehabis mandi tiap hari. Bukankah gunjing itu suatu tebakan jitu?

Sekali-kali, berjalanlah bersama kekasihmu pada sore ketika Bandung habis diguyur hujan yang malu-malu. Temukan di setiap rongga yang terisi udara dinginnya satu senyum simpulku ketika kita pertama kali bertemu. Dan aku bacakan untukmu puisi yang kutulis dalam lontar berwujud telapak tanganku sendiri. Dalam senyum itu, kau akan temukan pula harapan yang menyalak akibat jiwa yang meletup tanda cinta pertama telah menghinggapiku. Meski engkau berkekasih.

Pernah engkau memintaku datang padamu ketika pagi mulai merangkak. Aku bawakan untukmu sebungkus nasi sebagai sarapan, engkau menolaknya. Engkau mengeluhkan sakit yang amat hebat pada dadamu. Persis di puting. Aku bingung. Apa yang bisa kulakukan agar sakitmu mereda dan aku tak perlu memegang apa pun dari bagian tubuhmu.

            Kekasihmu ke mana?

Aku bergegas, mencari air minum yang baik untukmu. Tak ada di warung, sebab yang ada hanya air botolan. Aku tak percaya air botolan yang keluar dari pabrik, sebab yang ada dalam botol itu bukanlah air. Kau tahu apa yang aku maksud. Komoditi. Aku datang padamu dengan terengah-engah, membawakanmu air minum dan niat yang tulus. Mukamu pucat, aku hampir pingsan sebab betapa dungunya aku, merasa tak dapat melakukan apa pun. Tak mampu berbuat banyak untuk meredakan sakitmu. Membahagiakanmu pastinya tugas yang lebih berat.

Tapi siang menjelang, hampir pada puncaknya. Kurasa kau harus pulang, katamu. Aku tahu, kekasihmu akan datang sebab istirahat kantor sebentar lagi memanggil.

Bekerja di kantor ternyata kekasihmu.

Ada rasa lega pada dadaku. Akan ada dia yang menjagamu. Aku pulang, meninggalkan segala rasa di kamarmu yang tertata rapi.

Jika sempat, kau cobalah naik ke dataran tinggi Bandung. Dari tempat seperti itu, engkau akan dapat melihat kota yang padat dan memuakkan, tak nyaman dihuni, penuh omong kosong dan janji palsu. Tapi aku bertahan di dalamnya karena setiap Sabtu sore selalu aku berjalan mengikuti liuk gang yang tak tertata. Mengeja satu per satu desakkan rumah-rumah yang terpaksa harus terhimpit oleh gedung-gedung tinggi penjaja birahi, demi mengendus jejakmu. Semoga ada aku, paling tidak dalam ingatanmu.

Entah apa awalnya, sehinga Sabtu sore pekan kemarin, kita bertemu di pusat kota. Masing-masing dari kita sendiri. Engkau tanpa kekasihmu, aku tanpa apa-apa.

Engkau dengan kaos merahmu yang cerah, menggenggam telpon selular yang terus berdering mengganggu. Aku menatapmu, hanya diam. Engkau mengangkat alis. Adakah artinya, Sayang?

Aku berjalan mendekatimu, engkau menarik diri. Adakah artinya, Sayang?

Engkau mengangkat telunjukmu, menaruhnya di depan bibirmu yang kecil. Aku tahu artinya, Sayang. Kita bukan pasangan selingkuh dan aku bersama kekasihku dan kalian belum pernah bertatap muka. Sebaiknya jangan sampai dia tahu.

Kekasihmu, laki-laki bekerja yang menghabiskan Senin hingga Jumatnya menghadapi lembaran arsip keuangan di kantor pemerintahan. Dia berwajah bagus dan terawat baik. Badanya tegap, model sepatunya modern dan rambutnya mirip anak muda pada jaman tari kejang mewabah di kota ini tiga puluh tahun yang lalu.

Sedangkan aku perempuan biasa yang tak mampu mengatakan cinta. Hanya bisa merasa. Padaku hanya ada nganga luka yang lahir entah dari mana datangnya. Siapakah yang telah membidani borok sebegini lama sehingga jiwa serasa melayang tak bertemu dengan raganya sendiri. Aku hanya perempuan biasa yang mengagumimu, Sayang. Ingin memelukmu, tentu. Ingin menciumimu, tentu. Tapi kesadaran harus tetap terjaga, kau dan aku tak mungkin, sebab kau lelaki yang memilih untuk bersamanya. Kekasihmu.

Sabtu sore. Di Bandung.

Karya : agus geisha