Seandainya (nanti) anak saya menjadi seorang cerpenis

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 April 2016
The Diary of the Sinner

The Diary of the Sinner


silakan menikmatinya seperti gula-gula.

Kategori Acak

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Seandainya (nanti) anak saya menjadi seorang cerpenis

Now, don't hang on, nothing lasts forever but the earth and sky. It slips away, and all your money won't another minute buy. Kansas_Dust in the Wind.

Barangkali, akhir-akhir ini makanan yang saya konsumsi tidak terlalu baik. Saya merasakan rasa mual semakin tak terkendali. Rasa mual datang setiap kali saya menemukan kenyataan yang tak sesuai harapan dan dugaan. Perlakuan yang tidak mengenakan hati, tumpukan tanggung jawab yang seperti tak habis dan tak akan, kenyataan yang silih berganti menantang di arah depan. Semua membuat saya mual, kadang muntah angin.

Dunia ini dipenuhi oleh film-film butut dengan kemasan aktris dan aktor yang melambung namanya sebab media, penuh oleh penulis yang membuat saya istighfar berulangkali, penuh dengan motivator yang lebih sering mengasihani diri sendiri, penuh dengan drama yang mau atau tidak kita terlibat di dalamnya. Beruntung bagi mereka yang tidak memiliki gangguan apapun dengan hal tersebut.

Hari kamis sebelumnya, saya habiskan separuh waktu saya di kantor dengan kembali memutar lagu lama yang memiliki kedalaman arti pada liriknya yang sederhana. Dust in the Wind yang dinyanyikan oleh Kansas. Lagu yang semula tak ingin direkam oleh penulisnya, dan pada akhirnya menjadi lagu paling dikenal dari band tersebut.

Cepenis seperti saya, yang mencoba menangkap realitas sosial di tengah tragedi berkelanjutan setiap hari, sempat juga merasa khawatir. Khawatir anak saya memiliki mimpi yang sama dengan saya. Menjadi cerpenis paruh waktu, mencuri senggang diantara kantuk malam seusai siang berperang. Mempertahankan kewarasan ketika lelah dan berat kepala mengganda untuk sekedar menenggelamkan diri kedalam huruf-huruf sambil berharap. Dibawah selimut harap bersembunyi.

Lirik Dust in the Wind termasuk yang paling sederhana dari semua lagu yang pernah saya dengar, manis di telinga dan angan. Apalah kita ini, sayang? Debu dalam perangkap semesta, buih dalam penjara samudra. Mimpi menyeringai meninggalkan kita dan uang tak mampu membeli menit yang terbuang.

Dan malam ini, ketika saya menulis dan bersiap mengunggah tulisan ini ke inspirasi.co saya masih tidak habis pikir bagaimana seorang bernama Abdul Majid yang memiliki gelar haji bisa menamai anaknya dengan Sukiyem.

  • view 184