Ikan

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2016
Ikan

Istriku membeli ikan. Ikan hias untuk dipelihara dirumah kontrakan kami yang baru. Pagi sebelumnya, anakku sebetulnya meminta ayam yang dilihatnya ditempat keramaian minggu sebelumnya sebagai peliharaan. Tidak aku ijinkan.

lima ikan hias dengan dominasi warna merah dan putih malam ini menghiasi toples bening sebagai kandang. Toples yang biasanya berfungsi sebagai tempat kerupuk, kali ini menjadi kolam sementara ikan-ikan hias itu. Yang aku lakukan sebelum berangkat menuju peraduan adalah memberi mereka masing-masing satu nama.

Satu ikan, warnanya merah, tak sedikitpun aku mendapati bercak putih pada sirip-siripnya. Merah saja, sejak kepala hingga keujung belakang bagian badannya. Matanya terlihat tajam, tegas dan tanpa keraguan. Geraknya lebih lincah dari yang lain. Aku memberinya nama Joey, seperti nama kawanku ketika kuliah. Matanya tajam, tegas dan tanpa keraguan. Badannya tegap, rambutnya rapih disisir selalu terlihat basah. Cara bicaranya selalu membuat orang lain terkesima. Menjabat sebagai ketua Badan Eksekutif Mahasiswa di kampus, konon pacarnya cantik dan anak orang kaya. Jika tidak salah tebak, pacar Joey perempuan dengan rambut panjang terurang hingga bahu, ujungnya berwarna emas. Aku pernah melihat giginya, ketika senyum. Warnanya putih seperti susu. Joey, ketika aku temui bulan kemarin masih meracau mengenai kecurangan kampanye, partai yang meninggalkannya, istri yang jatuh kepelukan laki-laki lain sehari mejelang waktu pemilihan. Dia masih dalam pengawasan perawat yang sama.

Ikan lain, sebetulnya ini ikan yang pertama kali mencuri perhatianku. Warnanya merah dengan kombinasi putih dibagian belakang tubuhnya. Badannya lebih montok dengan yang lainna. Audrey, badanya bergoyang-goyang ketika berenang. Audrey bukan nama satu-satunya yang ingin aku berikan padanya, bisa saja aku memberinya nama lain. Dinar, Rosie, Nina, Rena, Meyy, Yuly, Rini atau banyak nama lainnya. Nama-nama yang pernah aku kenal dari satu bilik ke bilik lainnya. Perempuan dengan tirai kain sebagai pemisah. Nama-nama itu biasanya menunggu tamu di kamar yang tertutup, sehingga tamu yang datang hanya bisa memilih dengan siapa mereka akan masuk bilik pijat hanya lewat poto yang ada di meja penerima tamu. Kecuali, jika tamu adalah pelanggan lama yang sudah saling tukar nomor telepon seluler. Mereka, hanya bisa memijit, berawal dari kaki hingga panggul, dari punggung hingga kepala, dari perut hingga bawah perut. Mereka bersembunyi diantara megahnya desain-desain taman kota akhir-akhir ini. Aku hanya bisa tertawa, melihatnya berenang. Bergoyang-goyang.

Aku ambil telepon selulerku. Kirim pesan pendek. Sudah tidur? Kirim ke Ayu, Diah, Hany, Maya, Sari, Egga, Fanni, Nur, Amel dan Santi.

Dulu, sebelum semuanya menjadi kacau seperti sekarang, dia selalu menghiasi hariku. Wajahnya selalu terpantul pada sisa kopi yang terlalu dingin untuk ditandaskan, suaranya merupakan huruf-huruf yang merangkai kata pada setiap sajak yang kutulis setiap malam ketika bungkus rokok tak lagi berisi, dan setiap helai rambutnya adalah serupa bentang khayalan setiap pagi dikamar mandi. Ikan kecilku yang malang. Merah dengan bintik-bintik putih disekujur tubuhnya. Seperti penyakit. Aku melihatnya sebagai keindahan yang lain. Boleh aku memanggilmu Jesicca? Kau hanya ikan, tak perlu menolak. Biarkan saja, nikmatnya diperkosa akan kau rasa pada akhirnya. Menjadi pasrah menjalani apapun yang harus kau lalui setiap hari yang membosankan.

Aku siapa? Aku akan bernama apa, tuan? Aku mulai khawatir dengan kesehatanku akhir-akhir ini. Sering mengalami halusinasi, mendengarkan suara-suara ditempat yang sunyi. Imaji sepi.

Namamu Agus. Agus saja. Empat huruf, tidak perlu cerita dibalik namamu. Aku hanya ingin memanggilmu Agus. Atasanku di kantor, anak kelas sebelah yang sudah merebut hati kekasihku ketika SMA, ketua Karang Taruna yang tak pernah mengirimiku undangan rapat ketika kegiatan kepemudaan mulai disiapkan, nama penyiar televisi dengan gaya aneh, sopir angkutan kota yang nyaris tiap malam menyapaku dengan senyum ketika berpapasan. Bukan berpapasan, aku sedang menikmati kopiku di teras rumah, dia melintas didepan rumah seusai menggarasikan mobil angkutannya. Agus, kau tak perlu memiliki arti apa-apa. Kau hanya perlu nama seperti yang lain.

Namamu Krisna, karana sekujur tubuhmu didominasi dengan warna putih. Dibeberapa bagian aku masih bisa melihat detail warna merah. Sangat kecil, tapi aku yakin itu warna merah. Diantara yang lain, aku tau kau sedang mencari panggung. Mengalihkan perhatian seisi toples, mengambil alih hampir sebagian besar area toples. Kau ingin berenang disegala penjuru air. Dominasi warna putihmu sebetulnya membuatku geli, ingin menertawakanmu. Sungguh, bukan ingin menyinggungmu, tapi aku tak penah suka dengan warna putih. Sebab, putih bagiku kaku. Warna lantai rumahku putih, kitchen set, televisi, cangkir-cangkir, sofa, motor dan banyak hal lain dirumahku. Membuat geli.

Sore, sebelum malam yang gila ini, aku tanya istriku. Kenapa tak beli aquarium sekalian untuk wadahnya. Kenapa malah menjadikan toples kerupuk sebagai kolam. Seminggu juga mati. Istriku.

Belakangan aku seperti sedang berada diluar angkasa. Ditempat yang tak pernah aku datangi, aku merasa asing. Bingung harus berbuat apa dalam kondisi yang tak tahu harus kemana. Aku membutuhkan teman. Orang yang bisa mendengarkanku. Orang yang bisa memberiku ruang untuk sendiri. Tidak menggangguku dengan apapun termasuk cinta.

  • view 69