Asa Bulan Kelima

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 April 2016
The Diary of the Sinner

The Diary of the Sinner


silakan menikmatinya seperti gula-gula.

Kategori Acak

1.6 K Hak Cipta Terlindungi
Asa Bulan Kelima

Kami menolak menjadi bidak, sekedar skrup dan tumbal, target pemasaran sampah industri kapital global, sekedar hidup lurus dalam dikte penguasa arus. _Homicide-Tantang Tirani.

 

Mayday tahun ini akan bertepatan dengan hari minggu, hari dimana instansi pemerintah libur dan potensi demonstrasi pada hari itu sangat dimungkinkan akan tidak ada. Beberapa kabar menyebutkan perihal akan adanya festival buruh di Jakarta, lainnya meramalkan demonstrasi di kota-kota akan dilaksanakan tanggal 2, hari senin. Paling tidak, pada poin kedua itulah kekhawatiran staf personalia di kantor berada. Rencananya, gerbang kantor akan ditutup, khawatir akan ada aksi “gedor”. Apa akan ada potensi kerusuhan, saya belum melihat itu.

Begitu sampai di rumah, hari ini saya disambut gemuruh hujan yang begitu deras, sudah sore dan langit berwarna malam.

Bagi saya, momentum sebesar mayday haruslah diberi arti yang lebih dari sekedar demonstrasi, meski sedikitpun saya tidak mengesampingkan demonstrasi. Momentum sebesar mayday semestinya diberi arti yang lebih mewah, yang lebih istimewa dan kembali menjadi ajang pesta. Membuka kembali keperjakaan dan membiarkan birahi mengalir sedemikian rupa. Negara sudah begitu kebal dengan demonstrasi, penanganannya sudah begitu rutin dan hanya menimbulkan drama. Tak ada sesuatu yang menakjubkan lagi pada barisan-barisan demonstrasi.

Mayday, pada suatu ketika bisa kembali lagi kepada fitrahnya sebagai malam pembebasan. Malam dimana pesta tanpa akhir hingga pagi. Merampas kembali langit kota atau merupainya sekalian mungkin bisa menjadi opsi. Mengambil alih kota dalam semalam saya pikir bisa menjadi pesta yang lebih teaterikal ketimbang mengenakan topeng lalu berjalan tersaruk-saruk di halaman kantor parlemen. Menjadikan taman-taman kota sebagai tempat berkumpul dan menikmatinya di malam hari tanpa melakukan apapun adalah sebuah ancaman bagi negara ketimbang siap-siap dikejar dan dipenjarakan aparat.

Perlawan, tentunya bisa dilakukan dengan berbagai macam kegiatan. Termasuk tidur.

Malam sudah menjelang, besok adalah hari yang sama dan akan kita lewati dengan pengulangan yang terus menerus.

 

  • view 157