Serapuh Kiri

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2016
Serapuh Kiri

 

Abad dua puluh satu, Indonesia merupakan pasar terbaik bagi industri global. Di sini, semua jenis bisa dijual dan laku, mulai dari permen beracun hingga telepon seluler mahal tiruan, mulai dari daging cincang tikus mengandung zat berbahaya hingga birahi malam orang-orang kesepian, bahkan dunia bisa menjual isu terorisme. Orang-orang Indonesia lebih heterogen dibanding tanaman yang tumbuh di hutan terluas di benua mana pun, baik secara genetik, budaya ataupun mental. Masih ada yang dengan tekun menjalani hidup dengan optimis di sini, menjalani hidupnya dengan semangat seolah semuanya baik-baik saja. Menulis novel pendidikan lalu meraih penghargaan gila-gilaan, mengungkap prediksi laju ekonomi negara dengan bual kecemerlangan, atau berbagi kesedihan, inspirasi dan motivasi melalui layar televisi. Dalam kotak kategori inilah aku berada.

Namaku Sengkuni, aku lahir di kota Bandung dua puluh tujuh tahun lalu, tak jauh dari Jakarta, terlebih setelah di kota-kota besar dibangun kiloan meter jalan tol, menghubungkan satu dan yang lainnya. Aku memiliki satu istri dan satu anak, Lastri dan Kemuning. Aku berdagang, menjual buku-buku di dekat kampus di timur kota.  Semua buku yang kujual adalah milikku, sedangkan tempat kusewa per bulan dari seorang pensiunan pegawai pemda. Dan pada kalian, yang aku ceritakan adalah perjalananku menuju ke tempat gulita ini.

***

Sore yang murung, mahasiswa Fakultas Filsafat baru saja kembali dari demonstrasi di pusat kota. Gedung Sate. Yang kudengar, mereka mempermasalahkan rencana pemerintah untuk mengembangkan otonomi. Entah apa itu, aku tak paham. Muka mereka seperti baru usai bermain sepak bola di lapangan tanah merah. Kumal. Aku bersiap menutup kiosku ketika mereka seperti asyik berbicara mengenai aksi mereka tadi siang. Belakangan kampus memang sering sepi, mahasiswa lebih sering demonstrasi menuntut ini dan itu. Entah apa. Di seberang, warung kopi Pak Dien ramai pengunjung. Isinya mahasiswa yang tak ikut demonstrasi, tukang ojek motor, atau pejalan kaki yang sengaja singgah untuk melepas lelah.

Belakangan, di warung itu lebih banyak terlihat muka-muka asing ketimbang mahasiswa lapar yang berdompet tipis. Orang berperawakan jangkung yang tak pernah lepas dari kacamata hitamnya, atau dua orang yang selalu memakai jaket kulit. Bukan tanpa disadari, mahasiswa-mahasiswa demonstran tentu tahu siapa mereka. Intel yang merangsek memasuki kampus untuk mencari penggerak demonstrasi, informan yang diutus entah oleh siapa.

Warung Pak Dien tak pernah tutup, pagi hingga malam, hingga pagi lagi. Yang dijualnya beragam, tak sekadar rokok, di sana juga tersedia mi rebus dan goreng, juga bubur ayam atau bubur kacang hijau dan ketan hitam. Pak Dien sudah membuka warungnya kurang lebih sejak lima tahun lalu, ketika ia mendapat dana pensiun dan pendidikan kewirausahaan dari perusahaan tempat kerjanya dulu. Dan Pak Dien adalah sahabatku.

***

Malamnya, dengan sepeda motor bebek yang ia punya, Pak Dien ke rumah kontrakanku tergesa-gesa. Pak Seng, kios bukumu didobrak tentara, katanya. Aku yang sedang membaca salah satu barang daganganku terperanjat, lalu meminta Pak Dien memboncengku ke kios.

Belasan tentara dengan rakus sedang mengubrak-abrik kios bukuku. Sebagian berseragam, sebagian tidak. Entah apa yang mereka cari. Aku menghampiri mereka. Ini kios buku saya, kataku pada mereka. Salah satu dari mereka mendekat, menamparku. Kamu menjual buku-buku komunis, ya? Kurasa ini tuduhan, bukan pertanyaan, bukan pula pernyataan. Komunis apa, Pak? tanyaku, separuh membentak. Di sini hanya ada buku-buku, tak ada komunis atau Islam. Entah apa yang kukatakan. Sial, kata seseorang di belakangku. Tinjunya mendarat tepat di tengkukku. Aku limbung, lalu dinaikan ke dalam mobil berwarna gelap yang sedari tadi terparkir di depan kiosku. Aku dilempar, dari sana aku bisa melihat beberapa dari mereka merayah barang daganganku.

***

Aku tak bisa mengatakan apa-apa, sebab aku memang tak melihat apa-apa. Tempat ini terlalu gelap, yang bisa kurasakan adalah kehadiran tiga kursi kayu dan meja yang dingin beku. Lampu pijar yang fungsinya entah kabur ke mana. Dan anyir.

Aku mencoba mengingat runut peristiwa yang membawaku ke sini. Sesekali merasakan sakit pada tengkuk dan pelipis. Tak bisa mengingat seutuhnya. Aku mulai yakin, aku berada di kandang binatang ketika kudengar suara sepatu mengetuk-ngetuk lantai. Sepatu yang sangat khas.

Lalu, tak lama kemudian dua lelaki masuk melalui pintu yang terletak di belakangku. Sudah sadar, Pak? kata salah seorang dari mereka. Aku tak menjawab. Kami akan terangkan kenapa Bapak ada di sini. Bapak Sengkuni, betul? tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk ketika mereka melewatiku. Keduanya lantas duduk di dua kursi di seberang meja.

Kami akan menanyakan beberapa hal pada bapak, kata yang sebelah kanan. Ini dia, kini aku bisa melihat wajahnya. Tirus, matanya agak sipit, badannya kokoh dan berkumis tipis. Sedang yang dari tadi tak kudengar suaranya berbadan agak sedikit tambun, mungkin terlalu banyak lemak, potongan rambutnya tipis seperti baru saja dipangkas.

Dari kios buku yang kemarin malam kami geledah, kami temukan beberapa buku yang oleh karenanya pikiran orang, terlebih remaja dapat terpengaruh pemikiran negatif. Buku-buku yang kami maksud adalah buku yang tidak seazas dengan negara tempat kita tinggal, juga pada buku-buku tersebut terdapat anjuran atau metode untuk melawan pemerintah. Bahkan di antaranya ada yang menyebutkan dengan terang-terangan fitnah terhadap penyelenggaraan negara, ujarnya. Aku bungkam. Ini tidak seperti pertanyaan.

Saya hanya berdagang, Pak, kataku. Mereka tak acuh.

Belakangan ini, negara sedang dirongrong oleh remaja-remaja yang sok tahu. Merasa diri berilmu dan memiliki solusi bagi perkembangan negara. Meminta ini dan itu yang mustahil diberikan di negara yang kita tinggali. Itu semua tidak sesuai dengan ideologi yang dianut di negara ini. Dan … Dia diam sejenak. Mereka terpengaruh oleh buku-buku yang seharusnya tidak mereka baca, sebab seharusnya buku-buku itu tidak ada. Dan … Dia diam lagi. Bapak memberikannya kepada mereka.

Dia memukul meja kayu. Aku terperanjat karena suara yang ditimbulkannya. Juga intimidasi.

Saudara menjual buku yang mengakibatkan stabilitas nasional terganggu. Yang tambun dapat giliran berbicara. Membentak, suaranya meninggi.

Saudara komunis. Tatapan keduanya menajam.

Saya pedagang. Aku gemetar.

Siapa kontak, Anda? Kami tahu saudara berafiliasi dengan satu partai baru yang ingin menghidupkan kembali arwah Aidit!

Kurasakan dada sesak dan mata berkunang-kunang. Kudengar pintu dibelakangku terbuka, deritnya menyayat telinga.

Telingaku terasa panas, tangan seseorang telah menghantamnya. Aku limbung dan tersungkur ke lantai. Bau anyir makin tercium.

Remang-remang dan samar-samar kulihat dan kudengar mereka bertiga berbicara.

Orang ini tak mungkin dikembalikan.

Sudah dipikirkan Berita Acara Perkaranya?

Enyahkan dulu.

Coba kau hubungi orang Polsek, suruh ke sini. Bilang aku yang minta, mereka sudah tahu. Biar aku yang urusi orang ini. Kau bantu aku di sini.

Lalu aku tak ingat apa pun. Sama sekali. Dan aku memilih untuk menjadi gila.

***

Ketika pulang, sepanjang jalan disiram gerimis. Aku berjalan, agak gontai, tapi aku sudah bertekad untuk pulang.

Aku susuri gang menuju rumah kontrakanku. Sepi, tak seorang pun ada di ruas gang. Di halaman rumahku terlihat sekali banyak orang, aku mulai bingung. Ada bendera kuning. Aku menebak-nebak.

Pak Seng. Hampir semua yang hadir terkaget-kaget melihatku.

Ada apa ini, Pak Dien. Heranku kulemparkan pada Pak Dien yang mendekatiku.

Pak Seng dari mana saja? Bagaimana keadaan Pak Seng? Aku tak ingin menjawab.

Ini sebetulnya ada apa Pak Dien? Aku masih bertanya.

Pak Dien membimbing tanganku. Pak Seng, ketika malam Pak Seng dibawa tentara, besok siangnya ada sekumpulan orang yang mendatangi rumah Pak Seng. Mereka meneriaki rumah Pak Seng. Mengatai komunis dan lain-lain. Saya tak melihat, hanya dari cerita tetangga Pak Seng.

Tapi saya bukan komunis, kataku.

Pak Seng, mereka melempari rumah ini dengan batu, memecahkan hampir semua kaca, hampir meruntuhkan atap. Tapi dengan pasti mereka telah membunuh Kemuning. Salah satu batu yang mereka lemparkan ke rumah ini megenai kaca jendela, membuatnya pecah dan pecahan besar kacanya menusuk Kemuning yang sedang tertidur bersama Lastri.

Lastri? tanyaku.

Ada di dalam. Dirawat tetangga, tangan dan mukanya terkena pecahan kaca.

Kemuning?

Sudah dikuburkan, Pak Seng. Maaf tak tunggu Pak Seng.

Lastri. Kemuning. Aku tak sadarkan diri, tersungkur pingsan.

Dan jika bisa, aku tak perlu sadar lagi