THS

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 April 2016
THS

Namanya Soekarno, seorang Blitar yang belakangan menjadi seorang sahabat yang begitu dekat dalam kehidupan. Kami berdua sekolah di THS, dan mungkin karena ide kami yang sering sejalan yang membuat kami amat sangat akrab saat ini. Aji Anom dan Soekarno, begitu indah nama kami disanding seandainya rencana kami terwujud untuk membuat sebuah biro arsitek selepas kami lulus dari THS. Aji Anom dan Soekarno adalah sahabat paling cocok dalam masalah ide arsitektur.

Hari ini, seperti Jum’at kemarin, kami Shalat Jum’at di Masjid Agung Bandung bersama dan seperti biasa kami mengambil shaf  belakang karena alasanku yang tak mau bercampur bersama para dalem dan menak Bandung. Dari kampus kami berjalan kaki menuju masjid agung sambil membicarakan ideku tentang pembangunan sebuah masjid megah indah di alun- alun kota, yang nantinya akan bisa di pakai sebagai pusat aktivitas keagamaan masyarakat kota, Quattul Islam kataku. Soekarno sahabatku menanggapi ideku ini dengan semangat, bahkan dia ingin berbagi ide gambarnya seusai shalat Jum’at hari ini.

Seusai shalat Jum’at kami terpisah, aku tak dapat menemukan Soekarno diantara kerumunan orang yang baru saja bubar dari masjid. Soekarno hilang, aku memutuskan untuk pulang dan menunggu Soekarno di rumah, siapa tahu Soekarno menyusulku ke rumah untuk membicarakan ide kami (saat ini ideku tentu telah menjadi ide kami) tadi. Aku menunggu sampai bedug isya dan Soekarno tak jua datang kerumah, tak apalah pikirku, kubicarakan saja besok di kampus.

Besoknya, sebelum kutanya Soekarno telah terlebih dahulu meminta maaf padaku atas kejadian kemarin hari. Dia bilang, kemarin dia berjumpa dengan Profesor Wolff Schoemaker ketika dia hendak menuju rumahku. Lantas Profesor Wolff mengajak Soekarno untuk melihat pekerjaan yang akan diberikannya pada Soekarno, Soekarno akan merasa tak enak hati bila menolak ajakan Profesor Wolff. Aku mengerti sahabatku. Profesor Wolff Schoemaker adalah dosen kami yang telah banyak membantu kami berdua terutama dalam hal meningkatkan pengertian kami atas arsitektur.

Waktu berjalan begitu cepat, aku dan Soekarno lulus dengan baik dari THS. Aku dan keluarga pindah ke Garut dan dengan terpaksa aku dan Soekarno hilang kontak. Sementara aku dengar Soekarno bersama Rooseno, yang juga kawanku semasa di THS, membuat biro arsitek.

Hanya saja ada hal yang tak mengenakkan hatiku tentang Soekarno, Rooseno,  dan biro arsitek barunya itu. Adalah ideku untuk merancang Quattul Islam yang membuat hatiku jadi berang terhadap sahabat lamaku itu. Tanpa menyangkutpautkan nama atau mungkin hanya sekedar meminta ijin padaku, Soekarno telah mencuri ideku. Soekarno telah mencuri ideku.

Suatu hari aku memutuskan untuk pergi saja ke Bandung dan meminta penjelasan pada Soekarno tentang penghianatannya. Ide pikiranku. Baju sudah aku kemasi, kumasukkan ke dalam ransel. Tinggal menunggu adzan shubuh dan aku siap pergi menuju Bandung dengan kereta.

Seusai shalat shubuh aku dikagetkan dengan suara ketukan pintu dari luar kamarku. Ibu masuk dan duduk di kursi depan meja tempatku biasa menggambar rancangan. Ibuku bicara dengan rendah dan sejuk kepadaku. Beginilah Ibu, rendah dan sejuk

“Mau kemana Ji, seshubuh ini sudah berkemas, seperti orang yang mau pergi saja?”

“Aji mau ke Bandung bu, Aji mau bertemu Soekarno dan meminta penjelasan atas penghianatannya pada ide Aji.”

Ibuku mulai mengeluarkan air mata, seperti ada yang salah dengan kejadian ini.

“Aji, kejadian ini sudah sering kali kita bahas, kamu membicarakan Soekarno seolah kamu pernah bersekolah bersama di THS sesuai cita- citamu, kamu selalu bercerita tentang kamu dan Soekarno yang berbagi ide arsitektur.”

“Semua itu tak pernah terjadi, Ji.”

“Maksud Ibu?”

Aku jadi bingung dengan perkataan dan sikap Ibu yang mulai rengkuh, mataku berkunang-kunang, cahaya kamarku mulai memburam.

“Kamu tidak pernah sekolah di THS, kamu tidak pernah berbicara dengan Ir. Soekarno, apalagi berbagi ide dengannya...”

“...Ibu dan bapak tak pernah mampu untuk menyekolahkanmu ke THS sesuai pintamu waktu itu.”

“Maafkan kami, Ji.”

Seisi bumi mendadak hening setelah Ibu pergi meninggalkan kamar dengan aku di dalamnya, kupandangi rancanganku satu- persatu, kubah masjid ala Timur Tengah, Quattul Islam.

Kepalaku semakin berat, mataku semakin buram, aku tertidur entah berapa lama hingga terbangun dengan pasung di kaki dan tanganku.

  • view 97