Di Atas Kaki Sendiri

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Di Atas Kaki Sendiri

Sedari tadi sore hujan terus saja membasahi seisi Kahuripan, membuat basah dan tanah, serta membawa kemalasan pada manusia untuk meninggalkan rumah. Menjelang tenggelam dalam kegelapan malam, Kahuripan benar- benar terasa amat sepi, hanya binatang saja yang coba berani mengeluarkan suara karena memang telah menjadi tugasnya. Rumah-rumah kawula yang beratapkan jerami mulai gelap tak berpenerangan. Meski begitu, beberapa diantaranya masih hanyut dalam percakapan baik itu dengan keluarga atau pun dengan sesamanya. Keadaan Kahuripan yang tenang di bawah Majapahit memang memungkinkan mereka untuk sekedar berkumpul. Telah lama Majapahit terlepas dari ancaman pemberontakkan, terlebih setelah Majapahit memilih Gajah Mada.

Hujan gerimis yang belum juga reda ternyata membuat perbincangan di salah satu rumah kawula semakin membuat rumah itu lupa akan waktu yang terus bergerak.

“Bagaimana ini, nyai…?”

“Apanya yang bagaimana?” pertanyaan suaminya yang tengah ada dalam kegelisahan itu ia jawab dengan pertanyaan pula.

“Nyai kan telah dengar tentang sumpah yang diucap Yang Mulia Maha Patih Gajah Mada di Majapahit. Sekarang bagaimana bila aku diminta untuk ikut memenuhi kebutuhan Majapahit akan prajurit ?...”

“Apa nyai rela aku mati di ujung keris atau tombak?” Perempuan yang telah menjadi istrinya sejak setahun belakangan ini masih saja diam menghadapi kata-katanya. Berpikir barangkali. Berkhayal barangkali.

“Bagaimana nyai? Nyai rela aku mati di tangan orang yang tak memiliki perkara denganku?”

Nyai Salira masih saja membisu di hadapan suaminya yang sedang memandangi perutnya yang tengah hamil muda. Herang, suami Nyai Salira itu terus saja berharap istrinya mengerti akan kebosanannya akan peperangan. Herang dan Nyai Salira bertemu sekitar empat tahun lalu, saat itu Herang adalah seorang petugas tapal batas Sadeng yang mengetahui akan rencana laskar Majapahit yang bermaksud menaklukan Sadeng. Begitu ia tahu laskar Majapahit yang dipimpin Ra Kembar berkubu di sekitar sungai Badadung, ia menyuruh rekannya untuk segera melaporkan hal itu ke kerajaan, sementara ia pergi meninggalkan wilayah Sadeng beserta perlengkapan keprajuritannya. Entah kemana. Setelah lama tak sadarkan diri karena jauhnya berjalan, akhirnya ia terbangun di sebuah rumah kawula Kahuripan, yang juga daerah di bawah kekuasaan Majapahit. Keluarga Ki Samudra, orang tua Nyi Salira menerimanya untuk tetap tinggal bersama mereka karena kesanggupannya untuk membantu keluarga itu bertani.

“Bukankah menjadi prajurit itu sesuatu hal yang akan menjadi kebanggan bagi kakang? Apalagi kakang akan pergi jauh untuk melihat negeri- negeri seberang.”

“Itulah nyai, tak ada sedikitpun dalam diriku yang merestui aku untuk pergi jauh, terlebih saat ini nyai tengah hamil anak pertama kita.”

“Bukankah kepergian kakang nanti agar tercapainya kesatuan segenap wilayah Nusantara di bawah pimpinan Majapahit?”

“Untuk apa Majaphit mesti bersusah payah menyatukan Nusantara? Untuk apa persatuan harus dipaksakan dengan ujung tombak? Apakah nyai tidak berprasangka bahwa ini hanyala sebuah siasat untuk menggapai keinginan akan kekuasaan?” matanya terus saja memandangi perut istrinya yang mulai membesar karena kehamilan, lalu ia langkahkan kakinya mendekat pada istrinya, lantas perut istrinya itu ia pegang.

“Kakang risaukan bayi kita?”

“Terlebih nyai sebagai istriku”

“Lantas apa yang akan kita lakukan untuk menghadapi segala kemungkinan di depan”

Sesaat Herang menatap lekang ke arah mata istrinya, tangan istrinya ia tuntun untuk membelai kepalanya. Ia rekatkan telinganya ke perut istrinya yang sedang hamil, lalu menatap mata istrinya lagi penuh tujuan.

“Nyai percaya padaku?”

“Aku istrimu, kakang. Kenapa tanyakan hal itu?”

“Nyai mau menghabiskan sisa hidup nyai denganku?”

“Kakang adalah segalanya bagiku, dengan kakang bersamaku, aku sanggup lalui apapun.”

“Nyai mau apabila aku minta nyai menyertai aku pergi dari Kahuripan? Pergi dari kawasan Majapahit?”

“Lantas kemana kakang akan membawa aku pergi?”

“Kemanapun, asalkan tempat yang lebih nyaman dan aman, serta memberikan kita kesempatan untuk melalui hidup dengan bahagia dan damai.”

“Kakang tidak takut mendapatkan gelar pengecut karena telah lari dari tugas agung untuk menyatukan Nusantara?”

“Aku lebih takut apabila aku harus meninggalkan istriku sendiri, aku lebih takut apabila bayiku lahir tak melihat bapaknya, dan memang aku tak sudi mati di ujung pedang orang yang tak memiliki perkara denganku.”

Malam telah larut, hujan tak jua kunjung reda penerangan di rumah Herang pun telah di padamkan.

Pagi sekali desa itu telah ramai oleh kabar mengejutkan, sebuah rumah hangus terbakar, semua bangunan rumah habis oleh api kecuali jerami atap rumahnya yang memang basah oleh air hujan semalam. Seluruh penghuni percaya bahwa si pemilik rumah telah ikut hangus terbakar bersama segala isi rumah itu.

 

  • view 68