Alzheimer

agus geisha
Karya agus geisha Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 April 2016
Alzheimer

Awalnya aku hanya melakukan eksperimen, semacam menantang diri untuk melakukan hal yang belum pernah aku lakukan. Menjadi orang lain dan menikmatinya. Aku hanya mencoba untuk menjadi seseorang yang sering lupa tentang apapun, aku mencoba untuk pura-pura tidak mengingat hal-hal kecil yang biasanya tak pernah aku lupakan. Tentang dimana aku menaruh pena yang biasanya ada di laci meja kerjaku, atau tentang dimana kunci mobil kantor yang biasa aku gunakan, juga tentang jam berapa aku harus tidur. Aku mencoba melupakan semuanya. Sebab, kadang apa yang kita ketahui tak membantu kita dalam banyak hal. Menjadi bodoh bisa jadi pilihan yang baik ketika hidup berjalana seperti ini. Kenyataan dan maya bertabrakan satu sama lain.

Upah kerjaku bulan kemarin, separuhnya aku bayarkan cicilan rumah yang masih lama jika harus menghitung lunas, separuh lain kuserahkan pada istriku untuk dihabiskan di supermarket dan mall, dibayarkan ke bagian keuangan sekolah anak kami, membayar listrik dan iuran lingkungan. Sisanya tetap berada di rekening bank. Aku tak ingat kapan terakhir aku membelanjakan uang hasil kerjaku untuk sebungkus rokok, atau sebatang. Aku tak ingat. Sejak itulah, aku mencoba untuk tidak mengingat apapun dalam keseharianku. Jika setiap hisap dan kepul gumpalan asap yang keluar dari suara gemeretak tembakau yang kuhisap saja bisa kulupakan, aku yakin melupakan hal lain bukanlah hal yang sulit.

Sebetulnya aku hanya ingin melupakan jalan menuju rumah hantu bertingkat tiga yang dihuni oleh puluhan zombie bernama kantor, aku hanya ingin melupakan lembar-lembar kontrak kerja yang menumpuk di meja kerjaku yang setiap hari menagih dendam dan berkata, “Kapan engkau menanam sehingga merasa berhak untuk membuat kami merasa tercerabut dari akar dana tanah.” Aku hanya ingin lupa dengan motivasi dan demotivasi kerja yang tertulis rapi pada setiap berkas proyeksi omzet dan promosi yang memenuhi folder dokumen dalam komputer terbaru yang disediakan oleh perusahaan. Aku hanya ingin melupakan berapa besaran uang yang ada pada rekening bank.

Semua, sepertinya harus berakhir pada hari senin pertama di bulan April. Hari dimana air rendaman buah lemon yang aku minum setiap pagi terasa seperti saliva dan perasaan papa semakin mendesak dalam dada. Mejijikan, aku merasa sendiri dan kesepian.

“Bun, handuk dimana? Aku mau mandi.” Aku tahu dimana letak handuk yang biasa aku pergunakan, dan aku tahu aku tak biasanya bangun tidur langsung mandi.

“Di tempat jemuran, Ayah. Di depan pintu kamar mandi. Biasa juga disitu.” Istriku melongokan kepalanya dari arah dapur. “Ayah ada rapat?”

“Enggak tahu, Bun.” Aku lalu bangkit menuju kamar mandi, menemukan istriku sedang memasak nasi goreng dengan bumbu instan pabrikan. Aku duduk dikursi plastik yang ada di teras belakang ruma, depan pintu kamar mandi. Aku bosan.

“Ayah, katanya mau mandi?”Iistriku menghampiriku, diam dihadapanku bertumpu pada kedua lututnya. Kedua tanganya menyilang pada kedua pahaku. Aku mencium bau badanya, dia belum mandi. Baju tidurnya belum juga di ganti, belahan payudarana terlihat. “Ayah ada rapat pagi ini? Sarapan Ayah dimasukan di kotak makanan saja ya? Ayah bawa ke kantor, kalau tidak ada rapat, bisa dimakan dikantor.” Aku hanya mengangguk. memperhatikan belahan payudara dan mencium bau tubuhnya. Aku berdiri, meraih handuk dan memasuki kamar mandi. Kami sudah lama tak bersebadan. Aku tak peduli, aku hanya ingin mandi.

Selepas mandi, aku berpakaian. Mengenakan kemeja yang sama dengan yang kupakai kemarin. Aku abaikan belasan kemeja lain yang tersusun rapi dalam lemari. Parfum aku semprotkan keseluruh bagian tubuh atasku. Memasukan kotak makan yang sudah disediakan kedalam tas ransel yang juga berisi kaus dan juga buku agenda. Tanpa pamitan aku nyalakan motor dan melaju mengendarainya. Telepon selulerku bergetar dalam saku celana. Pasti istriku, protes karena tak pamit. Aku tak peduli, aku tinggal bilang bahwa aku lupa.

Aku masih saja ingat jalan menuju kantorku. Perjalanan pagi yang membosankan sekaligus melelehkan. Menumpuk kedaraan bersama pekerja yang lain, memerhatikan paras perempuan yang baru saja pulang dari pasar dalam angkutan kota yang penuh asap kretek. Menderu knalpot motor dan mobil berlomba mengeluarkan asap sambil berdoa semoga bumi hijau berbunga.

Tampat kerjaku adalah gedung dengan gerbang setinggi tiga meter sebagai penanda bahwa ini merupakan area kami, sehingga tak ada seorang pun yang boleh memasukinya tanpa seijin kami. Sebab, tepat digerbang itu, ada juga pos keamaanan yang setiap saat paling tidak harus dihuni oleh dua orang dan kadang lebih. Tak ada satupun yang boleh melewati gerbang itu selain yang diperkenankan saja. Jika gerbang dan satuan pengamanan tak cukup untuk mengusir pengacau, maka polisi dan tentara akan segera menjadi angka.

“Selamat pagi, Pak. Tumben pagi betul.” Lelaki dengan uban mulai menumbuhi rambutnya itu membuakakan gerbang. Aku hanya memberinya senyum.

Aku bekerja dilantai dua, menjadi kepala penjualana area provinsi dan memiliki beberapa anak buah. Selain staf penjualan, lantai dua juga dihuni oleh tenaga adminstrasi dan bagian keuangan area provinsi.

Belakangan, setiap berada di ruang kerjaku, aku selalu merasa seperti alien  . Aku merasa sedang berada di planet berpenghuni semacam manusia yang tak kumengerti bahasanya. Padahal yang aku lakukan hanya memimpin rapat dengan menampilkan data-data penjualan bulan demi bulan yang tercatat pada tahun sebelumnya atau membuat rencana program penjualan yang menghabiskan waktu seharian bahkan tak bisa kutinggal untuk makan siang. Sesekali aku menemui staf keuangan, memperhatikan dada dan paha yang membayang pada blus tunik. Aku tak berani memegangnya, itu pelecehan.

Aku pernah melihat kutang anak sekolah yang mengintip dibalik kemeja seragam sekolahnya, terlihat diantara kancing kedua dan kancing ketiga. Aku pernah juga dalam hitungan sekian detik melihat kancut berwarna kuning gading atasanku ketika rapat mingguan rutin. Tapi, aku tak pernah melihat cinta. Aku lupa.

“Hai, Yuke.” Aku menarik kursi lain yang tidak terpakai, meletakan disamping Yuke dan mendudukinya. Perempuan dengan rambut sebahu itu kaget.

“Eh, ada apa sih?” Dia memperlebar jarak. Menarik dirinya.

“Aku mau bicara.” Dia masih dalam posisinya. “Disini. Sekarang.” Aku berikan penegasan.

“Iya, apa?” Dia masih terlihat kaget.

“Aku bilang ke kamu, mengatakan ini butuh lebih dari sekedar keberanian. Sebab, yang akan aku katakan adalah risiko. Tapi, akan aku katakan juga. Sebab, aku tahu aku harus mengatakannya.” Dia mengerutkan dahinya, masih tak mengerti. Aku mencium aroma ketakutan pada gelagatnya. “Sejak tiga tahun lalu, waktu kamu pertama kali kerja disini jadi staf keuangan dan kerja satu lantai sama aku. Aku sudah tertarik sama kamu. Rambut kamu yang sebahu, lincah gerak dan cara bicaramu. Semuanya. Aku bahkan suka caramu mengunyah makanan. Aku tahu jumlah kancing kemeja yang kamu pakai sekaran tanpa perlu menghitung ulang. Aku juga tahu kamu akan selalu menaruh tisu disamping kiri tanganmu setiap kali makan, setiap suapan kamu ikutin dengan sekaan pada mulutmu. Aku tahu berapa banyak sepatu yang pernah kamu pakai ke kantor dalam tiga tahun ini. Aku suka cara jalanmu.” Matanya mulai berkaca-kaca. Dia memperhatikan sekitar, seolah tak ingin ada orang lain yang mendengar. “Istriku dan suamimu tak perlu mengetahui ini semua, ini bukan tentang mereka. ini tentang kita berdua. Sejak aku mengenalmu.” Aku berhenti. Memperhatikan raut wajahnya, air mukanya dan gerak tubuhnya. Dia berdiri, berlari sambil menangis menuju toilet. Aku bangkit, karyawan lain memperhatikanku. Kau membalas tatapan mereka yang seolah bertanya. Aku hanya menaik-turunkan bahu sebagai pertanda tak tahu. Aku tahu dan tidak lupa sebab aku tak sedang jatuh cinta.

Aku melangkah, menuruni anak tangga dan menanggalkan dasi yang melingkar. Mataku sedikit kunang-kunang, tapi aku masih mampu berjalan dan menjaga kesadaranku. Orang-orang dilantai satu abai pada suara sepatuku yang beradu dengan lantai. Aku meninggalkan kantor, berjalan keluar gerbang tanpa tersenyum pada penjaga pos. Aku berjalan terus sampai aku tak bisa merasakan kakiku.

Jatuh cinta dan berjalan memiliki kecenderungan yang sama, pada akhirnya tak akan kita rasa apa yang kita rasa ketika diawal. Aku mencoba mengingat indah masa kecilku bersama lusinan kaset video game dan program wisata desa seharga seratus porsi nasi goreng ujung kompleks perumahanku hari ini. Aku mencoba mengingat rasa daging bibir pertama yang aku cium, didepan kaca cermin. Aku mencoba mengingat apapun yang aku pernah sukai termasuk bau cengkih yang menyeruak diantara tembakau pada sebatang rokok.

Aku rasa aku sudah berjalan terlalu jauh sehingga aku lupa dari mana asalku dan akan kemana tujuanku. Pintu rumah aku buka dengan kunci yang selalu aku bawa. Istriku mungkin sedang berada di sekolah anak kami, menungguinya hingga waktu pulang tiba. Aku jatuhkan tubuhku diatas kasur dikamar. Aku biarkan semua yang aku ingat menghilang dalam tidur yang entah kapan akan berakhir.