Jadikan Nikah Sebagai Solusi

Agus Akmaludin  Asysyayaf
Karya Agus Akmaludin  Asysyayaf Kategori Agama
dipublikasikan 23 Mei 2016
Jadikan Nikah Sebagai Solusi

Jadikan Nikah Sebagai Solusi

Oleh: Agus Akmaludin Asysyayaf

            Dalam kehidupan Seorang muslim, Agama merupakan suatu pegangan dalam hidupannya. Dimana pada Agama tersebut, Islam khususnya, memiliki ajaran tersendiri bagi penganutnya yang berguna untuk menjadi suatu petunjuk agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Namun sebenarnya agama Islam adalah sebagai rahmatan lil’alamin. Pada dasarnya, agama Islam adalah agama fitrah dan Allah Swt. menciptakan manusia sesuai dengan fitrah ini.

Manusia terlahir ke dunia ini membawa fitrahnya masing-masing yang sudah Allah Swt. kehendaki, salah satunya nikah. Karena nikah ini merupakan naluri kemanusiaan. Andaikata naluri kemanusiaan ini tidak dipenuhi, dengan jalan yang benar, maka hal tersebut akan berpotensi pada kecenderungan sifat syaitan yaitu kesesatan.

Pernikahan menurut hukum Islam adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga, yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah Swt. (Ahmad Azhar, 2000: 14).

Ikatan pernikahan dalam Islam yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah, telah menjadi sarana untuk memenuhi naluri manusia yang sangat mendasar, selain itu menjadi pula sarana untuk membina keluarga yang Islami. Islam menghargai ikatan perkawinan ini dengan ditetapkannya sebanding dengan separuh agama. Naluri yang sangat mendasar (nikah) ialah hakikatnya berpasangan untuk saling melengkapi, saling memiliki keinginan di antara satu dengan yang lainnya. Apabila telah tiba pada waktunya, fitrah tersebut akan datang dan mendesak dengan perasaan untuk mendekat dan mencari-cari pasangannya masing-masing. Kemudian mereka akan saling memerlukan.

Pernikahan dalam Islam bukan hanya bertujuan untuk kenikmatan seksual semata, melainkan untuk membentuk terciptanya sebuah keuarga, terbinanya sebuah masyarakat, bangsa dan negara yang kuat (M.Afnan Chafid-A. Ma’ruf Asrori, 2009: 88). Namun sangat disayangkan, dewasa ini persoalan mengenai fitrah (nikah) ini masih banyak yang terjerat pada jalan yang salah. Pada fase/usia kematangan awal atau remaja khususnya. Seperti yang sering kita dengar dan saksikan di media-media massa seperti media cetak, media elektronik dan yang lainnya bahkan melihat fenomena ini secara langsung, Entah itu teman kita, tetangga kita atau bahkan anggota keluarga kita. Dengan fenomena yang mungkin menggelitik sekaligus menghawatirkan, umpama seks bebas, perzinahan, aborsi, hingga pada pembunuhan dan membuang bayi. Mungkin fenomena tersebut dikarenakan mereka tidak mengetahui hakikat sebenarnya mengenai keberadaan agama mereka. Sangat disayangkan memang, padahal mereka memiliki kemampuan dan potensi di berbagai aspek, namun apa boleh dikata. Musnahlah sudah semua kemampuan dan potensi mereka hanya karena terjerat dalam kesesatan!

Melihat fenomena tersebut, maka, dalam keadaan seperti itu, apakah kita rela dan menganggap seolah itu tidak terjadi, dengan sikap kita yang tidak peduli? Tentu tidak! Karena sebagai manusia, kita harus senantiasa saling nasihat menasihati dalam kebaikan.

Pada umumnya orang tua mereka mustahil tidak bisa memberi ruang yang dimiliki anak-anak mereka untuk memenuhi naluri dan fitrah mereka secara benar atau halal. Bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian besar mereka adalah golongan yang berada dan mampu. Andaikata tidak seperti itu, dalam keadaan tidak mampu/kemiskinanpun dapat memenuhi naluri dan fitrah anak-anak mereka tidak menjadi alasan. Bukankah anak-anak remaja itu merupakan generasi baru yang sangat terbuka wawasannya? Dan buka pula dengan cara demikian nasab orang tua akan terjaga kemurniannya?

Melihat fenomena seperti itu, menjadi salah satu bukti bahwa setiap manusia menginginkan adanya pasangan. Karena pada dasarnya nikah itu merupakan penyatuan antara laki-laki dan perempuan. Dan dengan penyatuan tersebut menuntut adanya sikap mengasihi, tolong menolong, menghilangkan kebencian permusuhan dan terpecah belah.

Pada mulanya Allah Swt. menciptakan Adam di dunia ini yang kemudian menciptakan hawa dari tulang rusuk Adam, sehingga pada akhirnya mereka saling merasa tertarik. Kemudian dengan kehendak Allah Swt. selanjutnya berkembang biak umat manusia yang banyak. Dari sinilah mulanya pasangan memiliki rasa saling memiliki, Allah Swt. menciptakan ikatan keluarga yang terbentuk asas dasar ikatan silaturrahim dan kekerabatan yang mendorong untuk saling mengasihi dan tolong menolong (Wahbah az-Zuhaili, 2013: 563). seperti Itulah  sebuah ikatan yang didasari pernikahan.

Suatu keindahan bila suatu hubungan tersebut diikat dalam satu ikatan yaitu akad pada pernikahan. Dengan adanya pernikahan menjadikan dua insan menjadi satu dalam keluarga. Orang tua yang benar ialah memberi keleluasaan kepada anaknya untuk membangun sebuah keluarga dengan seseorang yang dicintainya melalui pernikahan yang disyariatkan. Salah satu tujuan pernikahan ialah untuk melestarikan keturunan. Keinginan memiliki keturunan didambakan oleh setiap laki-laki maupun perempuan. Bentuk pernikahan ini memberikan jalan yang aman pada naluri seksual untuk memelihara keturunan dengan baik dan menjaga harga diri wanita agar ia tidak laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak tetangga ( Slamet Abidin, 1999: 10).

Nikah merupakan sunnah para nabi dan rasul, Bahkan agama Islam sendiri yang menganjurkan untuk menikah. Dalam hal ini, menunjukan bahwa Allah Swt beserta nabi dan para rasulnya yang telah membukakan kepada kita semua supaya mengambil jalan yang halal dalam memenuhi fitrah atau naluri kemanusiaan, yang dengannya akan menutup dari jalan yang terlarang dan keji.

Di zaman ini bukan masanya untuk bermalu-maluan dalam persoalan nikah di usia muda atau remaja. Malah tidak salah sama sekali dalam pandangan Islam. Berbeda dengan pada zaman jahiliyah, yang mana pada zaman tersebut terdapat beragam gaya hidup yang bercampur baur antara kaum laki-laki dan perempuan. Pernikahan yang mereka lakukanpun sama sekali tidak beradab.

Bahkan rasulullah Muhammad Saw. sendiri dalam Haditsnya memberi solusi perihal ini untuk para remaja dan usia muda. Agar orang tua tidak terlalu menghawatirkan perkara anaknya perihal fitrah ini, dengan menikahkan anak-anaknya untuk memenuhi fitrah atau nalurinya agar tidak berbuat dosa. Pada hakikatnya selain manusia itu saling membutuhkan satu sama lain, berpasang-pasangan secara halal melalui pernikahanpun merupakan anjuran wahyu.

Dengan menikahkan dan memberinya pemahaman mengenai tujuan dari pada nikah kepada para remaja dan usia muda, akan dapat membantu mereka supaya tidak senantiasa terjerat dosa. Akan terasa indah dan bermanfaat bila dalam hidupnya terikat oleh pernikahan yang sesuai syariat Islam. Karna pada dasarnya menikah itu merupakan suatu ibadah. Dan yang menjadi istimewa disini ialah kelangsungan menikah itu selama hidup. Jadi, sebenarnya dengan menikah, sama halnya dengan hidup dibarengi ibadah tanpa henti. 

Selain itu, dengan menikah tersimpan banyak hikmah yang terkandung, di antaranya:

  • Menyambung silaturahmi

Dengan menikah, akan membentuk suatu bangsa, ras, bahasa, budaya yang terjalin menjadi satu dan yang berhiaskan kasih sayang.

  • Terciptanya ketenangan dan ketentraman

Pernikahan dapat menimbulkan ketenangan, ketentraman dan kasih sayang antara suami dan istri sehingga dapat terjaga dari hal-hal yang diharamkan. Tidak seperti halnya yang membujang, karena pada dasarnya hidupnya diliputi kegelisahan. Mereka yang menikah setidaknya mendapat rasa kasih sayang dari pasangannya secara timbal balik sehingga menimbulkan ketenangan dan ketentraman hidup bersama.

  • Memalingkan dari pandangan yang liar

Bagi yang telah melakukan pernikahan, pandangannya akan senantiasa terjaga, mengingat adanya ikatan yang terus mengikuti di setiap langkah dalam hidupnya. Sedangkan yang masih membujang, tidak menutup kemungkinan mata mereka melirik sana-sini. Dan tidak menutup kemungkinan juga mereka kerapkali kelayapan dalam menangani nafsu syahwatnya.

  • Menghindari diri dari perbuatan zina

Pada zaman sekarang ini,  fasilitas kemaksiatan sangat terbuka lebar seolah memanggil untuk melakukan hal yang bergelimangan dosa. Dengan menikah seseorang akan senantiasa menjaga kemaluan dan sejenisnya yang ada kaitannya dengan zina karena dalam ikatan pernikahan ada konsekuensi untuk memegang teguh akad pernikahan.

  • Estetika kehidupan

Indahnya suatu kehidupan ialah ketika memiliki sebuah perhiasan, adapun perhiasan yang didapatkan dari pernikahan bukanlah emas, permata, kendaraan, rumah mewah dan lainnya melainkan mendapatkan perhiasan berupa wanita shalehah.

  • Mengisi dan menyemarakan dunia

Dengan menikah akan timbul keturunan berupa anak, yang nantinya generasi tersebut akan menyemarakan dunia dan mengisi alam ini secara berkelanjutan, dari itu, manusia senantiasa mengelola dan memanfaatkan nikmat dari allah Swt. berupa alam ini.

  • Menjaga kemurnian nasab

Dengan adanya hasil reproduksi di luar nikah, tidak akan mendapat legitimasi dan ditentang keras oleh agama, karena dengannya akan menimbulkan malapetaka dan generasinya akan samar-samar. Dengan menikah akan mendapatkan keturunan yang sah, dan menjadikan anak-anak mulia, memerbanyak keturunan, melestarikan kehidupan serta memelihata nasab yang sangat diperhatikan oleh Islam.

 

Setelah mengetahui dan memahami pernikahan yang sesuai dengan ajaran Islam, mulai saat ini, tidak ada alasan untuk membiarkan remaja dan usia muda hidup dalam kegelapan, dan kesesatan. Karena sesungguhnya dalam agama tersimpan solusi untuk berbagai persoalan. Termasuk nikah.

 

  • view 186