Tuhan Tidak Menonton Televisi

Agung Pangestu
Karya Agung Pangestu  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2016
  Tuhan Tidak Menonton Televisi

?????? Tuhan Tidak Menonton Televisi

??????????? Malam ini, ruang tamu itu akan berubah menjadi medan perang. Bukan untuk merebutkan senjata nuklir, saling merebutkan tahta, maupun saling merebutkan batas negara. Namun untuk merebutkan satu hal yang lebih penting dari itu semua. Yakni untuk merebutkan televisi. Ketika dunia telah menyentuh modernitas akut maka teknologi berbentuk kotak tersebut nyatanya telah menjadi bagian dari kebutuhan hidup. Barangkali hanya satu level dibawah Nasi. Hal tersebut pulalah yang selama ini begitu diyakini oleh Keluarga Suherman.

??????????? Dan perang itu akan dimulai tepat pukul tujuh malam nanti. Dimana sebagian orang menyebut jam tersebut sebagai Prime Time namun bagi keluarga Suherman, jam tersebut bagi mereka adalah War Time! Dalam perang tersebut, ada satu medali yang akan diperebutkan oleh mereka semua. Sebuah medali yang menentukan kebahagiaan mereka setidaknya kurang lebih dua jam kedepan. Atau bahkan mungkin sampai semalam suntuk. Untuk itulah semua anggota keluarga tersebut telah bersiap mengangkat senjata sejak sore tadi. Diawali dengan sang kepala keluarga yaitu Pak Suherman. Dimana Pak Suherman rela pulang lebih awal dari kantornya. Karena tentunya dia tidak ingin kalah dalam perang, apalagi malam ini. Ada sebuah acara televisi yang tidak bisa dilewatkan oleh Pak Suherman. Acara tersebut adalah sebuah acara debat yang akan mempertemukan dua calon penguasa di negeri ini. Dua calon penguasa tersebutlah yang akhir-akhir ini membuat suasana di negeri ini tak ubahnya panci mendidih. Dimana negeri ini terbelah menjadi dua kubu. Yang masing-masing kubu memihak salah satu calon penguasa. Dan tentunya Pak Suherman tidak ingin terlewat dalam hingar bingar tersebut.

??????????? Pak Suherman sendiri telah menentukan dipihak mana, dia akan berdiri di garda terdepan. Walaupun sebenarnya Pak Suherman tidak memiliki alasan mendasar memilih calon andalannya tersebut. Dia tidak pernah membaca rekam jejaknya, enggan untuk mengetahui asal-usulnya dan juga malas mengetahui raihan prestasinya. Karena yang dipedulikan oleh Pak Suherman hanya bahwa dia tidak ingin ketinggalan ombak dari hingar bingar di negeri ini. Nantinya Pak Suherman juga enggan untuk ambil pusing dengan visi, misi maupun tetek bengek lainnya yang didebatkan oleh dua calon dalam acara debat tersebut. Karena hanya ada satu alasan dari Pak Suherman menonton acara televisi tersebut. Yaitu Pak Suherman hanya ingin melihat celah yang dimiliki oleh calon rivalnya. Entah itu gaya bicaranya, gaya berjalannya, kancing yang tidak matching, baju yang kekecilan, sepatu yang tidak disemir, apa saja. Agar esok harinya Pak Suherman memiliki "bahan" yang akan ia bagikan di media sosial pribadi miliknya. Entah itu lewat facebook, twitter, Instagram maupun Path. Saling memaki antara satu sama lain dan mengungkap berbagai data yang hanya ia sendiri yang mengerti kebenarannya. Agar nantinya Pak Suherman dapat berperang kata-kata dengan pendukung rivalnya. Anehnya, selama melakukan itu Pak Suherman mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan. Karena itulah Pak Suherman harus bisa memenangkan perang malam ini.

??????????? Sedangkan istri dari Pak Suherman yaitu Ibu Suherman juga tidak akan mengibarkan bendera putih untuk perang malam ini. Karena nyatanya Ibu Suherman juga tidak ingin ketinggalan acara televisi favoritnya. Acara itu adalah sebuah serial televisi India yang tengah Booming berjudul "Puttaran". Ibu Suherman sudah mengikuti serial televisi tersebut semenjak episode pertamanya. Sehingga tentunya Ibu Suherman tidak ingin ketinggalan episode 999 yang akan tayang malam ini. Apalagi serial tersebut sedang seru-serunya. Sang Protagonis tengah berada di ujung penyiksaannya. Selain itu sang protagonis juga sedang mengandung bayi dari suaminya. Dimana suaminya ini pernah menjadi kekasihnya, lalu berubah menjadi kekasih dari si Antagonis, kemudian ikut-ikutan menjadi antagonis, lalu dia kemudian bertobat, menjadi temannya lagi, lalu menjadi kekasihnya kembali, tapi kemudian menjadi antagonis lagi, menjadi kekasih dari si Antagonis, lalu bertobat lagi dan akhirnya resmi menjadi suami dari sang protagonis. Sungguh perjalanan cinta yang panjang, dimana hanya melibatkan segelintir orang.

Lagipula Ibu Suherman juga ingin melihat si Antagonis masuk ke penjara. Hal itu disebabkan karena episode sebelumnya, si Antagonis tertangkap basah memasukan racun ke dalam ke air putih yang diberikan kepada si Protagonis. Kenapa racunnya tidak dimasukan saja ke dalam minuman yang tengah dipesan, sehingga si Antagonis tidak perlu ketahuan meracun? Atau kenapa si Antagonis harus berpanjang-panjang dulu bicara di hati (yang suaranya didengar oleh semua penonton) sebelum meracun? Dan yang terpenting kenapa Si Antagonis terlihat tetap bermake up tebal dan memakai pakaian masa kini meskipun sedang berada di penjara? Entahlah, Ibu Suherman enggan untuk mempertanyakannya. Karena yang terpenting baginya adalah ketika dia menonton serial televisi tersebut dan ia ikut larut di dalamnya. Dimana artinya adalah Ibu Suherman seakan-akan ikut berada di dalam cerita tersebut.

??????????? ?Awas, Si Anu udah masukin racun ke minuman itu, jangan diminum!?

??????????? ?Dasar Nenek Sihir! Jahat banget si! Pasti kalo mati masuk neraka!?

??????????? ?Itu.. dia ada disana. Hei, itu dia lagi ngumpet di dalam mobil. Kenapa gak liat si? Itu? disana. Ituuhhh.. Blegug Sia!?

??????????? Begitulah Ibu Suherman ketika tengah larut dalam serial televisi tersebut. Untuk bisa merasakan moment tersebut maka sudah beberapa bulan ini, Ibu Suherman memutuskan untuk membolos dari kegiatan pengajian antar ibu-ibu selepas Maghrib. Ibu Suherman merasa lebih malu ketika esok harinya dia tidak bisa mengikuti pembicaraan Ibu-Ibu kompleks tentang episode ?Puttaran? terbaru. Untuk itulah, Ibu Suherman bagaimanapun caranya harus bisa memenangkan perang malam ini.

?????????? Sedangkan anak dari mereka berdua yang bernama Putri Suherman juga tidak ingin ketinggalan dalam perang malam ini. Dia baru saja menginjak usia remaja. Dimana pada usia tersebutlah, Putri Suherman tengah banyak mempertanyakan eksistensinya. Dan putri Suherman menyadari untuk bisa mendapatkan eksistensi tersebut maka dia harus mengikuti arus yang ada dan mengcopy segala yang tengah menjadi trend. Hal tersebut dibuktikan oleh Putri Suherman dengan rajinnya ia melihat satu judul sinetron yang tengah menggila di kalangan remaja yaitu ?Ganteng-Ganteng Landak?. Ada satu bintang sinetron di acara tersebut yang tengah begitu diidolakan oleh Putri Suherman yakni ?Baliando?. Bahkan Putri Suherman terkadang tidak terlalu memerhatikan jalan cerita dari sinetron tersebut. Karena lebih seringnya Putri Suherman lebih memerhatikan model rambut apa yang dipakai idolanya, baju warna apa yang dipakai oleh dia, gelang merk apa yang dipakainya ,sepatu jenis apa yang dipakai dan lain-lainnya. Malah bisa dibilang, Putri Suherman hapal tiap detilnya. Untuk itulah, Putri Suherman harus memenangkan perang kali ini dan mendapatkan medali itu yakni remote televise.

??????????? Karpet perang pun resmi digelar. Bapak Suherman, Ibu Suherman dan juga Putri Suherman telah bersiap dengan amunisi masing-masing. Remote hitam itu menunggu dengan wajah tak berdosa di dekat meja. Peluit dari perang pun siap dibunyikan. 1? 2? dan tiba-tiba gelap. Semua orang berteriak. Bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Dan baru menyadari bahwa perang tersebut bubar jalan seketika dengan kondisi listrik mati. Mereka baru menyadari bahwa tanggal tersebut menjadi tanggal pemadam bergilir. Mereka bertiga duduk bersama di sebuah sofa yang sama. Hanya ditemani sebuah cahaya lilin yang bersinar lemah, mereka dapat melihat gambaran mereka tertangkap oleh layar televisi tersebut. Mendapati pandangan mereka yang menontoni diri mereka sendiri. Suasana senyap? suara mereka melenyap? dan sayup-sayup terdengar suara adzan dari Masjid sebrang. Sebuah suara yang selama ini jarang mereka perhatikan karena sibuk berperang. Tuhan.. itukah Engkau?