Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 27 Februari 2018   19:43 WIB
MENIKAH, TIDAK SEBERCANDA ITU KAWAN!

Sungguh, saya bukanlah orang yang anti terhadap konsep nikah muda. Toh pada akhirnya, hidup setiap orang adalah tanggung jawab masing-masing untuk membuatnya jadi bahagia atau nelangsa. Tapi saya selalu gagal paham dengan gembar-gembor konsep nikah muda pasti membawa bahagia. Tidak, sampai kapanpun saya tidak akan pernah percaya konsep itu. Saya selalu percaya bahwa pernikahan yang bahagia adalah pernikahan yang tepat pada waktunya. Dan Waktu yang tepat tidak pernah bisa dihitung dengan matematika manusia. Usia segini, kamu harus menikah. Usia segitu, kamu harus punya anak satu. Usia segitu, kamu harus punya anak dua. Biar bahagia! Kata siapa? Kata mereka.

Seandainya saja matematika Tuhan bisa disamakan dengan matematika manusia yang begitu polos dan naif seperti gambar tersebut. Sayangnya, cara kerja Tuhan tidaklah selucu itu. Satu-satunya yang pasti dalam hidup ini adalah ketidakpastian itu sendiri. Namun banyak orang tidak peduli, pernikahan yang indah dan memiliki tanggung jawab besar malah mulai kehilangan esensi berharganya. Sekarang, pernikahan hanya dianggap legalitas untuk melepas syahwat. Pernikahan tak ubahnya stempel pada barang yang menandakan kamu bahagia atau tidak bahagia. Pernikahan tak lebih dari usaha buru-buru dan memaksamu demi bisa menjalani kebahagiaan yang dipaksakan orang lain.

Lantas Pernikahan seperti apa yang bisa kamu harapkan dari orang yang memiliki motivasi menikah seperti itu? Banyak yang kemudian memaksa menikah muda dengan dalil menikah akan membuka jalan rejeki. Tentu, hal tersebut sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Sayangnya, urusan menikah bukan hanya urusan ekonomi semata yg harus dipenuhi. Tapi ada satu hal yang lebih kompleks lagi. Yaitu menyatukan dua kepala yang berbeda. Percayalah, untuk melakukan itu dibutuhkan kedewasaan dan pengalaman. Cinta memang menyatukan tapi hanya rasa saling memahamilah yang mempertahankan. Dan coba tanyakan, apakah modal itu sudah dimiliki oleh mereka yang masih imut-imut? Mungkin ya, barangkali juga tidak. Terakhir, menikahlah karena itu adalah jalanmu menemukan kebahagiaan dan keutuhan. Bukan jalan kaburmu dari pertanyaan "Kapan Nikah?" Menikah tidaklah sebercanda itu, kawan.

Karya : Agung Pangestu