Review Album Monokrom: Anomali yang Merdu

Agung Pangestu
Karya Agung Pangestu  Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 November 2016
   Review Album Monokrom: Anomali yang Merdu

            Monokrom. Dalam ilmu fotografi dianggap sebagai gradasi tone yang hanya didasari satu warna dasar tanpa ada warna dasar lainnya. Namun bagi Tulus, Monokrom adalah ucapan terima kasihnya yang paling merdu. Lima tahun tentunya bukan rentang waktu sekejap mata. Apalagi bagi seseorang yang berjalan di semak belukar industri musik Indie Indonesia. Untuk itulah, pemilik blog Palawija ini menginginkan album ketiganya bukan hanya penegas eksistensinya sebagai musisi handal namun juga ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukungnya sejauh ini. Setidaknya, itulah kalimat yang saya baca dalam sebuah majalah musik. Sejujurnya, album Monokrom sudah lama masuk dalam target karya yang harus bisa saya miliki. Alasan utamanya adalah karena kedua album sebelumnya yang dimiliki oleh Tulus berhasil dengan telak membius saya. Musiknya yang terdengar perpaduan antara Jazz, Pop dan mungkin sedikit Blues benar-benar candu bagi telinga.


          Namun yang benar-benar membuat saya tergila-gila terhadap karya Tulus adalah liriknya. Liriknya menggunakan diksi Bahasa Indonesia yang baik, rapi, santun dan juga memiliki beberapa rima. Hal inilah yang kemudian membuat saya menyadari, saat ini Indonesia hanya punya segelintir sekali generasi musisi dengan penulisan lirik Bahasa Indonesia yang berkualitas. Payung Teduh dan Efek Rumah Kaca adalah salah satu contoh terbaiknya. Dimana bagi penikmat lirik dalam lagu tentunya dua band indie tersebut ada berada di urutan teratas untuk didengarkan. Mereka bukan hanya membuat musik yang membius namun juga lirik yang semakin membuat pendengar terpaku dalam samudera kata-kata. Untungnya, Tulus hadir untuk menambah kuota tersebut. Dengan penulisan lirik yang bukan hanya bagus namun juga bermakna sekaligus dahsyat dalam sekali waktu. Sampai sekarang, saya masih suka geleng-geleng kepala ketika mendengarkan lagu “Sepatu”. Diksi dan analoginya bukan hanya beda namun juga cerdas. Coba pikirkan, apa yang lebih klise dari cinta yang tidak bisa bersatu? William Shakespeare menjabarkanya dalam romansa Romeo dan Juliet maupun James Wan memotretnya dalam kisah mengharu biru Jack dan Rose dalam Titanic. Namun Tulus dengan cerdik malah menggunakan Sepatu untuk menjabarkan kisah cinta yang seringkali mengundang lara di dada.


         Hal tersebutlah yang membuat saya tidak sabar untuk menunggu lirik-lirik cerdas dan analogi tak biasa apa lagi yang disiapkan dalam album ketiganya yakni Monokrom. Dan entah keberapa lagi, saya selalu berhasil dikejutkan dengan kreasi yang diciptakan oleh Pria Besar kelahiran Bukittinggi ini. Untuk itulah dibawah ini, saya akan mereview lagu-lagu Tulus di album monokromnya. Dimana saya memilih mengarahkan lampu sorot pada lirik-liriknya. Karena sebagai orang awam dalam musik tentu saya tidak memiliki kapasitas untuk menilai musik selain enak di telinga dan tidak enak di telinga:


Zat Maha Istimewa, terima kasih untuk hidup, akal, intuisi dan rasa. Akan selalu ada sempat untuk terus mengingat hari lalu yang telah lewat..
Untuk seluruh cikal inspirasi, hingga pada banyaknya talenta yang ikut merakit rumah demi rumah pesan di dalam lirik lagu-lagu di dalam album ini, saya ucapkan terima kasih.
                                                                                                             (Tulis Tulus di albumnya)

01. MANUSIA KUAT

Daya ledak semangat segera terpompa ketika mendengar intro dari lagu ini. Nada-nada musik yang membakar energi positif segera dirasakan ketika lagu ini berputar di kepala. Isinya kurang lebih tentang seseorang yang tidak akan membiarkan siapapun untuk menghancurkan mimpi-mimpinya. Jujur saya sendiri merasakan energi dari lagu ini hampir serupa dengan lagu “Lagu Untuk Matahari” yang tersedia di album kedua Tulus. Meskipun tentunya dengan aransemen yang lebih megah dan “ramai”

Kau bisa patahkan kakiku
Tapi tidak mimpi-mimpiku
Kau bisa lumpuhkan tanganku
Tapi tidak mimpi-mimpiku

Sebuah lagu yang cocok didengarkan pagi hari ketika semangat masih tergantung di langit-langit kamar. Dan impian seakan masih bersembunyi dibalik awan. Ditambah dengan bertebarannya orang-orang culas yang siap menggilas mimpi kita. Barangkali lagu ini siap menjadi tameng terbaik.

02. PAMIT

Gelap dan sendu langsung mengurung saya ketika mendengarkan lagu ini pertama kali. “Ada apa dengan Tulus?” begitu pemikiran selanjutnya. sempat menduga bahwa Tulus tengah ikut arus industri para gejolak muda dengan fenomena galau mereka yang aduhai dangdut itu. Bukan berarti di lagu-lagu sebelumnya, cerita yang dimiliki Tulus tidak memiliki kesenduan dari segi lirik. Namun tetap saja kesenduan cerita dalam lirik lagu-lagu sebelumnya dikemas sebegitu rupa, sehingga tidak terkesan depresif. Ambil contoh terbaiknya adalah lagu Sewindu maupun Sepatu. Tapi Pamit benar-benar hadir dengan racikan yang sangat berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya. Lirik yang sendu dan dikombinasikan dengan iringan musik yang menyayat-nyayat hati. Membuat lagu ini kurang baik didengarkan ketika pagi hari. Namun dari kacamata awam, saya tahu bahwa Tulus tengah melebarkan ruang bermainnya dalam bermusik. Ia merambah ke lirik-lirik minor untuk semakin menguak tiap sudut gelap nan pedih dari orang-orang yang patah hati. Apalagi ditambah dengan string section yang terasa begitu megah. Membuat lagu ini memiliki pintu masuk yang begitu luas bagi pendengarnya. Dan tentu saja dengan tidak meninggalkan ciri khas Tulus dengan diksi pada liriknya.

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar

Lirik yang menohok dan alunan musik orkestra yang megah membuat lagu ini seperti ingin berkata kepada pendengarnya bahwa galau pun tetap harus berkelas.

03. RUANG SENDIRI

Pegang tanganku tapi jangan terlalu erat. Karena aku ingin seiring bukan digiring,

Begitu penggalan kalimat menohok yang ditulis Dewi Lestari dalam salah satu kumpulan prosanya di “Filosofi Kopi”. Sebuah kalimat yang cukup untuk menggambarkan isi dari lagu ini. Tentang hubungan yang tetap membutuhkan jarak untuk bisa tahu bahwa ruang kesendirian ternyata tetap dibutuhkan tiap insan. Untuk melihat, jarak mereka dalam menyayangi tengah saling melengkapi atau malah berbalik menghancurkan. Entah kenapa, ketika mendengarkan lagu ini, feelnya hampir sama ketika mendengarkan lagu Sewindu. Lirik ringan dan nada renyah di telinga membuat lagu ini diputar berulang-ulang kali sekalipun tidak akan pernah membuat bosan. Tidak percaya? Buktikan saja.

Percayalah, Rindu itu baik untuk kita….

04. TUKAR JIWA

Hati seperti apa yang mampu menampung cinta terbesar? Mungkin jawabannya adalah Sebesar cinta itu sendiri. Perasaan cinta memang salah satu hal paling absurd dalam semesta ini. Tidak seperti atom yang meski sekecil apapun masih tetap ada rumus untuk menjabarkannya. Namun bagaimana dengan cinta? Segumpal perasaan yang seringkali diucap oleh milyaran manusia di dunia. Namun tidak pernah ditemukan formula maupun rumus pasti untuk menghitungnya, mengukur-ukurnya. Jadi bagaimana kita bisa tahu sebesar apa perasaan seseorang yang mencintai kita? Barangkali kita harus menjadi dirinya sekejap waktu untuk mengenali perasaan itu.

Coba sehari saja, kau jadi diriku..
Kau akan mengerti bagaimana … kumelihatmu. Mengagumimu … menyayangimu.
Dari sudut pandangku

Cinta memang tidak pernah tepat untuk dijabarkan dengan diksi seindah apapun. Barangkali Tulus menyadari hal tersebut. Untuk itulah, dia menawarkan kesempatan imajiner untuk bertukar jiwa. Untuk melihat, cinta sebesar apakah yang dirasakan apabila dilihat dari sudut pandang berbeda.

05. TERGILA-GILA


Ini adalah lagu yang asyik sekali untuk membuat kepala bergoyang-goyang sendiri. Dengan hentakan musik yang cukup nge-beat dan suara-suara alat musik yang begitu ramai di lagu ini. Membuat siapa saja sepakat bahwa lagu ini adalah lagu paling “ceria” dalam album Monokrom.

Ini bukan yang pertama tapi ini yang paling menarik…
Hari ini kau mesra, besok lusa kau dingin..

06. CAHAYA

Jika harus menyebutkan lagu paling favorit di Album Monokrom maka tanpa ragu saya akan menjawab lagu ini. Bagi saya pribadi, lagu yang bagus adalah lagu yang ketika kita mendengarkan maka denyut dunia seperti berhenti sejenak. Hanya ada kita dan suara-suara dari lagu tersebut. Dan Cahaya berhasil melakukannya dengan sempurna. Selain itu dalam lagu inilah, saya merasa Tulus kembali memperlihatkan kematangannya dalam penulisan lirik lagu.

Bila aku pegang kendali penuh pada Cahaya..
Aku pastikan jalanmu terang..
Tak mudah kusut dalam kemelut
Kau tahu cara mengurai semua..

Liriknya bukan hanya puitis namun kuat dan juga misterius dalam waktu yang sama. Dimana lirik tersebut membuat semua orang bisa memasukinya melalui pintu interpretasi masing-masing. Membuat lagu ini akan memiliki arti berbeda-beda bagi tiap pendengarnya.

07. LANGIT ABU-ABU

Awalnya, saya pikir “Pamit” adalah lagu paling sendu dalam album ini. Namun ternyata kesenduan dalam lagu Pamit tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan lagu ini. Dengan hanya mengandalkan suara piano yang lirih dan juga suara Tulus yang terdengar bukan sedang bernyanyi namun sedang bercerita tentang hatinya yang patah. Membuat atmosfer lagu ini terasa sangat menyesakkan dada.

Bertemukah kau dengan Sang Puas? Benar senangkah hatimu?
Di Bawah basah langit abu-abu.. kau dimana?
Di lengangnya malam menuju minggu, kau dimana?

Kemahiran tarian diksi kembali diperlihatkan oleh pria asal Bukittinggi ini. Dimana dia mengubah malam minggu menjadi “lengangnya malam menuju minggu”, padat, sendu sekaligus romantis.

08. MAHAKARYA

Bagi saya yang telah cukup lama mengikuti tulisan-tulisan di blog Palawija-nya maka lirik-lirik yang berada di dalam lagu ini terdengar tidak asing. Karena beberapa kali, Tulus pernah mengepost potongan-potongan tulisan berbentuk prosa yang nyatanya kemudian menjadi bagian dari lagu ini.

Ibu pernah berkata jangan pernah bergantung pada peruntungan
Senang dan tidak senang hidupmu, tergantung kerja kerasmu

Yang paling menarik dari lagu ini adalah ketika mendengarkannya, atmosfir yang dirasakan seperti mendengar musik-musik yang sering bermunculan di film kartun jaman dahulu. Bahkan pada part akhir lagunya, suara-suara musiknya mengingatkannya saya pada theme song Tom and Jerry. Lucu tapi sekaligus unik. Saya yakin hal ini bisa terjadi karena kecerdasan dan kejeniusan Ari Aru Renaldi yang duduk di bangku produser. Membuat paduan antara Tulus dan Ari Renaldi seperti gula dengan teh celup. Manis, mengikat dan saling melengkapi.

09. LEKAS

Seperti yang diketahui, sebelum albumnya dirilis, lagu Lekas sudah jauh-jauh hari didengarkan. Hal tersebut tidak lepas karena menjadi Soundtrack dari film “3 Nafas Likas”. Dan saya tak lelah-lelahnya memuji kecakapan Tulus dalam menulis lirik dengan kualitas Bahasa Indonesia yang baik bahkan di telinga awam seringkali terdengar kompleks.

Saat larut dalam sedih..
Tak berhenti putaran ini di Bumi
Saat gentar hela nafas
Tak berhenti cepatnya laju masa

Membuat saya seringkali bertanya-tanya ketika mendengarkannya, referensi baca seperti yang dimiliki oleh Tulus sehingga memiliki kosa kata yang begitu kaya seperti ini?

10. MONOKROM

Pantaslah apabila lagu ini dimasukan di trek terakhir dalam albumnya. Bukan hanya karena menjadi judul albumnya namun juga karena kuatnya pesan yang ada di lagu ini. Apabila ingin sedikit jujur, mata saya selalu berkaca-kaca ketika mendengarkan lagu ini. Bayangan orang-orang yang dicintai entah kenapa selalu terlintas ketika lagu ini terputar. Disini, Tulus sama sekali tidak berniat untuk pamer skill. Tidak ada musik yang terdengar megah dan tidak ada juga diksi yang rumit. Semua komposisi dalam lagu ini terdengar sederhana. Namun ternyata kesederhanaan tersebutlah yang membuat lagu ini memiliki taring kekuatan dimana-mana. Siap merobek pipi siapa saja yang mendengarnya untuk becek oleh air mata. Karena hidup manusia menjadi berharga memang karena runutan-runutan kesederhanaan yang kita hirup setiap harinya. Kita seringkali bisa berbahagia dengan teramat sangat maupun sedih dengan sangat sesak oleh sesuatu yang sederhana. Kita sebagai manusia jarang sekali bahagia maupun sedih oleh sesuatu yang rumit. Mengingat dan melupakan adalah contoh terbaiknya.

Lembaran foto hitam putih..
Kembali teringat kuhitung bintang-bintang
Saat mataku sulit tidur, suaramu buatku lelap…

Bukan hanya Monokrom karena pada akhirnya semua lagu di dalam lagu ini telah menjadi ucapan terima kasih paling merdu. 

 

Sebagai penikmat musik dari Tulus, saya sangat menikmati albumnya. Bukan hanya karena merdu namun juga luapan-luapan perasaan di dalamnya yang dibungkus dengan cara terbaik. Saya memang selalu menganggap Tulus sebagai musisi anomali. Ketika masih banyak kreator lain berkubang dalam pintu inspirasi yang sama, Tulus bukan hanya mengetuk pintu inspirasi, dia mendobraknya! Kegelisahan dan kejujuran begitu terasa kental di dalam album ini. Bagi saya pribadi, yang paling berharga bagi seorang seniman maupun kreator adalah kejujurannya dalam berkarya. Karena itulah yang menjadi benang pembeda antar kreator yang satu dengan kreator lainnya. Karena seringkali saya menemukan sebuah lagu maupun karya lainnya yang sangat bertopeng. Maksudnya adalah lagu maupun karya tersebut tidak datang dari hasrat terdalam dari seniman tersebut. Membuat kita sebagai penikmatnya hanya mampu menikmati karya tersebut diatas permukaannya saja karena memang tidak ada isi maupun jiwa dari kreator tersebut yang ia titipkan didalamnya. Monokrom barangkali bukan hanya merdu tapi juga penting, untuk siapa saja yang ingin berkarya dengan lebih dalam dan jujur.

 

Dilihat 164