SeRidho SeRhoma

Agung Pangestu
Karya Agung Pangestu  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
SeRidho SeRhoma

Apa rasanya jika seumur hidupmu harus menanggung nama besar dari seorang Raja Dangdut?


Begitulah kira-kira yang dirasakan langsung oleh aku dan keempat saudaraku. Semuanya diawali dengan kegilaan Ayah terhadap seorang pria berambut kribo, dengan jambang yang menghiasi wajahnya dan juga suaranya yang aduhai itu. Ibu seringkali bercerita dulu bahwa Ayah akan meninggalkan segala sesuatu yang sedang ia kerjakan apabila mendengar sedikit saja suara dari Sang Raja tersebut. Kefanatikan tersebutlah yang kemudian membuat Ayah ketika masa muda mati-matian meniru Rhoma Irama dari pangkal rambut hingga pangkal kaki. Tak heran apabila album foto keluarga selalu kusimpan baik-baik dan akan segera kulayangkan sejuta alasan apabila ada orang lain yang ingin melihatnya. Sungguh, bukan karena atas nama ketidaksopanan aku sengaja menyembunyikannya. Aku hanya tidak ingin foto seorang pria bertubuh kurus dengan rambut kribo yang besarnya hampir mengalahkan sarang tawon terlihat. Dimana sayangnya, pria tersebut tidak lain adalah ayahku sendiri. Dan foto tersebut bukan berjumlah satu atau dua namun hampir memenuhi album keluarga. Cukup untuk membuatmu enggan masuk sekolah selama satu minggu bila ada satu saja temanmu yang tak sengaja melihatnya.


Aku curiga, ketika ayah dan Ibu menjalin hubungan asmara, ada semacam perjanjian tidak tertulis diantara mereka berdua. Yaitu ketika mereka nantinya punya anak maka Ayah akan memberi nama sesuai dengan kehendaknya. Dan hal tersebut benar adanya dengan obsesi Kompulsifnya terhadap Sang Raja Dangdut, Ayah pun tak ingin melewatkanya. Apalagi ketika anak pertama adalah seorang laki-laki. Ide untuk menamai anak dengan embel-embel “Rhoma” pun segera terbersit di pikiran Ayah. Untungnya ide tersebut ditolak dan didebat oleh ibu. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya hidupku dan keempat saudaraku apabila niat tersebut dimuluskan begitu saja. Namun Ayah tidak menyerah begitu saja. Ia mengetahui bahwa salah satu putra dari Sang Raja Dangdut diberi nama “Ridho Rhoma”. Alhasil Ayah segera mencomot nama “Ridho” untuk diterapkan pada semua anaknya. Bisa dibilang Ayah selalu memegang teguh sebuah petuah lama: Tidak ada Rhoma maka Ridho pun jadi.


Namun bisa dibilang, aku tumbuh disaat yang kurang tepat. Yaitu tumbuh ketika nama Ridho Rhoma sebagai seorang penyanyi Dangdut tengah naik daun. Sehingga hampir semua orang lebih akrab dengan nama tersebut. Lahir dengan nama lengkap Ridho Agung Pangestu dan ditengah boomingnya nama Ridho Rhoma adalah sebuah kombinasi yang tidak tepat. Hal tersebut dibuktikan ketika aku masih SMP dan memiliki seorang wali kelas yang memiliki gaya bicara yang cukup pelan. Dan di pagi hari, tiap kali sang wali kelas mengabsen siswa maka aku yang sering menjadi bulan-bulanan.


“Ri …. Dhooo ….”


“Rhomaaa…” teriak seluruh teman sekelasku.


Sang Wali kelas yang tahu kalimatnya dipotong memutuskan untuk mengucapnya kembali. Namun bagiku itu malah semakin memperburuk semuanya. “Ri.. dhoo…”


“Rhomaaa..” Pekik seluruh kelas.


“Ridho….”


“Rhomaaaaa….” Teriak mereka saling bersahutan seperti Bekantan yang mau kawin.


Ingin sekali aku langsung berdiri dari kursi dan berteriak bak pujangga dangdut kesiangan, “Stop! Wahai engkauu para pemudhhaaa… singsingkan lengaaan bajuu.. jika ingin teruus majhhuuu….”


Sayangnya, hal tersebut hanya bisa berdiri sampai di imajinasi kepalaku saja. Karena yang bisa kulakukan hanyalah menutup muka sampai sesi pemanggilan absen tersebut berakhir.


Tentunya aku dan saudaraku sempat memprotes kenapa kefanatikan ayah terhadap seseorang harus dibebankan kepada kami. Membuat seluruh hidupku harus menanggung ledekan. Namun jawaban Ayah suatu hari lantas mengubah segalanya.


“Ayah kasih nama sama seperti itu sama kalian semua alasannya cuma satu. Agar di Surga nanti, Ayah tidak kesulitan mencari kalian.”


Entah kenapa, mendengarnya hatiku bergetar. Ternyata nama yang disematkan Ayah bukan hanya untuk menggambarkan keidolaanya terhadap seseorang namun untuk kami sekeluarga. Agar nantinya kami bisa menjadi keluarga yang sehidup sesurga